Menhut Tegaskan Perketat Pengawasan, Gunakan Anjing Pelacak untuk Gagalkan Penyelundupan Satwa
Menurutnya, sejumlah tempat yang menjadi pintu pelaku penyelundupan satwa harus dijaga oleh anjing pelacak sebagai upaya antisipasi.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni disorot upaya penyelamatan penyelundupan satwa. Hal itu terjadi saat dia meninjau Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki, Kota Bitung, Sulawesi Utara.
Dalam kunjunganya, Raja Antoni didampingi konservasionis dan ahli mikrobiologi Willie Smits. Serta Dirjen KSDAE Satyawan Pudyatmoko, Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Hidup Mahfudz.
Raja Antoni melihat kemampuan dua anjing yang biasa diperbantukan untuk melacak penyelundupan satwa. Salah satunya diketahui berjenis german shepherd.
Menurutnya, sejumlah tempat yang menjadi pintu pelaku penyelundupan satwa harus dijaga oleh anjing pelacak sebagai upaya antisipasi. Salah satunya seperti di Sorong yang merupakan pelabuhan terakhir Papua.
"Di Sorong dan Halmahera saya minta juga ada anjing pelacak sebagai upaya penggagalan penyelundupan satwa. Selamatkan satwa kita, satwa adalah aset bangsa," kata Raja Antoni, Minggu (15/12).
Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki sendiri selama lima tahun terakhir telah berhasil menggagalkan penyelundupan 11 burung, 44 mamalia dan empat reptil di wilayah Bitung, Manado dan Gorontalo. Beberapa satwa juga berhasil diselamatkan dari rumah warga hingga pelabuhan, dengan total 683 satwa.
Selain itu berdasarkan data, pihak Tasikoki telah melakukan patroli tiga tahun terakhir setiap Desember, peredaran daging satwa liar dari provinsi-provinsi di Sulawesi ke Sulawesi Utara mengalami penurunan. Sejumlah daging satwa yang kerap dijual di pasar di antaranya daging babi hutan, kelelawar, biawak hingga ular piton.
Pada kesempatan yang sama, CEO Yayasan Masarang dan Manager Program Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki Billy Gustafianto menjelaskan berbagai modus penyelundupan satwa kerap dilakukan.
"Modusnya banyak penyelundupan satwa. Rata-rata kematian satwa karena tingkat penyelundupan. Penyelundupan burung biar enngak bersuara bisanya disiram air gula, burung yang diselundupkan," tuturnya.
Dia mengatakan, Tasikoki telah mengembalikan 148 ekor burung ke habitat aslinya di Papua Barat. Ia mengatakan, satwa-satwa yang diselamatkan nantinya akan direhabilitasi sebelum akhirnya kembali dilepasliarkan.
"Kakatua koki sudah kita kembalikan ke Papua. Tidak semua satwa bisa dilepas liarkan, contohnya yang punya perilaku menyimpang, tidak bisa terbang lagi," pungkasnya.