Mengintip Strategi Modifikasi Cuaca di Jabar, Hujan Didorong Pindah ke Laut Selatan

Wilayah Jabar memang menjadi fokus dilakukannya modifikasi cuaca untuk mencegah banjir ke sejumlah daerah di sekitarnya jika intensitas hujan meningkat.

Aksara Bebey
Oleh Aksara Bebey - Reporter
Mengintip Strategi Modifikasi Cuaca di Jabar, Hujan Didorong Pindah ke Laut Selatan
Mengintip Strategi Modifikasi Cuaca di Jabar, Hujan Didorong Pindah ke Laut Selatan (Merdeka.com)

Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama sejumlah pihak melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC). Hal ini merupakan bagian dari upaya menurunkan intensitas hujan tinggi yang berpotensi menimbulkan bencana alam.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan operasi modifikasi cuaca ini merupakan bagian dari strategi mitigasi bencana, khususnya mengurangi risiko banjir dan longsor. Modifikasi ini merupakan bagian dari rencana jangka pendek.

"Salah satu langkah konkret yang kami lakukan adalah membenahi tata ruang, khususnya di kawasan Puncak dan seluruh wilayah Jawa Barat. Kami berani mengambil tindakan tegas, termasuk pembongkaran bangunan yang menutupi area resapan air," katanya

"Jika tidak, air yang seharusnya terserap akan langsung mengalir deras ke Cisarua, lalu ke Kali Bekasi, hingga ke Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Jakarta," ujar Dedi Mulyadi.

Selain penataan ruang, Pemprov Jabar juga tengah melakukan pembenahan Daerah Aliran Sungai (DAS). Saat ini, alat berat telah diterjunkan ke sejumlah lokasi strategis, dan Pemdaprov Jabar tengah berkoordinasi dengan Kementerian ATR/BPN untuk menyelesaikan permasalahan sertifikasi lahan di sekitar DAS yang kerap menjadi kendala dalam upaya konservasi.

OMC dilakukan dengan tujuan utama mengalihkan curah hujan ke daerah yang lebih aman. Seperti laut dan Danau Jatiluhur, guna mencegah intensitas hujan yang tinggi di kawasan rawan banjir.

Gubernur Dedi Mulyadi juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis kesadaran ekologis, yang ia sebut sebagai taubat ekologi. Sebagai langkah lanjutan, pihaknya akan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Mabes TNI AD dan menjajaki kerja sama dengan Mabes TNI AL untuk menjaga kelestarian ekosistem sungai dan laut.

Kolaborasi ini juga melibatkan TNI AU dalam pemantauan udara serta BMKG untuk penguatan teknologi pemantauan bencana. "Tahun ini, Jawa Barat akan memiliki dua radar cuaca baru, satu di wilayah selatan dan satu di Cekungan Bandung. Selain itu, akan ada alat pendeteksi kualitas udara serta sistem peringatan dini bencana yang lebih canggih," ungkap Dedi Mulyadi.

Diketahui, operasi modifikasi cuaca ini dilakukan BMKG bersama TNI Angkatan Udara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Misinya adalah menahan awan yang menyebabkan hujan besar dari daratan Jawa Barat bisa turun hujan di pantai selatan atau pun waduk.

Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto mengatakan, operasi ini dilakukan dengan menerbangkan pesawat milik TNI AU dari Bandara Husein Sastranegara, untuk menaburkan garam pada awan.

Operasi ini akan berlangsung hingga 20 Maret 2025 dan jika diperlukan akan dilanjutkan saat momen mudik lebaran. Dengan modifikasi cuaca ini, diperkirakan dapat mengurangi curah hujan antara 30-60 persen.

Pihaknya memprediksi bahwa dalam periode 11 Maret hingga 20 Maret 2025, hujan dengan intensitas tinggi akan terjadi di seluruh wilayah Jabar. Saat ini, kata dia, potensi hujan besar akan terjadi di wilayah utara seperti Cirebon.

"Modifikasi cuaca ini tidak menghilangkan hujan, tapi hujan yang turun diharapkan bisa berkurang intensitasnya. Kita mempercepat terjadinya hujan, agar awan hujannya tidak masuk dan membesar di daerah-daerah yang rawan bencana," ucapnya.

Rekomendasi