Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Merawat Kisah Perjuangan Etnis Tionghoa bagi Indonesia

Merawat Kisah Perjuangan Etnis Tionghoa bagi Indonesia Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. ©2020 Merdeka.com/Maria Brigitta Jennifer

Merdeka.com - Lembar-lembar pustaka berjejer rapi di lemari dan etalase Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Bubu-buku memuat banyak informasi tentang kisah perjuangan dan kontribusi etnis Tionghoa sedari dulu untuk Indonesia.

9 tahun silam, museum ini didirikan oleh Azmi Abubakar. Lokasinya dulu tak jauh dari pusat perbelanjaan ITC BSD, Tangerang. "Hidup ini kan enggak melulu untuk sendiri," ujar pria asal Aceh itu bercerita soal semangat mendirikan museum tersebut.

"Mulanya itu memang kontrak selama hampir dua tahun kemudian selanjutnya saya membeli tempat sendiri. Jadi enggak perlu pindah-pindah lagi. Nah kaya gitu sampai sekarang,” kisahnya.

Museum tersebut didirikan untuk menyebarkan jasa-jasa etnis Tionghoa di Indonesia. Menurut Azmi, banyak kontribusi etnis Tionghoa terhadap bangsa Indonesia, namun minim diketahui banyak orang. Cerita perjuangan tanpa stigma negatif dan diskriminasi.

“Informasi tentang nilai-nilai kepahlawanan seputar jasa-jasa orang Tionghoa itu kan masih minim sekali ya yang bisa diakses oleh masyarakat, yang diketahui oleh masyarakat. Yang berkembang di tengah masyarakat bahkan waktu saya mendirikan saat itu kan masih sangat negatif ya. Informasi yang berkembang itu yang bisa diakses oleh masyarakat itu yang informasi tentang hal-hal buruk dalam tanda kutip, yang disampaikan oleh golongan-golongan tertentu, pihak-pihak tertentu yang memang ingin mendiskreditkan orang-orang Tionghoa," terang dia.

Azmi merasa ada saat di mana sumbangan jasa etnis Tionghoa itu perlu diapresiasi dengan mengubah stereotipe keliru terhadap etnis Tionghoa. Bagaimanapun juga etnis Tionghoa adalah bagian dari bangsa Indonesia.

"Ini saatnya harus kita akhiri. Semua sama saja. Manusia itu tidak luput dari baik dan buruk. Jadi tidak ada bedanya kok," kisahnya.

museum pustaka peranakan tionghoa©2020 Merdeka.com/Maria Brigitta Jennifer

Menurut Azmi, etnis Tionghoa juga ikut mewarnai perjalanan dan peradaban bangsa Indonesia. Mulai dari zaman kemerdekaan hingga reformasi seperti sekarang. Semangat para etnis Tionghoa itu dipegang teguh Azmi hingga sekarang.

Berjuang di tengah sesaknya pandangan diskriminatif. Bagi Azmi, ini sudah saatnya umat Tionghoa dibantu dan diapresiasi.

“Menurut saya, jika kita mengetahui tentang sejarah peradaban orang Tionghoa di Indonesia. Kita akan mengakui mereka adalah bagian penting dalam perjalanan bangsa ini. Mereka mendirikan juga, mereka berdarah-darah juga, mereka berjuang juga dengan senjata yang tidak hanya di sektor pendidikan, atau misalnya perdagangan, atau olahraga. Tapi mereka juga pejuang-pejuang tangguh yang tidak takut mati untuk membela bangsa dan negaranya," ucap Azmi.

Museum Gratis demi Ilmu Gratis

Berbeda dari museum lainnya, untuk masuk Museum Pustaka Peranakan Tionghoa ini tidak dipungut biaya sepeser pun. Azmi membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin memperkaya diri dengan informasi dan literasi seputar umat Tionghoa di zaman dulu. Selain dapat melihat-lihat koleksi, pengunjung juga bisa mendapatkan penjelasan dari penjaga museum atau pun Pak Azmi sendiri.

“Ini bentuk aktivitas sosial ya. Negara aja minta uang bayaran untuk masuk museumkan. Nah ya beda cara pandang ya. Kalau menurut sebagian orang mengedukasi dengan cara membayar. Kalau menurut saya, saya lebih melihat ini sebagai bentuk apresiasi. Si Li (Li Fong Koo) itu yang menunggu museum itu sering kali misalnya dipaksa untuk menerima uang untuk pengunjung. Cuma Li juga menolak," paparnya.

Hingga saat ini, sudah banyak kelompok-kelompok dari berbagai komunitas yang mengunjungi museum ini. Tak hanya itu, museum ini juga pernah menerima pengunjung dari luar negeri.

museum pustaka peranakan tionghoa

©2020 Merdeka.com/Maria Brigitta Jennifer

"Sudah beragam sekarang (yang datang ke museum). Dari pelajar, dari masyarakat umum, cendekiawan, dari dalam, dari luar negeri. Orang Tionghoa, non Tionghoa, bukan hanya orang Tionghoa aja, ya orang Aceh banyak, orang Jawa banyak, orang Papua juga ada. Udah beragam. Orang penasaran gitu. Saya kan kadang suka menulis ya di media sosial atau di beberapa medialah. Orang penasaran ini yang disampaikan bener ga sih? Kan kadang mereka ngira dilebih-lebihkan nih. Tapi ketika datang ke museum iya ya," tutur Azmi.

Karena tidak memungut biaya, segala bentuk kebutuhan museum dibiayai oleh Azmi sendiri. Untuk membiayai itu semua, Azmi harus terus bekerja menggeluti profesinya agar museum juga tetap beroperasi dan memiliki koleksi yang semakin kaya.

Berburu Peninggalan Etnis Tionghoa

Untuk mendapatkan barang-barang koleksi, Azmi menjelaskan bahwa awalnya ia harus mencari sendiri barang-barang untuk museumnya. Seiring berjalannya waktu, dia mulai membangun koneksi dengan orang-orang. Sehingga ia hanya tinggal membayarkan barang koleksi dan sudah ada orang yang menyuplai barang yang diburu.

"Namanya kan museum pustaka ya, jadi segala barang yang berbentuk barang cetak seperti koran, buku, majalah, sampai manuskrip, foto-foto juga. Ya segala hal yang tercetaklah yang kita kumpulin," kata Azmi.

Selain barang-barang pustaka, Azmi juga berencana mengoleksi barang lain yang berbau adat Tionghoa maupun bentuk akulturasi budaya Tionghoa dengan Indonesia. Misalnya barang-barang seperti lemari, kursi atau baju, alat musik. Banyak dari barang-barang itu merupakan hasil akulturasi.

Dua lantai museum kini telah terisi penuh pustaka dan peninggalan etnis Tionghoa. Azmi berharap agar museum tersebut bisa terus diperbesar agar dapat memuat lebih banyak koleksi dan agar bisa menampung lebih banyak pengunjung. Makin banyak kisah perjuangan etnis Tionghoa tersebar, makin banyak pula apresiasi yang datang.

Reporter Magang: Maria Brigitta Jennifer

(mdk/ray)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP