Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pakar ITB: Manajemen Risiko Bencana Pesisir Belum Optimal Dilakukan Jakarta & Jateng

Pakar ITB: Manajemen Risiko Bencana Pesisir Belum Optimal Dilakukan Jakarta & Jateng Jalan Abrasi di Karawang. ©2021 Merdeka.com/bram salam

Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menegaskan perubahan iklim dampaknya dirasakan oleh berbagai belahan dunia. Kota-kota lain di dunia mengalami hal yang sama. Kota-kota pesisir dunia juga tak luput dari kenaikan muka air laut dan penurunan permukaan tanah.

Ia menunjukan dalam beberapa tahun terakhir mulai dari 2007 hingga 2018, Jakarta Utara sudah mengalami perlambatan laju penurunan muka tanah signifikan. Hal ini merupakan efek dari kebijakan mengurangi ekstraksi air tanah di Jakarta.

“Tahun 2007 yang memproyeksikan Jakarta Utara penurunan muka tanahnya sangat cepat sampai dua puluh dua milimeter pertahun, ternyata berhasil dikurangi menjadi dua milimeter per tahun lewat stasiun pengurukan land subsidence” katanya dalam webinar yang dikutip melalui channel YouTube Ikatan Institut Teknologi Bandung, Selasa (10/8).

Lebih lanjut, Anies menjelaskan, Jakarta berada di jalur yang tepat dalam menangani penurunan tanah di DKI Jakarta.

Namun, Kepala Laboratorium Geodesi ITB, Hari Andreas meminta Anies tidak senang dulu. Dia mengungkapkan, upaya yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta tersebut sudah bagus, tetapi belum optimal.

Menurutnya manajemen risiko bencana harus lebih diperhatikan dengan baik. Mulai dari bencananya, manajemen risiko bencana, monitoring, diagnosa penyebab dan pemetaan risiko, mitigasi dan adaptasi.

“Upaya manajemen resikonya masih ada yang missed, baik di Jakarta maupun Jawa Tengah. Kita di sini belum memahami benar-benar apa sih penyakitnya,” terangnya.

Ada upaya yang sudah teruji dapat mengurangi penurunan air tanah seperti pembuatan tanggul, mencari air baku yang dapat menggantikan air tanah, mengubah infrastruktur yang mengganti air baku menjadi air tanah, artificial recharge, hingga mengurangi atau menghentikan pengambilan air tanah.

“Nah ini saya lihat pendekatan manajemen resiko bencana pesisir yang lebih komprehensif ini belum dilakukan secara optimal di Jakarta dan Jawa Tengah” tutup Hari.

Reporter Magang: Leony Darmawan

(mdk/fik)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP