Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Marah-marah di terminal kumuh, Bupati Lebak menuai kritik pedas

Marah-marah di terminal kumuh, Bupati Lebak menuai kritik pedas Bupati Lebak marah-marah. ©2014 merdeka.com/dwi prasetya

Merdeka.com - Aksi marah–marah Walikota Surabaya Tri Rismaharini akibat Taman Bungkul rusak dan aksi marah-marah Gubernur Jateng Ganjar Pranowo setelah menangkap basah pungli di timbangan truk, sempat membuat heboh. Akibat kehebohan tersebut aksi marah-marah kepala daerah kinipun menjadi tren.

Salah satu aksi tersebut dilakukan oleh Bupati Lebak, Iti Jayabaya yang memarahi pedagang terminal lama, di Jalan Sunan Kalijaga, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Disaat bupati dan rombongannya melakukan agenda rutin Jumat bersih (Jumsih).

Namun setelah video aksi Iti marah-marah beredar di media sosial, aksi bupati yang baru saja dilantik tersebut malah menuai kritikan pedas dari sejumlah kalangan. Sejumlah kalangan menilai Aksi Iti sangat tidak patut dilakukan oleh seorang kepala daerah, terlebih saat memarahi ibu-ibu pedagang di terminal tersebut Iti dan pejabatnya dalam posisi tidak memberi contoh.

Bahkan dalam video terlihat sejumlah anggota satpol PP juga ikut memarahi ibu-ibu yang tengah mengangkut sampah.

"Ini cerminan arogansi dan tindakan tidak terpuji. Kalau dia meniru gaya Ahok atau Risma tentu bukan tidak relevan. Mereka sudah berbuat banyak untuk rakyatnya. Sedangkan Iti baru saja menjabat bupati Lebak kok sudah menampakkan arogansi. Terlebih arogansi itu dilakukan kepada rakyatnya," ujar Koordinator Umum Lembaga Kajian Independen (LKI) Banten, Dimas Kusumah.

Menurut Dimas, ketegasan Risma dan Ahok dan sejumlah kepala daerah lainnya tidak dialamatkan kepada rakyatnya, mereka mencintai rakyatnya. Mereka memarahi aparat pemerintah yang dianggap tidak becus kerja untuk pelayanan masyarakat. "Saya kira yang dilakukan Iti Jayabaya yang notabene anak kandung mantan bupati sebelumnya Mulyadi Jabaya adalah bentuk euforia kekuasaan. Pemimpin seperti ini telah menyakiti rakyat dan tak patut dipuji atas sikapnya itu," katanya.

Dimas juga mengungkapkan, selama ini terminal Rangkasbitung memang kumuh, tak terurus bahkan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat terkesan abai terhadap kondisi terminal tersebut. "Kalau Iti sudah membenahi, merapikan dan membuat kondisi terminal senyaman mungkin, maka jika ada masyarakat yang mengotori dan merusak, Iti punya alasan untuk menegur dan bukan dimarahi. Apalagi mencak-mencak," kata Dimas seraya menantang Iti Jayabaya mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang kebersihan.

Kritik pedas juga dilontarkan dari kalangan mahasiswa, mereka menilai aksi Iti merupakan aksi latah mengikuti pemimpin daerah lain. Namun, aksi Iti dinilai salah kaprah dan aksinya dinilai hanya murni arogansi seorang pemimpin. "Kok fenomena penguasa marah-marah jadi tren yah. Euforia ketegasan yang salah kaprah. Apalagi Iti dan pejabatnya saat memarahi dua orang ibu-ibu di terminal Rangkas itu sedang tidak melakukan apa-apa. Sedang tidak memberi contoh. Ini sih murni arogansi seorang pemimpin," ujar aktivis mahasiswa IAIN SMH Banten asal Lebak, Nedi Kurniadi. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP