Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengkritik keputusan PSSI hentikan Liga 1 tanpa batas waktu yang jelas

Mengkritik keputusan PSSI hentikan Liga 1 tanpa batas waktu yang jelas Persib vs Persipura. ©Bola.net/Jatnika Sadili

Merdeka.com - PSSI secara resmi menghentikan kompetisi sepak bola Liga 1 2018 sampai batas waktu tak ditentukan. Penghentian itu menuai kritik lantaran akan berdampak dengan nasib para pemain dan beberapa klub.

Budiarto Shambazy, wartawan senior olahraga menilai ketidakjelasan masa penghentian kompetisi Liga 1 justru merugikan pemain dan klub. Tanpa ada kompetisi, kata Budi, kemajuan sepak bola Indonesia semakin tak menentu. Tidak hanya itu, Budi menilai, tanpa ada kompetisi kualitas tim nasional juga akan berpengaruh lantaran pemain dari klub-klub tidak berkompetisi.

"Apa yang diputuskan Kemenpora bagus, betul, menghentikan selama 2 minggu. Tapi keputusan PSSI (penghentian Liga 1) indefinit itu ngawur tidak memberikan kepastian pada klub-klub, kompetisi harus berjalan jangan diganggu karena kompetisi mencerminkan berhasil tidaknya terhadap tim nasional. Jadi jangan melihat permasalahan pukul rata," ujar Budi di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/9).

Ia tak menampik perlakuan sadis yang diterima Haringga Sirla, supporter klub Persija yang tewas dikeroyok suporter Persib Bandung beberapa waktu lalu menjadi tamparan keras bagi masyarakat Indonesia, tidak hanya tanggung jawab PSSI, BOPI, KONI, atau pihak terkait.

Kendati demikian, ia meyakini kondisi persepakbolaan Indonesia bisa menjadi lebih baik berkaca dari peristiwa di Inggris tahun 1985. Saat itu, kata Budi, terjadi peristiwa brutal antar-supporter dua klub sepak bola di kota Inggris. Bahkan, imbuhnya, UEFA turun langsung mempelajari penyebab peristiwa tersebut.

Setelah mempelajari segala penyebab masalah, Budi mengatakan pemerintah Inggris dengan tanggap melakukan evaluasi secara bertahap. Hal krusial yang dilakukan pemerintah saat itu dikatakan Budi adalah aparat keamanan melakukan pengawalan supporter menuju stadion tempat dua klub bertanding.

"Misalnya suporter Persija mau nonton ke Bandung, mereka sudah dikawal dari Stasiun Gambir, harus naik kereta api, sampai Stasiun Bandung dikawal lagi sampai stadion arahkan mereka sampai tribun tertentu terus dikurung (dikawal) sampai pertandingan habis. Tapi biayanya mahal kalau di Inggris yang nanggung pemerintah bisa Pemda, Pemkot," tukasnya.

"Jadi ini masalah sosial yang sudah cukup mengganggu kita dan ini bukan hanya tanggung jawab PSSI, KONI, Persija, Persib tapi ini semua tanggung jawab kita semua," pungkasnya.

Sementara Sekretaris Kemenpora, Gatot Dewa S Broto mengatakan Kemenpora menyatakan penghentian Liga 1 selama dua minggu untuk memberikan waktu kepada PSSI meyakinkan publik terobosan yang akan diambil. Kemenpora, kata Gatot, tidak ingin mengintervensi segala kebijakan PSSI.

Sehingga menurutnya, dua minggu adalah waktu yang cukup untuk membenahi polemik tentang sepak bola dan para supporter.

"Minggu pertama tentu kami berbelasungkawa dan juga kami ingin mendapat laporan utuh dari sejumlah pihak seperti dari Liga, klub, polisi. Minggu berikutnya kami ingin tahu apa kebijakan yang akan diambil oleh PSSI dalam satu minggu agar bisa meyakinkan publik," ujar Dewa.

(mdk/did)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP