Menkes Terawan: Virus Corona Angka Kematiannya Lebih Rendah Dibanding Difteri

"Orang rumah sakit itu sudah biasa menghadapi difteri dan virus-virus lain yang lebih ganas dan tidak pernah ribut,"

Nur Fauziah
Oleh Nur Fauziah - Reporter
Menkes Terawan: Virus Corona Angka Kematiannya Lebih Rendah Dibanding Difteri
Menkes Terawan. ©2020 Liputan6.com/Faizal Fanani

Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus merasa jengkel dengan hebohnya pemberitaan terkait virus Corona. Namun dalam pemberitaan seolah virus ini menjadi ancaman global. Padahal, kata dia virus Corona ini memiliki tingkat kematian lebih rendah dari difteri dan lainnya.

"Angka kematiannya lebih rendah dibandingkan difteri dan sebagainya. Orang rumah sakit itu sudah biasa menghadapi difteri dan virus-virus lain yang lebih ganas dan tidak pernah ribut. Kita percaya bahwa teknik kita dalam mengatasinya, ilmu-ilmu yang sudah dibawakan, dokter-dokter sudah terbekali dengan baik,” katanya saat mengunjungi Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok (RS MKD), Senin (2/3).

Saking gemasnya, Menkes pun berseloroh hendak mengganti nama virus ini menjadi 'Ma Geblug'. Karena dalam pemberitaan sering disebut orang yang terpapar virus ini tiba-tiba terjatuh tanpa sebab hingga menyebabkan meninggal dunia.

"Masak ada virus Corona 'ma geblug' (jatuh). Itukan berita-berita yang sangat tidak elok. Kenyataannya, begitu kita ngadepin sendiri virus corona kita sehat-sehat saja," ungkapnya.

Kendati demikian, pihaknya terus mengawasi pasien-pasien yang menderita gejala seperti batuk dan flu. Hal ini berlaku pada 40 dari 73 tenaga medis RS MKD yang kini diistirahatkan sementara di rumah.

"Kita amati terus sedang berjalan. Sampai hari ini tadi pasiennnya tetap sehat dan doa kita semua mereka semua sehat sehingga melewati 5 hari lagi kita sweep kalau negatif 5 hari lagi mereka boleh kembali. Jangan dijadikan public enemy nanti mereka sehat enggak bisa pulang lagi ke rumahnya kan kasihan," ucapnya.

Sebanyak 73 tenaga medis di RS MKD itu, kata Terawan, merupakan orang dengan pengawasan (ODP). Sebelumnya, mereka pernah berinteraksi dengan korban virus Corona yang kini dirawat di RSPI Sulianti Saroso Jakarta. "Kan ada yang namanya orang dalam pengamatan (ODP) itu yang artinya dia diamati saja. Muncul keluhan atau tidak selama 14 hari," tambahnya.

Nantinya, mereka masih bisa beraktivitas seperti biasa. "Karena itu tolong mengerti bahwa penyakit ini yang berbahaya adalah kalau kita memberitakannya tidak tepat pada kenyataannya. Tadi makanya saya bilang new virus no problem, news virus problem. Jadi artinya kalau pemberitaan yang tidak benar dilebihkan coba lihat kekacauan dunia," pungkasnya.

Rekomendasi