Makepung Lampit, tradisi unik pacuan kerbau ala petani Jembrana Bali
Merdeka.com - Tradisi 'Makepung Lampit' atau sering disebut lomba pacuan kerbau di areal persawahan penuh lumpur dan air, selalu ramai didatangi warga bahkan wisatawan asing. Tradisi Makepung Lampit yang digelar di areal Persawahan Subak Peh, Banjar Peh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, berlangsung sejak siang tadi (26/4) pukul 11.00 Wita hingga sore hari pukul 15.00 Wita.
Tradisi ini digelar biasanya setiap setahun sekali oleh para petani saat akan pergantian cocok tanam dan lahan sawah digenangi air. "Lomba ini lombanya para petani. Kita bergembira seperti membajak sawah," ujar Sukra, salah seorang petani yang mengikuti tradisi ini, Minggu (26/4).
Lomba ini tidak jauh beda dengan makepung lainnya di Kabupaten Jembrana atau karapan sapi di Madura. Bedanya, ini dilakukan di pematang sawah dan Lampit (penyangga) dari alat bajak sawah serta hewannya bukan sapi tetapi kerbau. Sedikitnya ada 27 peserta yang mengikuti ajang ini, dan mereka cukup berpacu hingga garis finish yang berjarak sekitar 200 meter.
Seperti yang dikatakan I Wayan Sampun, salah satu joki kerbau asal Desa Manistutu, yang mengaku senang mengikuti lomba tersebut. Sampun mengaku tidak pernah absen setiap tahun.
"Bukan soal mencari juara di ajang ini, tetapi kegembiraan dan kebersamaan kita sesama petani dalam menyambut masa peralihan cocok tanam. Ini tradisi kegembiraan bukan kejuaraan atau ajang perlombaan," aku Sampun yang nampak penuh dengan lumpur di arena Makepung Lampit, di Jembrana. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya