Numpang kencing di warkop, warga temukan 2 orang utan mengenaskan
Merdeka.com - Warga Buntok, Kabupaten Barito Selatan ketahuan memelihara dua orang utan. Terbongkarnya perbuatan ilegal ini saat salah satu warga hendak buang air kecil. Akhirnya orang utan berjenis kelamin jantan dan betina ini disita petugas BKSDA Kalimantan Tengah, Jumat (17/2).
BKSDA kemudian menyerahkan kedua orang utan kepada Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Nyaru Menteng, Palangkaraya, Sabtu (18/2) sekira pukul 10.00 WIB.
Awal cerita hingga kedua orang utan itu berhasil disita petugas BKSDA cukup menarik. Tanggal 15 Februari 2017, warga setempat sedang melakukan pemungutan suara Pilkada Barito Selatan. Seorang warga, tengah menunggu giliran masuk ke bilik suara. Sambil menunggu, warga tersebut sedang ngopi di sebuah warung kopi, tidak jauh dari tempat pemungutan suara (TPS).
"Saat sedang antre, warga itu bermaksud untuk buang air kecil, dan menumpang kamar kecil milik pemilik warung. Ketika ke bagian belakang rumah warung menuju ke kamar kecil, melihat ada 2 orang utan dalam dua kandang. Kondisinya memprihatinkan waktu itu," kata Koordinator Komunikasi dan Edukasi Yayasan BOS Nyaru Menteng, Monterado Fridman saat berbincang bersama merdeka.com, Minggu (19/2).
"Warga itu, sempat mengambil gambar kandang dan orang utan di dalamnya. Kondisinya kurus, kusam, seperti kehausan. Fotonya dia kirim, dan diterima teman-teman yayasan BOS," ujar Fridman.
BOS Nyaru Menteng bergerak cepat. Setelah memastikan bahwa menang benar ada kandang berisi dua bayi orang utan itu dipelihara warga, akhirnya informasi diteruskan ke BKSDA Kalteng.
Meski begitu di lokasi, upaya penyitaan berlangsung alot lantaran pemelihara orang utan itu adalah tokoh masyarakat setempat, akhirnya petugas bisa menyitanya, sebagaimana amanat Undang-undang No 05/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.
"Dan pada Sabtu kemarin, jam 10 pagi, dilakukan serah terima orang utan itu ke BOS," terang Fridman.
Tim medis yayasan BOS melakukan observasi di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng. Salah satunya bayi betina begitu jinak meski terdapat luka tembak di kaki. Sementara bayi satu lagi, jantan, terlihat sangat liar.
"Kalau yang betina, itu seperti sudah lama dipelihara karena jinak. Tapi marah kalau disentuh kakinya. Sedangkan yang jantan, masih sangat liar, kita duga baru beberapa bulan dipelihara warga," ungkap Fridman.
"Kedua bayi itu berusia di bawah 3 tahun. Kami di BOS, masih lakukan observasi, kita cek lebih jauh apakah ada kemungkinan peluru lain yang bersarang pada bayi betina, dan apakah ada peluru bersarang di jantan sehingga sangat liar," jelasnya.
Kejadian individu orang utan di Kapuas, Kalteng, yang dibunuh dan dimakan oleh pekerja kebun sawit belum lama ini, memang membuat warga begitu peka dan proaktif melihat keberadaan orang utan di sekitarnya.
"Yang kami heran, justru dua orang utan dari Buntok ini, justru dipelihara tokoh masyarakat, yang sebenarnya lebih berpendidikan dari pada masyarakat kampung pada umumnya. Padahal, memelihara orang utan itu sangat dilarang Undang-undang," demikian Friman.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya