Mengenal Satbravo, pasukan antiteror kebanggaan TNI AU

Sabtu, 9 April 2016 08:44 Reporter : Yulistyo Pratomo
Mengenal Satbravo, pasukan antiteror kebanggaan TNI AU Den Bravo TNI AU. ©handout/tni au

Merdeka.com - Satuan Bravo-90, atau disingkat Satbravo-90 merupakan pasukan elite yang bernaung di bawah komando Korps Pasukan Khas (Korpaskhas). Berbeda dengan satuan-satuan elite lainnya, Satbravo lebih dikhususkan untuk menghadapi masalah pembajakan di bandara atau lanud, termasuk menghancurkan kekuatan lawan.

Usianya terbilang lebih muda, namun bukan berarti pasukan elite TNI AU ini kalah dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) maupun Detasemen Jala Mangkara (Denjaka).

Dalam penugasannya, personel Satbravo menjalani operasi intelijen, melumpuhkan alutsista/instalasi musuh dalam mendukung operasi udara dan penindakan teror bajak udara serta operasi lain sesuai kebijakan Panglima TNI.

Satuan elite ini didirikan pada 1990, hal itu terlihat dari angka 90 di belakang nama satuan. Sedangkan Bravo berarti yang terbaik. Satuan ini dibentuk berdasarkan pemikiran Jenderal Guilio Douchet, di mana penghancuran kekuatan lawan lebih muda jika harus menghancurkan kekuatan lawan dari darat, di banding fokus di udara.

Atas pemikiran itu, Bravo-90 diarahkan menjalankan tugas intelijen untuk mendukung operasi udara, menetralisir potensi kekuatan udara lawan. Saat dibentuk, Bravo hanya diperkuat 34 prajurit, yang terdiri atas 1 perwira, 3 bintara, dan 30 tamtama.

Sayangnya, meski sudah dibentuk namanya tak sempat dikenal publik, apalagi anggotanya dilebur dalam dalam Satuan Demonstrasi dan Latihan Depodiklat Paskhas (Satdemolat). Baru pada 9 September 1999, dilaksanakan upacara pengukuhan Detasemen Bravo dengan penyerahan tongkat komando.

"Kehadirannya seperti sepotong kayu di lautan, kadang tampak kadang hilang ditelan ombak," tulis mantan Komandan Korpaskhas TNI AU Marsma Nanok Soeratno dalam buku biografinya.

Dibanding dua kakaknya di Sat-81 TNI AD dan Denjaka TNI AL, Bravo bisa disebut anak bungsu. Den Bravo 90 dibentuk tahun 1990 di Markas Korps Pasukan Khas TNI AU, Margahayu Bandung. Karena lahir di tubuh TNI AU, pasukan ini memiliki spesialisasi antiteror udara.

Tak cuma itu, Bravo-90 juga melengkapi personelnya dengan beragam kualifikasi khusus tempur lanjut. Mulai dari combat free fall, scuba diving, pendaki serbu, teknik terjun HALO (High Altitude Low Opening) atau HAHO (High Altitude High Opening), para lanjut tempur, pertempuran jarak dekat dan antiteror.

Prajurit Bravo direkrut dari prajurit para-komando terbaik, di mana masing-masing angkatan akan ditarik untuk menjalani pelatihan sebagai pasukan elite sebanyak 5-10 orang. Kemampuan antiteror dilatih di pusat latihan serbuan pesawat GMF Sat-81 Gultor, infiltrasi laut dilakukan di pusat latihan Denjaka, UDT (under water demolition) di sarana latihan Kopaska, serta latihan penjinakan bahan peledak di Pusdikzi Gegana, Polri.

"Sejak awal Bravo didesain memang sebagai spesialis menghadapi peperangan gaya baru (unconventional warfare) di sekitar wilayah penerbangan," tulis Nanok.

Untuk menjalankan setiap misinya, Satbravo 90 selalu menyandang motto 'Catya Wihikan Awacyama Kapala', yang berarti Setia, Terampil, Berhasil. [tyo]

Topik berita Terkait:
  1. HUT TNI AU
  2. TNI AU
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini