Miris, Pria di Maros Ngaku Dikeroyok dan Diseret Sejauh 10 Meter saat Malam Tahun Baru Pelaku Diduga Polisi

Sebagai akibat dari kejadian tersebut, sejumlah anggota keluarga Akbar mendatangi Mapolres Maros untuk meminta pertanggungjawaban.

Fauzan
Oleh Fauzan - Reporter
Miris, Pria di Maros Ngaku Dikeroyok dan Diseret Sejauh 10 Meter saat Malam Tahun Baru Pelaku Diduga Polisi
Pria di Maros Korban Pengeroyokan Diduga Polisi (Foto: Fauzan/Liputan6.com) (© 2026 Liputan6.com)

Pria bernama Akbar babak belur. Ia dikeroyok diduga oleh beberapa anggota polisi di Pantai Tak Berombak (PTB), Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada malam perayaan tahun baru 2025. Saat ini, pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan terkait insiden tersebut.

Akbar menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula ketika ia menyalakan petasan jenis lampu disko di sekitar kawasan PTB. Sebelum menyalakan petasan, ia memastikan bahwa kondisi di sekitarnya aman dan warga yang ada di lokasi telah menjauh.

"Saya lihat dulu situasi aman atau tidak. Setelah saya pastikan aman, baru saya nyalakan petasan. Warga juga sudah menjauh," kata Akbar dalam wawancaranya dengan Liputan6.com pada Jumat (2/1).

Ngaku Dihampiri Sekelompok Pria

Setelah petasan dinyalakan, seorang pria yang mengaku sebagai polisi mendekati lokasi. Namun, pria itu tidak memakai seragam dinas dan langsung berteriak menanyakan siapa yang menyalakan petasan. "Saya langsung jawab kalau itu saya," ungkap Akbar. Menurutnya, sempat terjadi ketegangan antara dirinya dan pria yang mengaku polisi tersebut. Seorang warga yang berada di tempat kejadian berusaha melerai agar tidak terjadi keributan, dan pria itu akhirnya meninggalkan lokasi.

Tidak lama setelah itu, pria yang sama kembali datang seorang diri dan meminta agar masalah ini diselesaikan dengan cara baik. Namun, situasi kembali memanas dan terjadi adu mulut hingga warga kembali melerai. Polisi tersebut kemudian pergi lagi. Beberapa menit kemudian, keadaan berubah drastis.

Pria itu datang lagi, kali ini bersama beberapa rekannya. Tanpa banyak bicara, salah satu anggota polisi langsung memegang leher Akbar dan menyeretnya sejauh sekitar 10 meter. Akbar juga dipukul dari belakang oleh beberapa anggota polisi hingga terjatuh. "Saya langsung dipukul ramai-ramai dari belakang. Ada lebih dari 10 polisi waktu itu, tapi yang memukul saya kira-kira tujuh orang," jelasnya.

Kekerasan di Polres Maros Terus Berlanjut

Akbar kemudian dibawa ke pos pengamanan yang terletak di sekitar kawasan PTB pada malam tahun baru. Di tempat tersebut, ia mengaku diminta untuk jongkok sebelum akhirnya dibawa menggunakan sepeda motor menuju Polres Maros. Setibanya di Polres Maros, Akbar mengaku kembali mengalami kekerasan.

Saat ia dimasukkan ke dalam sebuah ruangan, ia melihat beberapa anggota polisi sedang mengonsumsi minuman keras. "Begitu masuk ruangan, saya lihat ada polisi minum bir. Tanpa bicara, saya langsung dipukul lagi sampai babak belur," katanya.

Akbar juga mengungkapkan bahwa ia sempat ditawari minuman keras oleh salah satu anggota polisi, namun ia menolak tawaran tersebut. Ia kemudian dituduh melempar petasan ke arah petugas dan berusaha memukul polisi, tuduhan yang dibantahnya.

"Mereka bilang saya mau mengeroyok polisi. Padahal saya sendirian di situ, tidak ada teman saya sama sekali," tegas Akbar. Ia juga mengaku dipaksa untuk menandatangani sebuah surat pernyataan tanpa mengetahui isi dokumen tersebut. Selama proses penandatanganan, Akbar mengklaim ia masih mendapatkan perlakuan kekerasan. "Setelah saya tanda tangan, baru saya dibilang boleh pulang," ujarnya.

Merasa menjadi korban kekerasan, Akbar bersama keluarganya telah melaporkan kejadian tersebut kepada Propam Polda Sulawesi Selatan agar ditindaklanjuti secara hukum. Ia berharap mendapatkan keadilan atas peristiwa yang dialaminya. "Saya sudah melapor. Saya juga sudah visum," akunya.

Penjelasan Polisi

Kapolres Maros, AKBP Douglas Mahendrajaya, mengonfirmasi bahwa telah terjadi sebuah peristiwa yang sedang diselidiki. Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian saat ini masih dalam tahap penyelidikan terkait insiden tersebut. "Iya, sementara dalam penyelidikan," ujar Douglas saat dihubungi terpisah.

Ia juga menekankan bahwa akan ada tindakan tegas terhadap anggota kepolisian yang terbukti melakukan pelanggaran. "Kami akan mengungkap kasus ini dan memberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku," tegasnya.

Menurut informasi yang diterima oleh Liputan6.com, puluhan anggota keluarga Akbar telah mendatangi Mapolres Maros untuk menuntut pertanggungjawaban terkait insiden yang dialami oleh Akbar pada Kamis (1/1/). Aksi demonstrasi dari keluarga tersebut sempat terekam dalam video dan menjadi viral di media sosial.

Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya transparansi dalam penanganan kasus oleh pihak kepolisian, serta bagaimana masyarakat menuntut keadilan untuk anggota keluarga mereka yang menjadi korban. Situasi ini mencerminkan hubungan antara masyarakat dan aparat penegak hukum yang perlu diperkuat agar kepercayaan publik dapat terjaga.

Rekomendasi