Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pemerhati: Budaya Baca Masyarakat Harus Ditingkatkan Tangkal Hoaks

Pemerhati: Budaya Baca Masyarakat Harus Ditingkatkan Tangkal Hoaks Ilustrasi Hoaks. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Dr. Firman Kurniawan S, menyampaikan budaya membaca masyarakat harus ditingkatkan untuk menangkal hoaks.

"Penting meningkatkan budaya membaca masyarakat kita agar tidak menelan begitu saja informasi-informasi yang dangkal sehingga hoaks bisa diatasi," ujar Firman Kurniawan S di Jakarta, Minggu (10/10).

Ia menambahkan, literasi digital di masyarakat juga harus dibangkitkan agar tidak tertinggal dengan perkembangan teknologi.

Menurutnya, saat ini banyak beredar informasi-informasi hoaks yang memanfaatkan keuntungan, informasi sebagai social currency atau mata uang sosial, termasuk kabar soal susu kental manis tidak boleh diseduh dengan air panas.

Dengan pendekatan ini, lanjut dia, para penyebar informasi hoaks itu bisa mendapatkan kenaikan status sosial kalau informasinya dianggap penting oleh orang lain. Seseorang dianggap sebagai penyelamat oleh penerima informasi.

"Dengan menyebar luaskan isu bahwa susu kental manis tidak boleh diseduh dengan air panas dan sebagainya, mungkin ada orang lain yang merasa mendapatkan manfaat meskipun informasi ini keliru, sesat dan bagi orang-orang yang tidak mengkaji lebih dalam ini merupakan hal yang penting sehingga yang menyebarkan informasi juga menjadi penting," ujar Pengajar Ilmu Komunikasi yang juga mengajar di Unika Atma Jaya dan Universitas Paramadina itu.

Pelatihan Identifikasi Berita Hoaks

Mahasiswa Vokasi Universitas Indonesia (UI) dan SMAN 21 Jakarta diajarkan cara mengidentifikasi berita hoaks. Pelatihan ini diikuti oleh 500 orang mahasiswa dan murid SMAN 21 Jakarta. Pelatihan digelar, berlangsung secara online melalui Zoom dan Youtube, Minggu (10/10/2021).

“Kegiatan ini semakin dibutuhkan semenjak pandemi, karena masyarakat harus hidup di 'dua alam', yaitu offline dan online," kata Dosen Pengabdi dari Vokasi Humas UI, Devie Rahmawati.

Devie membeberkan data Kominfo jumlah hoaks yang tersebar periode Agustus 2018 hingga 30 September 2021.

Devie menyebut, terdapat 9.025 hoaks, di mana yang tertinggi ialah hoaks kategori Kesehatan sebanyak 1893; pemerintahan sebanyak 1176; disusul politik sebanyak 1265 isu.

Temuan isu seputar Covid sendiri sejak Januari hingga 4 Oktober 2021 terdapat 1.929 isu, di mana Facebook menjadi media sosial tertinggi penyebaran hoaks, diikuti oleh Instagram dan Twitter.

Davie mengatakan penyebaran hoaks tidak dapat diabaikan, mengingat sedikitnya ada tiga dampak dari hoaks yaitu Kerusuhan Sosial, Konflik Politik dan Kerugian Ekonomi. Dia pun memberikan sejumlah contoh kasus hoaks.

"Sebagai contoh, kejadian penyerangan di Yahukimo, Papua belakangan ini, disebabkan hoaks di Jakarta; Pada tahun 2019, hoaks politik telah menewaskan 8 orang meninggal dalam kerusuhan 22 Mei, yang melibatkan lebih dari 400 pelaku kerusuhan; sedangkan hoaks perekonomian, yaitu investasi bodong yang disebarkan via online, menurut data OJK terbukti telah merugikan keuangan masyarakat lebih dari Rp.100 Triliun, dalam periode tahun 2011 – 2020,” kata ujar dia.

Sementara itu, Pengabdi dari Vokasi Administrasi Perkantoran Vokasi UI, Mila Viendyasari mengatakan sangat penting melatih anak muda mengidentifikasi berita hoaks. Sebab, anak muda memiliki kemampuan digital yang luas.

“Di sinilah kami menilai diperlukan kemampuan masyarakat untuk dapat mengidentifikasi informasi yang diterima apakah dapat dipertanggungjawabkan atau hoaks. Anak-anak muda, menjadi sasaran yang strategis, karena mereka memiliki kemampuan digital yang terkini, sehingga akan lebih mudah untuk mentransfer tambahan ilmu mengenai cek fakta dan berita,” ujar Mila.

Sumber: Liputan6.comReporter: Ady Anugrahadi

(mdk/ded)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP