Pakar politik Haryadi nilai Gus Ipul figur yang sangat kuat

Sabtu, 13 Januari 2018 14:02 Reporter : Bruriy Susanto
Gus Ipul. ©2017 Merdeka.com/moch andriansyah

Merdeka.com - Pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Haryadi mencatat dalam dinamika pemilihan umum gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018 ini banyak diwarnai hentakan politik yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Selain itu, tidak ada pula rujukan bandingan pilgub di tempat lainnya yang ada di Indonesia. Haryadi menilai figur calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yang akrab dipanggil Gus Ipul ini sangat kuat.

"Gus Ipul yang menjabat sebagai wagub dua periode mendampingi Pakde Karwo terkesan kuat dan akan mendapat tongkat estafet berupa dukungan maju dalam kontestasi oleh Pakde Karwo. Ini konon pernah diutarakan Pakde secara langsung kepada Gus Ipul maupun kepada para kiai khos di Jatim," kata Hariyadi, dalam keterangan pers, Jumat (12/1) malam kemarin.

Menurut dia, beberapa kali Pakde Karwo berupaya menarik Gus Ipul agar masuk ke dalam Partai Demokrat. Tapi selalu ditolak oleh Gus Ipul, karena merasa tetap nyaman sebagai representasi NU.

Bahkan sejak awal bergandengan, posisi Gus Ipul adalah representasi NU. Selain itu, Gus Ipul bersama Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siraj menjadi inisiator yang berperan utama dalam meyakinkan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla untuk menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

Dari serangkaian kegiatan seminar dan sekumpulan karya tulis dirancang oleh Gus Ipul hingga sampai pada kesimpulan bahwa hari lahir Pancasila adalah mengacu saat pertama kali istilah Pancasila dicetuskan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945.

"Proses inilah yang menyambung batin kembali, antara Gus Ipul dengan Bu Mega (Ketua Umum PDI Perjuangan). Tak banyak yang tahu bahwa Gus Ipul adalah anak angkat Bu Mega yang dititipkan secara khusus oleh Gus Dur. Lebih tak banyak lagi yang tahu bahwa Bu Mega lah yang membiayai pernikahan Gus Ipul dengan mbak Fatma. Jadi, hubungan Gus Ipul dengan Bu Mega sudah terangkai secara batin sejak 22 tahun lalu," ujar Hariyadi

Gus Ipul pernah mendapat pengasuhan politik di PDI Perjuangan. Gus Ipul juga pernah keluar dari PDI Perjuangan untuk menemani Gus Dur kala itu. Gus Ipul keluar dari PDI Perjuangan saat itu dilakukan secara gentleman, yaitu lewat forum rapat internal partai.

"Ibarat pepatah, datang tampak muka dan pergi tampak punggung. Sikap Gus Ipul ini ternyata menjadi 'best-practice', dan selalu dikenang positif oleh PDI Perjuangan. Bukan hal aneh dan bukan hal rumit ketika akhirnya Gus Ipul mendapat semacam garansi bakal direkom PDI Perjuangan menjadi calon gubernur Jatim," tuturnya.

Bagi orang lain yang tak paham hubungan sejarah Gus Ipul dengan Mega, lanjut dia, pasti awalnya tak percaya kalau Gus Ipul akan mampu dapat rekom sebagai Cagub Jatim dari PDI Perjuangan.

"Bahkan, Pakde Karwo pun tak pernah percaya kalau Gus Ipul akan bisa mendapat rekom dari PDI Perjuangan. Secara simultan, komunikasi dan hubungan dengan partai-partai di luar PDI Perjuangan pun dijalankan oleh Gus Ipul," katanya.

Begitu juga dengan ormas-ormas keagamaan yang beragam, Gus Ipul dinilai juga bisa menjalin komunikasi. Yang paling utama kepada para kiai khos, kiai struktural dan kiai kultural, Gus Ipul amat rajin menyapa dan merengkuhnya.

"Pada level akar rumput, nyaris semua segmen publik dihampiri oleh Gus Ipul. Tak terkecuali 'arek-arek zaman now' juga difasilitasi pengembangan pengorganisasiannya mengacu variasi hobi mereka. Adalah momentum pilgub DKI 2017 yang menginspirasi dukungan PKB pada Gus Ipul sebagai Calon Gubernur Jatim," ujar Hariyadi.

Gus Ipul terlibat memfasilitasi pertemuan antara PKB dengan PDI Perjuangan. Pembicaraan tak semata perihal Pilgub DKI 2017, tapi juga Pilkada, khususnya pilgub Jatim 2018 dan 2019.

"Komitmen politik tak tertulis antara PKB dan PDI Perjuangan untuk mengusung Gus Ipul di pilgub Jatim pun disepakati sejak itu," katanya. [hhw]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini