Orang tua aktivis 1998 berkisah jelang pemutaran Film Wiji Thukul
Merdeka.com - Film Wiji Thukul: Istirahatlah Kata Kata akan segera diputar serentak di sejumlah bioskop di Indonesia, Kamis (19/1) besok. Momentum pemutaran film yang disutradarai Yosep Anggi Noen ini dimanfaatkan Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya dan Ikohi (Ikatan Orang Hilang) Jawa Timur untuk menggelar diskusi.
Acara digeber di Kantor KontraS Surabaya, Jalan Lesti 45, Rabu (18/1). Hadir dalam diskusi itu, Dionysius Oetomo Rahardjo, ayah kandung Bimo Petrus, aktivis yang juga hilang misterius.
Bimo dikabarkan hilang pada bulan Maret 1998 atau sebelum kerusuhan Mei pecah. Selain Bimo, masih ada 13 aktivis lainnya, termasuk Wiji Thukul asal Jawa Tengah yang juga dikabarkan hilang misterius.
Semasa aktif di pergerakan, Bimo tercatat sebagai mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya angkatan 1990. Sebagai mahasiswa jurusan komunikasi, Bimo ikut aktif di Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan PRD (Partai Rakyat Demokrat).
Sebelum hilang, Bimo diketahui pindah ke Jakarta dan melanjutkan kuliahnya di STF Driyakara. "Entah siapa yang lebih dulu ketemu, Bimo dulu atau saya dulu yang mati, yang penting saya akan terus berusaha," kata Oetomo membuka diskusinya.
Pria 71 tahun ini mengaku, akan terus melakukan pencarian putranya itu. "Kalau masih hidup, di mana anak saya? Tapi kalau sudah mati di mana makamnya? Saya akan terus mencari, dan akan terus berusaha," ucap warga Kota Malang ini.
Bahkan, saking ingin tahunya keberadaan sang anak, pensiunan pegawai rumah sakit jiwa di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang ini mengaku tak pernah absen mengikuti forum terkait orang hilang yang digelar LSM, baik di Surabaya maupun di Jakarta.
Menurut Oetomo, hukum harus ditegakkan. Siapa pun yang terlibat kasus penghilangan aktivis di masa rezim Soekarto itu harus ditindak.
Sayang, kata Oetomo, hukum masih tumpul ke bawah. Sejumlah nama yang diduga terlibat penculikan para aktivis belum tersentuh hukum. "Seperti Hendro Priyono dan Sutiyoso. Sampai saat ini, mereka masih bercokol," sesalnya.
Di acara yang sama, Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir mengatakan, belum ditemukannya para aktivis 98 yang hilang hingga saat ini, membuktikan kegagalan pemerintah di era reformasi, tak terkecuali Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Fatkhul menilai, Jokowi yang selalu menggembar-gemborkan Program Nawacita, juga gagal menyelesaikan masalah pelanggaran HAM di masa lalu.
"Hingga saat ini, pemerintah gagal menyelesaikan masalah pelanggaran HAM. Buktinya, mereka gagal mengembalikan Wiji Thukul kepada keluarganya," tegas Fatkhul.
Sekadar tahu, Film Istirahatlah Kata Kata yang akan diputar serentak pada 19 Januari besok, mengisahkan perjalanan Wiji Thukul yang dituduh berada di balik kerusuhan 27 Juli 1996 atau dikenal dengan Kasus Kuda Tuli, yang pecah di Jakarta.
Sejak saat itu, budayawan dan aktivis ini melarikan diri ke Pontianak selama delapan bulan. Dalam pelariannya, dengan menggunakan nama lain, Wiji Thukul tetap menulis puisi dan cerita pendek.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya