Penyandang Disabilitas di Boyolali Diberi Pelatihan Menjahit

Rabu, 10 Agustus 2022 13:14 Reporter : Arie Sunaryo
Penyandang Disabilitas di Boyolali Diberi Pelatihan Menjahit Penyandang disabilitas di Boyolali latihan menjahit. Istimewa

Merdeka.com - Sejumlah penyandang disabilitas di Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mendapat pelatihan menjahit. Sanggar pelatihan jahit bagi kelompok difabel tersebut merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina.

"Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang beroperasi di Kabupaten Boyolali, salah satunya fuel Terminal Boyolali, kami turut menjalankan program CSR untuk menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat di sekitar, khususnya kepada kelompok rentan yaitu penyandang disabilitas," kata Executive General Manager Pertamina Regional Jawa Bagian Tengah, Dwi Puja Ariestya, Rabu (10/8).

Berawal dari satu kelompok usaha batik Sriekandi Patra, lanjut dia, saat ini kelompok dan kegiatan usaha difabel telah berkembang dan mereplikasi ke dua kelompok baru. Di antaranya kegiatan produksi jahit oleh kelompok Kresna Patra dan kegiatan jasa antar tabung Bright Gas oleh Komunitas Difabel Ampel.

"Semula program kami hanya diikuti oleh 15 orang penyandang disabilitas, kini jumlahnya bertambah menjadi 130 orang yang tergabung ke dalam tiga kelompok usaha tersebut. Di luar kelompok tersebut, sedikitnya 350 penyandang disabilitas di Boyolali juga telah kami latih dan memiliki keterampilan menjahit, membatik, maupun antar tabung Bright Gas," tambahnya.

Ari menjelaskan, sebelumnya Pertamina juga telah mendirikan sanggar batik Sriekandi Patra yang berlokasi di Kecamatan Teras pada tahun 2019. Sanggar tersebut digunakan sebagai tempat pelatihan membatik bagi kelompok difabel.

"Kami berharap dengan adanya sanggar pelatihan jahit maupun pelatihan batik ini dapat membantu peningkatan kapasitas kelompok difabel sebagai upaya peningkatan taraf ekonomi melalui kegiatan usaha yang dijalankan," katanya.

Joko Wardono (31) salah satu peserta pelatihan mengaku senang bisa mengikuti pelatihan tersebut. Ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumya.

"Sebelumnya saya kerja di bangunan. Gajinya, pekerjaannya sama dengan buruh yang normal fisiknya," katanya.

Joko mengaku mengikuti kursus menjahit dari dasar hingga lulus selama 18 hari. Kamis besok ia sudah selesai mengikuti kursus dan siap bekerja di perusahaan konveksi.

"Saya sudah bisa bikin baju seperti yang dipakai teman-teman itu. Besok saya sudah boleh kerja di pabrik konveksi," tutupnya. [cob]

Baca juga:
Jokowi Tutup ASEAN Para Games XI: Keterbatasan dan Kesulitan Bukanlah Halangan
Indonesia Juara Umum ASEAN Paragames 2022
Punya Keterbatasan Fisik, Pria Ini Rutin Tutup Lubang Jalan & Dapat Upah Seadanya
Penyandang Disabilitas Ini Unjuk Kelihaian Main Gendang, Aksinya Curi Perhatian
Kemendagri Beberkan Kendala Pendataan Penyandang Disabilitas
Viral Penyandang Disabilitas Ditolak Naik KRL, KAI Commuter Minta Maaf

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini