Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pemprov Bali bentuk tim selidiki satu keluarga tewas tenggak racun

Pemprov Bali bentuk tim selidiki satu keluarga tewas tenggak racun Satu keluarga di Bali tewas minum racun. ©2017 merdeka.com/gede nadi jaya

Merdeka.com - Orang miskin tidak boleh sakit, kiasan itu seakan terus jadi momok bagi warga miskin dan menderita penyakit. Peristiwa satu keluarga tewas minum racun di Tejakula Buleleng buat semua publik di Bali tercengang.

Apalagi kabar yang berhembus, keluarga ini memgambil jalan pintas lantaran putus asa tidak punya biaya berobat. Belum lagi terlilit hutang selepas putranya harus rawat inap.

Satu keluarga ini adalah, Kadek Artaya (32) dan istrinya Kadek Suciani (27) serta kedua anak mereka masing-masing Putu Wahyu Adi Saputra (6/L) dan Kadek Dwi Cahya Putti (3/P).

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali Dewa Made Mahendra Putra menjelaskan, timnya akan turun ke Tejakula Buleleng bersama tim reaksi cepat. Menurutnya, sebenarnya tidak ada warga yang putus asa karena sakit dan tidak berobat.

"Memang sebelumnya Bali memiliki program kesehatan gratis dalam Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM). Namun karena amanat UU, maka sejak Januari 2017 lalu, diintegrasikan ke JKN. Tidak ada alasan bagi warga untuk tidak berobat dengan alasan apa pun," ujarnya.

Menurutnya, sekalipun sudah terintegrasi dengan JKN, Pemprov Bali masih tetap membayar iuran bagi warga yang bukan penerima bantuan iuran (PBI). Artinya, tidak ada warga Bali yang tercecer dalam penanganan kesehatan.

"Kita sudah bayar ke BPJS Rp 115 miliar. Jumlah ini diperuntukan bagi warga yang tidak masuk PBI, karena Pemprov Bali tetap menanggung warganya agar tercover JKN bagi yang bukan PBI," ujarnya.

Ia menjelaskan, kasus yang di Buleleng benar-benar mencoreng Bali karena ternyata masih ada warga Bali yang bunuh diri karena putus asa dengan penyakit menahun. Menurutnya, sosialisasi dengan warga selama ini sudah sangat maksimal. Beberapa di antaranya, melalui baliho, media cetak, online, radio, televisi dan petugas yang terjun ke lapangan.

"Kita merasa hal ini tidak masuk akal, kenapa ada warga yang belum terintegrasi JKN, tetapi aparatnya diam saja," pungkasnya.

Sebelumnya, satu keluarga di Desa Dinas Jero Kute, Bondalem, Kabupaten Buleleng, Bali. Kuat dugaan tewasnya pasutri bersama kedua anaknya yang masih balita itu setelah minum racun serangga.

Sayangnya pihak keluarga menolak permintaan polisi untuk dilakukan autopsi. Satu keluarga ini adalah Kadek Artaya (32/L), Kadek Suciani (27/P) dan kedua anak mereka masing-masing Putu Wahyu Adi Saputra (6/L) dan Kadek Dwi Cahya Putti (3/P).

Informasi yang didapat, pagi hari sekitar pukul 04.00 WITA seperti biasa Made Suardana (60) orang tua korban (Artaya) bangun hendak ke pasar. Saat itu, dia sempat melihat mereka masih tertidur dalam satu kamar.

Bahkan saat itu, saksi melihat lampu di kamar putranya itu masih menyala. Sekembalinya dari pasar kira-kira pukul 05.50 WITA seluruh lampu di dalam rumah menyala.

Saat saksi mengecek di kamar korban kosong. Kemudian saksi mencium bau gas, bergegas ia lari ke dapur namun tidak ada gas yang bocor.

Kemudian Suardana mengecek semua pintu kamar dan hanya kamar utara yang dalam keadaan terkunci dan tercium bau gas menyengat di kamar itu.

"Di rumah tiang (saya) ada tiga kamar. Awalnya anak tiang dan menantu serta cucu ada di kamar biasa. Mereka tiang lihat tidur sebelum saya ke pasar," terang Suardana di hadapan Polisi, Kamis (23/2).

Lantaran merasa curiga, dirinya mendobrak pintu kamar dan didapati semuanya tidur menumpuk berpelukan dalam satu tempat tidur.

"Awal tiang tidak curiga. Saat tiang bangunkan, ada keluar busa dari mulut anak dan cucu tiang," kenangnya sambil mengusap air mata.

Saat itu juga dirinya berteriak minta bantu keluarga yang tinggal di sebelah rumah. Sementara keluarga mencari pertolongan, dirinya mencari kelapa untuk diminumkan.

Saat itu ke empat korban dalam keadaan lemas dan oleh warga di larikan ke bidan yang ada di desa Pacung dan selanjutnya di bawa ke Puskesmas di desa Tejakula. Namun belum sempat dapat penanganan, satu keluarga ini sudah kejang dan tidak bernyawa lagi.

Kapolres Buleleng AKBP Made Sukawijaya, meyakinkan bahwa korban murni bunuh diri. Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan media dengan tidak ditemukannya tanda-tanda kekerasan.

Soal motif cara nekad itu dilakukan dan bagaimana proses melakukan, pihaknya mengaku belum mengetahui mengingat keluarga korban menolak untuk dilakukannya autopsi.

"Keluarga mengiklaskan dan menolak untuk di autopsi. Ini murni bunuh diri, dugaan sementara minum cairan racun pestisida merek Diazinon di campur minuman bersoda," beber Sukawijaya, Kamis (23/2).

Dari olah lokasi, polisi mengamankan 1 botol obat Pestisida merek Diazinon yang masih ada sisanya serta dua botol minuman sprite dan satu buah gelas kaca.

Pengakuan pihak keluarga, anak korban yang pertama baru opname di rumah sakit akibat batuk yang tak kunjung sembuh. Ditambah lagi, istri korban juga tertular batuk-batuk.

Informasinya untuk biaya rumah sakit, pihak keluarga terpaksa harus mencari utang. Lantaran sejak pergantian kartu jaminan kesehatan dari Provinsi JKBM menjadi JKN, korban tidak sempat mengurus. Hal ini menjadi dugaan keluarga ini akhirnya mengambil jalan pintas.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP