Pengeroyokan Siswi SMP oleh Siswi SMA di Pontianak Dipicu Masalah Teman Pria

Rabu, 10 April 2019 07:52 Reporter : Lia Harahap
Pengeroyokan Siswi SMP oleh Siswi SMA di Pontianak Dipicu Masalah Teman Pria Ilustrasi kekerasan pada anak. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Seorang siswi SMP, ABZ (15) di Pontianak dikeroyok sejumlah siswi SMA negeri dan swasta di kota tersebut. Peristiwa itu membuat ABZ mengalami sejumlah luka dan beberapa kali muntah hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Pihak Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) menerima laporan kasus tersebut dari pihak keluarga pada tanggal 5 April lalu. Hasil pendampingan awal, pengeroyokan itu terjadi karena teman pria.

"Pemicunya karena teman pria. Jadi si cowok ini ada berhubungan dengan P, sepupu korban bermasalah D salah satu pelaku. Mantan pacar si P sekarang berhubungan dengan D. Tapi si pria itu masih berteman juga dengan di P. Lalu saling berkomentarlah," kata Ketua KPPAD Kalbar Eka Nurhaya, saat dihubungi merdeka.com, Rabu (10/4).

"Nah korban ini sering ikut berkomentar juga, hal itulah yang membuat pelaku emosi sehingga timbulkan niatan berbuat tindakan itu," sambungnya.

Kemudian pada tanggal 29 Maret itu, korban dan sepupunya yang berada di rumah dijemput salah satu pelaku. Pelaku mengaku ingin membicarakan sesuatu.

"Sampai di salah satu tempat yang sepi ternyata teman-teman pelaku sudah menunggu. Di tempat pertama korban katanya dipukuli, ditampar, ditendang, kepalanya dibenturkan ke aspal. Kemudian dibawa lagi ke tempat kedua, yang sudah ada teman-teman pelaku juga menunggu. Kemudian dipukul lagi dan setelah itu ditinggal," jelasnya.

Saat itu, P sepupu korban yang juga berada di lokasi tidak bisa berbuat banyak. Sebab kedua tangannya dipegangi geng pelaku agar tidak membela korban. P juga tidak menjadi sasaran kekerasan.

"Jadi pelakunya ada 12 orang, dua orang jadi provokator kisah awalnya, 3 orang pelaku utama yang memukul menganiaya, sisanya tim hore, ada juga jagain lokasi, ada yang nonton," katanya.

KPAD, kata Eka, memastikan saat ini fokus mendampingi korban dalam kasus ini. Sedangkan pengakuan pelaku belum didengar karena mereka masih mengikuti kegiatan UNBK.

"Langkah kami akan terus mendampingi korban sampai jalur terakhir, karena ini korban anak, untuk nanti masalah pelaku ada pendampingannya juga. Tapi kami prioritas korban, jadi akan ada ada trauma healing, hypnoprana juga dan akan lebih banyak untuk menghilangkan trauma," jelasnya.

Untuk diketahui, pada Selasa (9/4) siang kemarin kasus ini sudah dilaporkan pihak keluarga dengan Laporan Polisi (LP) bernomor LP/662/IV/RES.1.18/2019/KALBAR/RESTA PTK.

Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Husni Ramli, saat dikonfirmasi merdeka.com mengatakan peristiwa itu terjadi pada Jumat (29/3) sekira pukul 14.30 WIB.

"Ada sejumlah remaja perempuan yang sudah menunggu. Seorang di antaranya langsung menyiramkan air ke korban, dan menarik rambut, lalu kemudian menendang korban," ujar Husni.

"Meski korban terjatuh, namun terduga pelaku menginjak perut korban, dan membenturkan kepala korban ke jalan yang ada bebatuannya. Korban dan sepupunya, sempat lari," tambah Husni.

Meski coba kabur, korban pun dikejar pelaku. Saat korban turun dari motor, korban kemudian diperlihatkan isi chat dari aplikasi pesan instan. "Tapi korban terus dianiaya, hingga ada warga melintas, pelaku kabur," terang Husni. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini