Menteri Hanif Ungkap Pemicu Longsor di Cisarua, Soroti Pertanian Kentang hingga Paprika di Dataran Tinggi
Jika pola ini masih diteruskan, Menteri Hanif memproyeksikan berapa labilnya ketahanan lanskap Indonesia, terutama di Pulau Jawa.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti rangkaian bencana hidrometeorologi semisal longsor yang marak terjadi di Indonesia dalam waktu dekat. Hanif lantas mengaitkan maraknya tanaman pangan impor semisal kentang, yang dipaksa tumbuh untuk memenuhi konsumsi masyarakat.
Menurut dia, kondisi bencana hidrometeorologi yang saat ini menimpa hampir seluruh titik-titik di Tanah Air bukan bersifat anomali, namun sudah menjadi sistem yang akan terus menjadi suatu pola berulang. Hanif coba mengutip insiden longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu.
"Ini tentu bukan kondisi masalah alam biasa. Tentu ada campur tangan manusia di sini yang memperparah kondisi ini," kata Hanif dalam ESG Sustainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2).
Hanif coba tarik waktu sedikit ke belakang pada periode 2000-an, ketika urbanisasi terjadi hampir di seluruh kota-kota besar Indonesia. Peristiwa itu turut mengubah pola makan masyarakat yang semakin bergantung pada pangan impor.
"Dulu kita mungkin masih makan menggunakan kacang-kacangan, sayur-sayuran. Hari ini kita sudah mengenal yang namanya kentang dengan sangat masif. Kemudian kita mengenal paprika, mengenal kol, kubis, yang semua itu adalah tanaman subtropis yang bukan dari Indonesia," ujar Hanif.
Hanif menggarisbawahi bahwa pernyataan itu bukan mengajak konsumen untuk anti terhadap makanan tersebut. Melainkan mengajak publik agar lebih bijaksana dalam menggantungkan kebutuhan asupannya.
"Kentang, itu berada pada area subtropis. Pada saat tanaman tersebut ditanam di daerah subtropis, tidak memerlukan permukaan yang tinggi, cukup pada area yang standar, bisa tumbuh lah. Karena subtropis areanya sudah dingin," kata Hanif.
Indonesia Kegandrungan Kentang
Sayangnya, menurut Hanif, publik Indonesia tampak sudah kegandrungan pada kentang dan tanaman pangan sejenis. Padahal, Hanif menambahkan, tanaman itu hanya bisa hidup di wilayah tropis pada ketinggian 800-2.000 meter di atas permukaan laut.
"Tanaman itu kemudian dengan sangat antusias kita bawa ke Indonesia dan kita tanam sangat masif. Bahkan konon beberapa instansi akan mengembangkan dengan masif tanaman kentang, kubis, paprika," imbuh dia.
"Konstruksi ini kemudian kita harus hati-hati. Alam kita tidak bisa bicara demikian. Pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, maka daerah tersebut benar-benar jadi daerah hulu dari suatu DAS (Daerah Aliran Sungai), yang kemudian menjamin kehidupan ekosistem di bawahnya," ujar Hanif.
Ancaman Bagi Masyarakat Jawa
Pada saat kentang, kubis hingga paprika dipaksakan tumbuh di area tersebut, Hanif sudah bisa memprediksi apa yang kelak bakal terjadi. Jika pola ini masih diteruskan, dia memproyeksikan berapa labilnya ketahanan lanskap Indonesia, terutama di Pulau Jawa.
"Jawa yang dengan tipikal 800-2.000 meter di atas permukaan laut merupakan tanah subur, kemudian kita beramai-ramai untuk menjadikan tanaman semusim, yang memang tidak sepatutnya hidup di daerah atas 1.000 meter di atas permukaan laut," tutur Hanif.
"Karena ini bukan masalah 1.000-nya, ini di bawahnya hidup jutaan penduduk kita di situ. Dengan sentuhan sedikit saja, hampir 100 orang kehilangan nyawanya di Cisarua, Bandung," kata Hanif.