Pengamat Nilai Indikator Kota Ramah Anak Tak Hanya Soal Pembangunan Infrastruktur
Merdeka.com - Pakar Tata Kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna menilai pembangunan kota ramah anak bukan hanya seputar infrastruktur, melainkan juga manusia. Dia mengatakan, pembangunan manusia tersebut dapat dilakukan dengan penanaman nilai kepada anak-anak dan masyarakat.
"Esensi utama sebetulnya ketika kita ingin membangun kota itu bukan pada persoalan berapa banyak infrastruktur yang lengkap, gedung yang tinggi, fasilitas. Tapi sebetulnya yang kita ingin bangun itu adalah pembangunan manusianya. Jadi bagaimana tumbuh kembangnya anak itu bisa memiliki nilai-nilai yang diinternalisasikan dengan segala bentuk program yang diwacanakan di dalamnya," ujar Yayat dalam diskusi virtual disiarkan langsung KemenPPPA, Selasa (13/10).
Yayat menyinggung terkait implikasi pencapaian seputar Kota Layak Anak (KLA). Menurut dia, sebagian orang berpikir membangun taman atau infrastruktur dapat menyelesaikan masalah terkait KLA.
"Membuat taman di mana-mana, tapi pertanyaannya Apakah taman-taman tersebut dimanfaatkan? Apakah taman-taman itu ada yang mengelola? Apakah taman-taman itu ada dipelihara?”
“Kadang-kadang target kita sederhana, buat taman saja. Seakan-akan kita sudah menyelesaikan masalah. Belum. Ada unsur-unsur yang perlu kita lengkapi di dalamnya," imbuh dia.
Yayat memberikan contoh penanaman nilai ditanamkan melalui infrastruktur-infrastruktur yang sudah dibangun. Ia mengambil contoh penyediaan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) sebagai tempat bermain anak.
“Misalnya selama ini kita punya RPTRA yang sudah dibangun. Pertanyaannya, bagaimana anak-anak bermain di dalam itu itu harus ada aturan. Untuk apa? Penanaman nilai. Di situlah budaya ditanamkan," ujar dia.
Selain penanaman nilai pada anak, Yayat juga mengatakan bahwa pembentukan perilaku masyarakat terhadap anak juga merupakan salah satu aspek penting dalam hal pembangunan kota yang ramah anak. Yayat juga membahas mengenai kultur baru yang bisa membangun kota ramah anak, yaitu kota yang welas asih dan peduli pada anak.
“Nah, kita perlu kultur baru untuk membangun kota yang welas asih. Namanya compassionate cities. Kota ini membangun kesadaran, apakah hati kita tergetar (atau) tidak ketika misalnya melihat anak yang mengemis di lampu merah? Kita tergetar (atau) tidak ketika melihat anak-anak harus berjualan, meninggalkan sekolah. Jadi kalau warga kota sampai tidak tergetar hatinya melihat anak-anak yang terlantar, tidak sekolah, anak-anak yang tawuran, anak-anak yang dieksploitasi, artinya kota itu masih sangat lemah dalam penanaman nilai welas asih, yaitu nilai kepedulian pada anak-anak itu sendiri," ujar dia.
Yayat juga sempat mengkritisi 24 indikator Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) dari Kemen PPPA yang dinilai terlalu banyak, sehingga untuk mencapai KLA dibutuhkan proses yang rumit dan panjang.
“Inilah menjadi PR bersama kita perlu tidak merubah aturan ketentuan tentang sebuah Kota Ramah Anak. kalau ini terlalu banyak, terlalu ribet, terlalu panjang, memakan cost yang sangat besar, maka mencapainya makin sulit. Maka indikator-indikatornya perlu kita evaluasi kembali mana yang paling mudah untuk menghilangkan persoalan," tandasnya.
Reporter Magang: Maria Brigitta Jennifer (mdk/gil)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya