Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Makanan di hutan habis, babi hutan satroni permukiman warga

Makanan di hutan habis, babi hutan satroni permukiman warga babi hutan. shutterstock

Merdeka.com - Meski sudah memasuki awal musim hujan, masyarakat desa hutan yang berada di beberapa wilayah Kabupaten Banjar Negara Jawa Tengah mengaku resah, lantaran serangan babi hutan makin merajalela. Kondisi tersebut mengakibatkan petani terancam gagal panen.

Selain merusak lahan, babi hutan tersebut juga berkeliaran di kawasan permukiman penduduk sekitar hutan. Koordinator Petugas Pengamat Hama Pengganggu Tanaman Banjarnegara, Yogo Jati, mengatakan dibutuhkan koordinasi antar dinas terkait untuk mengatasi persoalan ini.

"Butuh banyak pihak untuk bisa mengatasi serangan ini. Karena semestinya babi hutan habitat aslinya berada di hutan," katanya, Rabu (30/10).

Menurutnya, jika kawanan babi hutan sudah memasuki pemukiman atau lahan pertanian warga dimungkinkan adanya penurunan kualitas hutan. Para petani mengakui kejadian seperti ini kali pertama. Dalam menanggulanginya, masyarakat melakukan perburuan dan membuat perangkap, namun belum banyak membuahkan hasil.

Menurut pengakuan warga Desa Sidakangen Kecamatan kalibening, Banjar Negara Budi, serangan babi hutan terbanyak berada di kebun yang berdekatan dengan hutan. "Tidak hanya di kebun, babi juga sering memasuki perkampungan dan mencari makanan di dekat rumah pada malam hari," katanya.

Pengakuan serupa juga dituturkan Warga Sidakangen lainnya, Ismanto. Dia mengatakan, babi hutan mulai mendekati kandang hewan milik warga. Akibatnya, sering pemilik kambing maupun sapi harus tidur dikandang karena takut hewannya berontak karena ketakutan.

"Kalau nggak ditunggu, sapi atau kambing dapat berontak karena takut pada babi dan bisa membuat kandang rusak atau hewannya mengalami cidera," katanya.

Menurut Ismanto, populasi babi hutan semakin bertambah banyak, lantaran semakin luasnya lahan pertanian yang rusak dan banyak warga yang sering melihat babi dalam jumlah banyak. "Jumlah populasi setiap bulannya sepertinya terus bertambah. Pasalnya kerusakan lahan pertanian semakin luas dan sangat merugikan para petani," katanya.

Meski begitu, Bagian Kesatuan Pemangku Hutan Perhutani Karangkobar, Taufik Hidayaturachman mengatakan, serangan babi hutan bukan karena kerusakan hutan. Ia mengungkapkan peningkatan populasi itu yang berimbas pada kesediaan pangan yang tidak mencukupi di hutan. "Karena populasinya yang tidak bisa dikendalikan menyebabkan ketersediaan pangan di hutan tidak mencukupi," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Sub Stasiun Percobaan Fakultas Pertanian Unsoed, Sufiriyanto mengatakan, serangan babi hutan memang disebabkan persediaan makanan di dalam hutan yang sudah habis. Lantaran kondisi tersebut, babi hutan kemudian mencari makan ke sumber yang berada di luar hutan. "Babi hutan yang turun mencari makanan di sekitar pemukiman warga diakibatkan karena kerusakan ekosistem hutan," ucapnya.

Dia melanjutkan, pada Agustus hingga November, aktivitas babi hutan mencari makan semakin meningkat karena memasuki musim hamil babi betina. Secara naluri, kawanan hewan babi hutan akan mencari persediaan untuk menyambut kelahiran anak babi setelah usia kehamilan mencapai 16,5 minggu. Ketika tidak mendapat persediaan makanan di hutan, maka, kawanan babi akan terus mencari makanan hingga meninggalkan sarangnya. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP