Merawat budaya dari lereng Slamet

Minggu, 14 Mei 2017 10:38 Reporter : Abdul Aziz
Merawat budaya dari lereng Slamet Kampung Kurcaci. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Bertelanjang kaki, tiga orang anak duduk di tanah, lalu bermainlah mereka dolanan (permainan-red) Sunda Manda. Setiap anak memegang kulit batang pohon damar yang mengelupas dan bergantian melempar ke petak permainan. Di antara mereka, yang terjauh lemparannya dalam petak mendapat giliran pertama melompati petak-petak. Betapa akrab anak-anak itu di tengah alam, bersama-sama mereka tertawa, bersorak mengekspresikan kegirangan.

Anak-anak itu tinggal di lereng timur Gunung Slamet dan sudah jadi kebiasaan mereka bermain di hutan damar. Kebahagiaan mereka juga menjadi daya tarik tersendiri ketika merdeka.com mengunjungi Kampung Kurcaci, Desa Wisata Serang, Karangreja, Kabupaten Purbalingga beberapa waktu lalu. Dolanan anak seperti egrang, sunda manda serta dakon, jadi simbol keakraban lama yang semakin hilang sekaligus nostalgia yang jauh dari "tangan jahil" modernisasi.

Di Kampung Kurcaci, di tanah seluas 3,5 hektare udara permai menyejukkan hati. Sejauh mata memandang yang nampak ratusan pohon damar setinggi puluhan meter. Bukan tiang-tiang listrik yang kering. Sebutan Kampung Kurcaci sendiri juga bermuatan filosofis bahwa manusia dengan segala keterbatasan hanya bagian kecil alam semesta.

Hendi Permana (31), Ketua Pengelola Wisata Alam Kampung Kurcaci mengatakan latar belakang dibentuknya kampung kurcaci untuk mempertahankan kedekatan anak-anak pada alam dan lingkungan di mana mereka hidup. Bangunan kayu rumah kurcaci yang warna-warni dan menjadi ikon wisata alam ini, juga terinspirasi dari kebiasaan anak-anak yang kerap membuat rumah-rumahan dari ranting-ranting. Pendek kata, kampung kurcaci dibentuk sebagai ikhtiar menjaga budaya.

"Kami ingin mempertahankan pengalaman masa kanak kami, yang diwarnai kebersamaan. Karena itu kami sengaja membuat rumah-rumahan, menawarkan dolanan tradisional seperti dakon, sunda manda, egrang yang saat dimainkan memang diperlukan interaksi dan kebersamaan," kata Hendi.

Pengunjung Kampung Kurcaci, Fiki (27) asal Lampung dan Gayuh (28) asal Bojongsari Purbalingga, mengungkapkan baru pertama kali mengunjungi Kampung Kurcaci usai melihat di media sosial. Mereka mengaku sangat menikmati rindangnya pohon damar dan merasa sangat berdekatan dengan rindangnya alam. Lewat dolanan anak yang ditawarkan mereka juga merasa dekat kembali dengan kebudayaan yang sudah terasa asing saat ini dilihat di kehidupan sehari-hari.

"Menghabiskan waktu di sini asyik. Tadi juga sempat ke curug (air terjun) yang juga bagian wahana di sini," kata keduanya.

Irama kehidupan desa di Kampung Kurcaci mungkin semacam penawar dari tata kehidupan kota. Namun, dia adalah perwujudan olah pikir sejumlah anak-anak muda di Desa Serang, Karangreja. Di banyak tempat, desa memang mulai merasakan gesekan-gesekan yang lazim terjadi di kota dan mengubah tatanan lama warga. Melalui pengembangan Kampung Kurcaci warga Desa Serang membuktikan bahwa mereka tidak terjebak dalam nostalgia yang cengeng belaka atau semacam "over romantic impression".

Mereka justru menghidupkan kembali kekhasan lama itu dalam konsep desa wisata. Dalam hal ini anak-anak muda desa Serang setidaknya telah menjalankan pendirian Johan Huizinga, sejarawan pengarang buku Homo Ludens. Bahwa permainan yang melahirkan kultur menjadi dasar dan sumber dari peradaban. Yang dimaksud yakni kebersamaan, interaksi dan mengajarkan kedekatan dengan alam sejak dini.

[ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini