Menjelang Usia Emas 500 Tahun, Wamenekraf Tinjau Revitalisasi Kota Tua: Gedung Lama Bakal Jadi Pusat Ekonomi Kreatif?

Wamenekraf Irene Umar meninjau revitalisasi Kota Tua, fokus pada pemanfaatan gedung lama untuk ekonomi kreatif, demi melestarikan budaya dan menyambut usia 500 tahun Jakarta.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menjelang Usia Emas 500 Tahun, Wamenekraf Tinjau Revitalisasi Kota Tua: Gedung Lama Bakal Jadi Pusat Ekonomi Kreatif?
Wamenekraf Irene Umar meninjau revitalisasi Kota Tua, fokus pada pemanfaatan gedung lama untuk ekonomi kreatif, demi melestarikan budaya dan menyambut usia 500 tahun Jakarta. (AntaraNews)

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, baru-baru ini melakukan peninjauan mendalam terhadap rencana revitalisasi kawasan Kota Tua di Jakarta. Kunjungan ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi pemanfaatan gedung-gedung lama sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif. Langkah strategis ini diharapkan dapat mengoptimalkan aset budaya bangsa sekaligus melestarikan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.

Peninjauan yang berlangsung pada Minggu, 5 Oktober, ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan penting. Mereka termasuk perwakilan dari Bappeda DKI, MRT Jakarta, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), serta Bank Mandiri sebagai pemilik beberapa aset vital. Kolaborasi erat ini menjadi fondasi utama untuk memastikan revitalisasi berjalan lancar dan berkelanjutan di masa depan.

Irene Umar menekankan pentingnya sinergi antarpihak demi mewujudkan visi bersama bagi Kota Tua. Revitalisasi ini tidak hanya berfokus pada pelestarian fisik, tetapi juga pada penciptaan ruang hidup baru bagi industri kreatif. Konsep Transit Oriented Development (TOD) juga menjadi bagian integral dari rencana besar ini.

Kolaborasi Kuat untuk Masa Depan Kota Tua

Wamenekraf Irene Umar menegaskan bahwa semangat kolaborasi adalah kunci utama dalam upaya revitalisasi Kota Tua. Ia berharap semua pihak dapat bersinergi atas dasar kecintaan yang sama terhadap kawasan bersejarah ini. "Harapannya kita bisa duduk bersama atas dasar kecintaan terhadap Kota Tua dan tujuan yang sama. Bukan soal dari instansi mana kita berasal, tetapi sebagai warga Indonesia yang ingin membangun kawasan ini secara bertahap dan sistematis agar nilai sejarah tetap terjaga sekaligus menjadi ruang hidup ekonomi kreatif,” ujar Irene.

Kolaborasi ini melibatkan pemangku kepentingan dari Bappeda DKI, MRT Jakarta, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), hingga Bank Mandiri. Keterlibatan berbagai pihak ini bertujuan untuk menghindari hambatan dalam pengembangan jangka panjang. Sinergi ini juga memastikan konsep urban renewal yang diusung selaras dengan nilai sejarah kawasan.

Pendekatan kolaboratif ini menjadi fondasi kuat agar revitalisasi Kota Tua tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Namun juga mampu mendukung pengembangan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi.

Kota Tua sebagai Pusat Transit Oriented Development (TOD)

Kegiatan peninjauan ini juga menjadi langkah konkret dalam mewujudkan konsep Transit Oriented Development (TOD) di Kota Tua. Konsep TOD adalah pengembangan kawasan perkotaan yang mengintegrasikan pemanfaatan lahan dengan layanan transportasi publik. Ini akan menjadikan Kota Tua lebih mudah diakses dan lebih hidup.

Kepala Bappeda DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania, menilai bahwa konsep TOD sangat sejalan dengan upaya revitalisasi perkotaan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Kemenekraf secara aktif mendorong implementasi konsep ini. "Pengembangan kawasan berorientasi transit ini sejalan dengan konsep urban renewal untuk Kota Tua yang sedang kita kembangkan,” jelas Atika.

Atika menambahkan bahwa momentum Jakarta yang akan berusia 500 tahun dalam dua tahun mendatang menjadi pendorong semangat. "Mengingat kita punya momentum luar biasa dua tahun mendatang, yaitu Jakarta berusia 500 tahun. Kita sama-sama terikat karena kecintaan kita pada banyak hal, pada Kota Tua, pada ekonomi kreatif, dan lainnya sehingga ini lebih seperti ekosistem yang digerakkan oleh semangat,” tambahnya.

Dampak Industri Kreatif Menghidupkan Kawasan Lama

Perwakilan TACB sekaligus arsitek Cosmas Gozali menyoroti peran strategis industri kreatif dalam mengubah wajah sebuah kawasan. Kehadiran komunitas kreatif terbukti mampu menghidupkan ruang-ruang yang sebelumnya tidak produktif. Ini termasuk gudang atau bangunan lama, menjadi pusat aktivitas baru yang bernilai ekonomi dan sosial.

Cosmas Gozali memberikan contoh keberhasilan di berbagai belahan dunia. "Industri kreatif selalu dinamis dan mampu menghidupkan kota. Kita lihat di West London, Shanghai, hingga Brooklyn yang dulu rawan kriminal kini menjadi salah satu kawasan termahal di New York,” ujarnya.

Menurut Cosmas, potensi serupa sangat besar untuk Kota Tua. "Hal yang sama bisa terjadi di Kota Tua, di mana gudang-gudang kosong berpotensi diubah menjadi ruang hidup baru melalui ekosistem kreatif,” tambahnya. Ini menunjukkan bahwa dengan sentuhan kreatif, aset-aset sejarah dapat memiliki fungsi baru yang relevan.

Agenda survei Wamenekraf dilakukan dengan berkeliling kawasan Kota Tua. Peninjauan dimulai dari Museum Mandiri yang akan menjadi lokasi TOD Forum 2025. Kemudian dilanjutkan menuju Gedung Kalibesar Barat dan Gedung Arsip Fatahillah, mengidentifikasi potensi setiap bangunan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi