Pemerintah abai, UI gelar acara peringatan tragedi 65

Rabu, 30 September 2015 17:34 Reporter : Nur Fauziah
G30S PKI. wordpress.com

Merdeka.com - Selama 50 tahun, korban Tragedi 1965 tak jelas nasibnya. Dan hingga kini pemerintah belum bersikap tegas atas nasib mereka. Melihat kondisi itu, Universitas Indonesia melakukan inisiasi untuk memperjuangkan nasib mereka dengan menggelar rangkaian acara peringatan Tragedi 65.

Peneliti Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Saras Dewi mengatakan, negara harus mengusut Tragedi 65 sehingga terungkap kebenaran terjadi sebenarnya di masa itu. Selama ini, mungkin tidak banyak yang tahu mengenai sejarah peristiwa kelam itu.

"Kita ingin negara mengusut kasus genosida ini. Karena selama ini kita mungkin tidak tahu apa sih yang sebenarnya terjadi 50 tahun lalu," kata Saras Dewi, Rabu (30/9/2015).

Dikatakan, UI juga harus mengambil peran dalam memperjuangkan nasib mereka juga diperlukan. "Caranya ya dengan diskusi semacam ini yang mungkin kalau dilakukan di luaran menjadi hal yang tabu. Kita selain memberikan aspek teoritis tapi juga keberpihakan pada mereka. Kita ingin bisa bersentuhan untuk persoalan sosial dan yang bersinggungan dengan peristiwa," katanya.

Rangkaian peringatan Tragedi 65 digelar selama tiga hari. Acara yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (BEM FIB UI) ini bekerja sama dengan sejumlah departemen dan program studi menggelar rangkaian acara seminar dan pemutaran film. Acara digelar selama tiga hari mulai 30 September hingga 2 Oktober 2015.

Pada 1 Oktober akan digelar diskusi dengan tema 50 Tahun Hantu Komunisme yang membahas soal pemahaman mengenai komunisme. Hadir dalam diskusi itu Muhammad Iskandar (dosen sejarah UI), Saleh Asrojamhari (sejarawan militer UI), Berto Tukan (perwakilan redaktur Indo Progres) dan Perdana Putri (perwakilan alumni).

Pada 2 Oktober akan dipaparkan serangkaian kesaksian korban pembantaian. Acara ini akan digelar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI. Yang menarik dalam rangkaian acara ini adalah pengungkapan tentang fakta sejarah yang selama ini tidak diungkap. Dan momentum September Hitam ini menjadi sangat penting untuk menunjukkan bagaimana UI memposisikan diri dalam melihat kejadian masa lalu secara kritis.

"Kita ingin memberanikan diri dalam membantu pengungkapan peristiwa itu. Dengan diskusi semacam ini membuka ruang bagi para korban untuk bisa bicara dengan mengungkapkan kesaksiannya," kata Saras. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. PKI
  2. Depok
  3. Komunisme
  4. G30S
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.