Penjahit Difabel Berpacu dengan Waktu Produksi APD bagi Tenaga Medis Tangani Corona
Merdeka.com - Penyebaran virus Corona di Indonesia dihantui kekurangan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis yang menangani pasien. Di tengah kesulitan APD ini, sejumlah penjahit difabel yang tergabung di Koperasi Simpan Pinjam Bank Difabel Ngaglik berjibaku memproduksi baju pelindung bagi tenaga medis.
Sebanyak 800 baju pelindung berbahan spunbond yang biasa dipakai tenaga medis diproduksi oleh Koperasi Simpan Pinjam Bank Difabel Ngaglik. 10 Orang penjahit yang mayoritas adalah penyandang tunadaksa bahu membahu merampungkan baju pelindung yang dipesan oleh RS PKU Bantul, RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta dan RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Salah seorang penjahit, Iswarto mengatakan jika pesanan baju pelindung tersebut baru dua hari yang lalu masuk ke kelompoknya. Pihak RS yang memesan menargetkan baju pelindung tersebut harus rampung dalam jangka waktu dua minggu.
"Untuk pembuatan alat pelindung diri ini dari kemarin, dua hari kemarin. Karena memang kebutuhannya juga mendesak. Tapi, saya minta maksimal dua minggu. Biar kita enak, rumah sakit juga terpenuhi, maka kita nanti berapa pun yang hari itu jadi, langsung kita kirim. Jadi, biar bisa langsung digunakan, tidak harus menunggu jadi," ujar Iswanto, Kamis (26/3).
Iswanto menyebut untuk proses pembuatan 800 baju pelindung ini dibutuhkan 10 orang penjahit. Iswanto merinci para penjahit saat mengerjakannya tidak dilakukan di satu tempat. Iswanto mengaku sengaja memecah para penjahit agar tidak ada kerumunan dan tetap aman dari penyebaran virus Corona.
"Satu penjahit rata-rata dapat menyelesaikan tujuh sampai sepuluh potong per hari. Tergantung kecepatan masing-masing. Kita bagi tugas juga ada yang berbelanja, memotong, menjahit, sesuai keahlian supaya cepat," tutur Iswanto.
Iswanto menjabarkan proses penjahitan baju pelindung untuk tim medis ini secara garis besar pengerjaannya hampir mirip dengan menjahit baju biasa. Hanya saja dibutuhkan ketelitian tinggi karena bahan spunbond yang dipakai sangatlah tipis.
Iswanto menuturkan saat menjahit tak boleh salah karena sekali salah bahan tak lagi bisa dipakai. Selain itu, sambung Iswanto pengerjaan alat medis berupa baju pelindung itu menggunakan standar pengerjaan yang tinggi.
"Saat mengerjakan harus pakai masker. Penjahit juga tidak boleh berdekatan posisinya. Dipantau langsung oleh rumah sakit, standarnya seperti apa dan sebagainya, sesuai standar mereka," ucap Iswanto.
Iswanto menjabarkan di awal pembuatan baju medis ada fase trial dan error. Namun fase ini bisa dipersingkat karena untuk membuat pola jahitan, Iswanto sempat meminjam baju medis yang dipunyai oleh RS PKU Muhammadiyah.
Dari pinjaman baju medis itulah Iswanto membuat pola jahitan yang kemudian didistribusikan pada penjahit lainnya. Adanya pola baju medis yang dibuat Iswanto ini memudahkan penjahit lainnya dalam bekerja.
Sedangkan menurut Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah, Ahmad Maruf mengapresiasi para penjahit difabel yang menerima pesanan baju medis dari RS PKU Muhammadiyah tersebut. Disamping menunjukkan kepedulian bagi tim medis, proses pengerjaan baju pelindung tersebut juga membuka peluang pekerjaan di tengah dampak virus Corona di bidang ekonomi.
Ahmad menjabarkan jika APD yang dibuat oleh penjahit difabel ini tak dijualbelikan. APD yang dibuat disebut Ahmad nantinya akan dipakai untuk mencukupi kebutuhan baju pelindung tenaga medis di RS PKU Muhammadiyah.
"APD ini tidak dijual. Sebatas kerja sama jasa, karena bahan baku sudah disediakan (PKU Muhammadiyah). Per baju yang jahit dapat upah Rp25 ribu. Detailnya Rp24 ribu untuk biaya produksi dan Rp1.000 untuk koperasi," tutur Ahmad.
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya