Menengok angkernya upacara di Pura Karang Boma Bali
Merdeka.com - Pembangunan di Bali tidak pernah ada hentinya. Bahkan, setiap tebing dan bibir pantai sesak dengan tumbuhnya sejumlah pembangunan.
Menariknya, Bali yang begitu kental dengan adat dan budayanya tidak pernah surut dalam melaksanakan setiap upacara di tengah gemerlapnya pembangunan gedung mewah. Seperti saat pelaksanaan hari suci di Bali, Tumpek Landep yang jatuh pada Sabtu (12/12). Semua warga Hindu Bali merayakannya, terlebih lagi perayaan uapacara Ageng (besar) di Pura Karang Boma bukit Sawangan, Kuta Selatan.
Di Pura ini upacara perayaannya bertepatan di Hari Tumpek Landep yang dirayakan setiap enam bulan sekali. Pura yang terletak di bibir tebing bukit ini, ratusan umat berdesakan menghaturkan bhakti di tengah panas matahari yang menyengat.
Ironisnya Pura yang diempon oleh Desa Keminge, Kelurahan Benoa ini sangat terhimpit oleh pembangunan Hotel dan Villa. Bahkan untuk masuk ke Pura yang jadi tempat disucikannya Topeng dan Barong serta Rangda, ini harus melewati jalan masuk menuju ke Samabe Bali Suites & Villa.
Mirisnya lagi, sejumlah turis yang menginap di Villa Samabe begitu leluasa menyaksikan dari atas pemandangan umat melakukan persembahyangan. Bahkan, terlihat ada beberapa turis yang hanya mengenakan bikini pantai, mengabadikan momen dari lobby villa, upacara persembahyangan di pura yang dikenal sangat angker ini.
"Kalau kita selalu melihat dari sisi buruk, kapan sembahyangnya. Justru di Pura Karang Boma, ini adalah tempat kita menetralisir segala kekuatan buruk dan energi negatif yang kita bawa," kata Jero Mangku Widya, di Kuta Selatan, Bali, Sabtu (12/12).
Mangku Widya mengatakan, bahwa dirinya tidak bisa memungkiri perkembangan pembangunan di Bali yang terus terjadi. Namun, ada hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kasap mata. Menurutnya, bahwa Bali yang mungil dan terus ada pembangunan namun tetap saja masih ada lahan.
"Bali ini kecil, pembangunan terus ada. Tetapi saya tidak pernah mendengar orang Bali tidak dapat ruang tempat dalam melaksanakan upacara. Tidak ada tanh yang habis," kata dia.
Dicontohkannya Pura Karang Boma yang justru terlihat berada posisinya di bawah dari Villa Sambe, namun tidak mengurangi umat yang membludak datang di setiap hari Tumpek Landep. Untuk menuju ke Hotel ini, kita tinggal mengambil jalur menuju arah ke Nusa Dua dan melewati Hotel Niko di Bukita Sawangan.
"Inilah kekuatan positif dari pura ini yang begitu angker. Walau ditutupi hotel dan villa, tetap saja mendatangkan banyak umat yang datang," tandasnya.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya