Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mimpi Bima Arya jadikan Kota Bogor bak Kota Liverpool

Mimpi Bima Arya jadikan Kota Bogor bak Kota Liverpool Bima Arya. ©istimewa

Merdeka.com - Kota Bogor dikenal sebagai kawasan dengan lalu lintas macet akibat banyaknya angkutan umum. Ditambah lagi, ruas jalan tak pernah bertambah.

Buruknya penataan Kota Bogor diperparah dengan kondisi pedestrian. Menghadapi kondisi demikian, Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, sesumbar mengubah wajah Kota Bogor seperti Kota Liverpool, Inggris.

"Di sana, jalan-jalan memiliki pedestrian yang lebarnya berkisar 8-10 meter, sementara lebar jalan raya hanya 3 meter," ungkap Bima. Hal itu dia sampaikan saat bertemu manajemen gedung perkantoran dan pusat bisnis sekitar Kebun Raya dan Istana Bogor, Jumat (4/11).

Rencananya kawasan itu bakal dijadikan kantung-kantung parkir sebagai upaya mengatasi kemacetan di jalur sistem satu arus (SSA) akibat maraknya parkir liar.

Dalam kesempatan yang sama, dia juga menjawab berbagai kritik terkait kebijakan sistem satu arah yang diterapkan sejak awal tahun ini. Termasuk survei aplikasi Waze yang menyebut Bogor sebagai kota yang memiliki lalu lintas buru.

"Dengan strategi ini, warga dipaksa menggunakan transportasi publik karena jika tidak akan menimbulkan kemacetan yang semakin parah. Baik warga Kota Bogor maupun luar Kota Bogor dipaksa menggunakan transportasi publik, itu kuncinya," dalih Bima.

Dia menyadari pada dasarnya kebijakan ini tak bisa berjalan dengan baik jika tidak didukung moda yang memadai. "Angkot terus kita proses untuk bergeser terkonversi menjadi trans pakuan. Nantinya di tengah kota tidak ada angkot lagi, cukup di-feeder saja. Ini memang bukan perjuangan yang mudah," ungkap politisi PAN itu.

Berdasarkan pantauan merdeka.com, proses pembangunan pedestrian di empat ruas jalan protokol lingkar Kebun Raya dan Istana Bogor itu baru mencapai 50 persen. Proyek fasilitas pejalan kaki senilai Rp 32 miliar yang bersumber dari APBN itu, dilakukan puluhan pekerja tersebar. Pedestrian yang semula hanya satu meter, kini telah terbangun di ruas jalan Pajajaran, Juanda, Otista dan Jalak Harupat rata-rata lima meter.

Imbasnya ruas jalan raya yang semula rata-rata memiliki lebar 8-10 meter, jadi menyempit sehingga lalu lintas malah tersendat semakin parah. Ditambah lagi, pusat kota sekitar Kebun Raya dan Istana menjadi lebih kumuh karena banyak tumpukan tanah dan bebatuan. Proyek pedestrian sepanjang empat kilometer ini ditargetkan selesai akhir tahun ini dan sudah bisa dipergunakan pejalan kaki maupun para pesepeda awal tahun depan.

Sementara itu, Kepala DLLAJ Kota Bogor Rakhmawati, mengaku pihaknya intensif berkomunikasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait baik Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Satuan Lalu Lintas Polresta Bogor Kota dan Dinas Perindustrian Perdagangan (Disperindag) mengurai kemacetan di sejumlah ruas jalan, khususnya di jalur SSA yang saat ini tengah dibangun pedestrian.

"Tak hanya dinas atau instansi terkait saja, kami juga bersama pemerintah di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk sama-sama melancarkan arus lalu lintas. Bahkan setiap malam kita melakukan penertiban dan pengawasan terhadap para PKL yang setiap malam memadati ruas Jalan Ir H Juanda dan Otista," ujarnya.

Pihaknya juga melakukan penertiban terhadap parkir liar yang selama ini sering memacetkan jalan raya Otista. "Setidaknya sudah ada kemajuan jalan raya otista sudah tidak terlalu padat seperti sebelumnya, akibat banyaknya kendaraan sepeda motor dan mobil yang parkir di badan jalan," jelasnya.

Sementera Kepala Satpol PP Kota Bogor, Heri Karnadi mengatakan, pihaknya saat ini sambil menunggu selesainya proyek pedestrian akan fokus menertibkan PKL di sejumlah jalan protokol, khususnya di seputar jalur SSA. "Setelah dilakukan di Jalan Otista, kini penertiban kami lanjutkan di jalan-jalan protokol. Sebelumnya kami sudah pula di Jalan Pajajaran dan Jalan Juanda dengan titik fokus di jalur SSA," paparnya.

Sebagian besar PKL yang menjadi target penertiban adalah mereka yang kerap memadati jalan raya dengan cara menggelar lapak di badan jalan, sehingga seperti pasar tumpah. "Jadi pola operasi kita pun sama," ujarnya.

Lebih lanjut Heri menjelaskan, PKL Jalan Otista yang telah ditertibkan direlokasi ke Jalan Suryakancana. Sedangkan PKL yang ditertibkan di Lawang Saketeng dan Jalan KH. Bustaman dipindahkan ke Jalan Lawang Saketeng II.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP