Letupan kekecewaan kepada Jokowi bermunculan di daerah

Kamis, 2 April 2015 08:03 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Letupan kekecewaan kepada Jokowi bermunculan di daerah Presiden Jokowi. ©REUTERS/Feng Li/Pool

Merdeka.com - Sudah lebih dari seratus hari Joko Widodo menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, banyak hal sudah ditorehkan. Tetapi paling terasa adalah perubahan dijanjikan itu dirasa masih belum tergapai.

Naik turun harga bahan bakar minyak, melemahnya Rupiah, carut marut politik dan hukum Indonesia, pemberantasan korupsi tersendat, kisruh mobil nasional, bagi-bagi jatah di perusahaan pelat merah justru lebih menonjol. Sebagian besar masyarakat awalnya menggantungkan harapan kepada Jokowi nampaknya mulai jengah. Kritik pun dilayangkan, meski masih sporadis.

Letupan itu mulai nampak di berbagai daerah di Indonesia. Sementara di Ibu Kota Jakarta hiruk pikuk pergerakan belum begitu terasa. Intinya mereka meminta Jokowi menunaikan janjinya saat terlontar dari lisannya guna memikat rakyat memilihnya. Bukan sekedar janji kosong, sebab rakyat menaruh harapan begitu besar di pundaknya. Berikut ini adalah rangkuman aksi kritik terhadap Jokowi.

1 dari 5 halaman

Mahasiswa Surabaya tuntut Jokowi mundur karena bikin susah rakyat

Demo kritik Jokowi di Surabaya. ©2015 Merdeka.com

Karena kecewa atas kepemimpinan Presiden Joko Widodo, mahasiswa dan pemuda di Surabaya, Jawa Timur kembali turun ke jalan, Rabu (1/4). Aspirasi aksi unjuk rasa dilakukan sekitar seratus orang di depan Gedung Grahadi Surabaya, Jalan Gubernur Suryo itu menuntut Jokowi segera turun karena kebijakannya dianggap tidak pro-rakyat.

Dalam aksinya, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Pahlawan tergabung dalam Komite Mahasiswa dan Pemuda Anti Korupsi (KOMPAK) itu juga membawa beberapa spanduk dan poster berisi kecaman. Spanduk itu bertuliskan 'Jokowi Boneka Imperialisme.' Mereka juga membawa poster-poster berisi protes di antaranya 'Turunkan Jokowi,' 'Jokowi Pendusta,'dan lain sebagainya.

Dalam orasinya, para demonstran mengkritik kebijakan Jokowi malah menyengsarakan rakyat kecil. Salah satunya adalah kebijakan naik-turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) menyebabkan harga sembilan bahan pokok tidak stabil.

"Kebijakan-kebijakan Jokowi selama menjabat sebagai presiden telah membuat rakyat sengsara. Pemerintahan seolah-olah ribut dengan kepentingannya sendiri tanpa memikirkan rakyat," kata salah satu Korlap Aksi, Ali Zulkarnain dalam orasinya.

Menurut Ali, fluktuasi harga BBM sangat jelas semakin membuat rakyat menderita, karena harga-harga sembako ikut tidak stabil. "Kemudian kemelut politik yang mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi bangsa, terjadi karena sikap Jokowi yang tidak tegas. Bahkan, korupsi pun makin merajalela," ujar Ali.

Dalam aksinya itu, para mahasiswa sempat berusaha memblokade Jalan Gubernur Suryo, tapi dihalang-halangi puluhan polisi. Para demonstran pun akhirnya memilih bergeser ke Gedung DPRD Surabaya di Jalan Yos Sudarso dengan berjalan kaki dan kembali melakukan aksi unjuk rasa.

"Dengan persoalan-persoalan yang makin kompleks selama kepemimpinan Jokowi, maka kami mahasiswa Indonesia menuntut Jokowi segera mundur dari jabatan, sebelum mahasiswa dan rakyat menurunkannya paksa dengan menggelar aksi besar-besaran," tambah Ali.

Akibat aksi para mahasiswa ini, arus lalu lintas di Jalan Gubernur Suryo tersendat. Sedangkan personel polisi dari Polrestabes Surabaya yang membentuk pagar betis di depan Gedung Grahadi, terus bersiaga, sebagian lagi tetap mengatur arus lalu lintas.

2 dari 5 halaman

Demo Balai Kota Solo, mahasiswa desak Jokowi turun karena BBM naik

Demo Jokowi di Solo. ©2015 Merdeka.com

Massa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Solo Raya, menggelar aksi demonstrasi di depan Balai Kota Solo, Selasa (31/3). Di depan eks kantor yang pernah ditempati Joko Widodo tersebut, mereka meminta sang Presiden turun dari jabatannya.

Yel-yel dan nyanyian yang mereka serukan pun bernada sinis, dan meminta agar mantan wali kota Solo yang akrab disapa Jokowi itu turun dari jabatannya.

"BBM naik BBM naik, Jokowi turun, BBM naik BBM naik Jokowi turun," teriak seluruh peserta aksi dalam yel-yelnya yang terus didengungkan.

Dalam aksi tersebut mereka juga membentangkan sejumlah spanduk yang bertulis 'KEMBALIKAN SUBSIDI', STABILKAN HARGA', JOKOWI JANGAN SERET INDONESIA KE JURANG LIBERALISME' dan lain-lain. Mereka juga melakukan aksi teatrikal, yang menggambarkan penderitaan warga miskin setelah kenaikan harga BBM.

Para mahasiswa yang berasal dari BEM (badan eksekutif mahasiswa) UNS, HMI Sukoharjo dan HMI Solo ini menganggap kondisi Indonesia saat ini sudah gawat darurat.

"BBM itu komoditas vital, sebab semua sektor terutama aktivitas perekonomian dan transportasi tidak lepas dari penggunaan BBM. Kebijakan Jokowi menaikkan BBM untuk kedua kalinya menimbulkan tanda tanya besar pengelolaan minyak di Indonesia. Kalau Jokowi tidak bisa menurunkan harga BBM, turun saja," ujar Woro Seto, koordinator aksi.

Menurut Woro, berdasarkan peraturan Menteri ESDM No 4 tahun 2015, harga eceran BBM premium ditentukan berdasarkan indeks pasar yaitu $58 per barrel. 1 Barrel memiliki volume 159 liter. Sementara nilai 1 UA $ adalah Rp 13 ribu. Distribusi 2 persen pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen. Pajak bahan bakar kendaraan bermotor 10 persen.

"Kalau kita hitung sesuai peraturan di atas, harga premium itu hanya Rp 5.788. Sedangkan harga BBM yang diterapkan Pertamina saat ini Rp 7.400 per liter," keluhnya.

Atas keputusan tersebut, para mahasiswa menuntut agar pemerintah di bawah kepemimpinan Jokowi, menurunkan harga BBM dan mengembalikan subsidi. Menurunkan harga-harga kebutuhan pokok dan stabilkan perekonomian rakyat serta mengajak masyarakat menolak kenaikan harga BBM dan mengembalikan subsidi.

3 dari 5 halaman

Mahasiswa Solo demo, tuding Jokowi antek asing

Demo Jokowi di Solo. ©2015 Merdeka.com

Gerakan Mahasiswa Pembebasan Solo Raya menggelar aksi demonstrasi, di Bundaran Gladag, Senin (30/3) siang. Dalam aksinya, puluhan mahasiswa membawa spanduk dan poster yang berisi kecaman terhadap kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dinilai tidak pro rakyat, tetapi sebaliknya justru menyengsarakan jutaan rakyat Indonesia.

"245 Juta warga Indonesia ini memiliki harapan yang sangat besar pada Jokowi. Sumber daya manusia dan sumber daya alam melimpah ruah. Namun faktanya, seluruh prasyarat menjadikan negeri ini sejahtera, berdaulat tidak dirasakan oleh rakyat. Masyarakat semakin susah dan tercekik. Tak ada rasa aman, percaya apalagi sejahtera. Negeri ini semakin carut marut. Presiden baru terpilih, bukannya memberikan angin segar perubahan, tetapi sebaliknya, malah memberikan kado pahit bagi rakyat," teriak Bambang Pranoto, koordinator aksi, saat berorasi.

Menurut Bambang, kebijakan Jokowi-JK saat ini melanggengkan Indonesia sebagai negeri terjajah asing, terutama Amerika Serikat. Hutang luar negeri sebesar Rp 4000 triliun selama ini tidak dirasakan langsung oleh rakyat, namun sat melunasi hutang, rakyatlah yang dilibatkan.

Selain itu, kebijakan mendatangkan investor asing yang dilakukan saat Jokowi menghadiri KTT Apec di Beijing, sebagai langkah yang akan menyengsarakan rakyat. Sebab kekayaan kita akan diambil alih oleh mereka.

"Disaat rakyat semakin susah, pemerintah malah akan memberikan subsidi kepada partai politik. Padahal parpol itu tidak pernah memperhatikan kepentingan rakyat," tandasnya.

Selain menyoroti beberapa permasalahan tersebut, massa juga mempertanyakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) belum lama ini. Kebijakan tersebut dinilai menyengsarakan rakyat. Mengingat bahan bakar minyak adalah salah satu aspek vital kehidupan mereka. Yang tatkala BBM dinaikkan maka harga sembako akan ikut naik.

"Kenaikan harga BBM ini akibat paket kebijakan liberalisme migas. Pandangan Jokowi terkait kebijakan harga yang mengikuti harga pasar, menyebabkan Jokowi dianggap sebagai boneka mafia asing," ucapnya.

Beberapa permasalahan lainnya yang juga menjadi sorotan adalah, soal konflik KPK vs Polri, masalah penegakan hukum dan sebagainya. Kebijakan Jokowi menunjukkan keberpihakan yang kuat kepada Amerika.

Perpanjangan kontrak dengan antara pemerintah dengan PT Freeport. Jokowi lebih memilih jongos bagi Amerika, sementara Indonesia semakin melarat dan dipinggirkan di negerinya sendiri.

"Kami menolak paket kebijakan Jokowi yang menyengsarakan rakyat, Menolak hadirnya kepentingan asing di Indonesia. Mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia melawan system politik demokrasi di negeri ini," pungkasnya.

4 dari 5 halaman

Rapor merah presiden, mahasiswa se-Jatim ingatkan janji manis Jokowi

Eksekutif Mahasiswa dan Aliansi BEM Universitas Brawijaya demo Jokowi. ©2015 Merdeka.com

Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur turun ke jalan, Jumat (27/3). Mereka menggelar aksi rapor merah untuk Joko Widodo (Jokowi) di depan Gedung Grahadi Surabaya, Jalan Gubernur Suryo.

Para demonstran yang terdiri dari Universitas Airlangga, Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), Universitas Brawijaya Malang dan beberapa perguruan tinggi swasta di Jawa Timur itu, tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia. Dalam orasinya, para demonstran menyebut, sejak dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2014 lalu, Jokowi belum menunjukkan kepemimpinan yang pro-rakyat.

"Kita di sini, ingin mengingatkan Jokowi atas kerjanya sejak dilantik sebagai presiden. Selama 168 hari, kebijakan-kebijakan yang diambil Jokowi tidak pro dengan rakyat. Tidak seperti janji-janjinya yang tercantum dalam Nawa Cita-nya," teriak salah satu orator.

Kembali sang orator melanjutkan, mungkin Jokowi sudah lupa dengan janji-janjinya dulu. Maka sebagai mahasiswa, sebagai rakyat kita wajib mengingatkan. "Sekarang apa yang sudah diberikan Jokowi?," tanyanya yang disambut teriakan serempak massa aksi: Tidak ada!

"Makanan semua mahal. Mana pemimpin yang katanya pemimpin pro rakyat. Uang Unas juga mahal. Saya tanya sekali lagi sekarang, mana Jokowi? Hari ini kita berkumpul di sini untuk kembali mengingatkan Jokowi dengan janji-janjinya," teriaknya lagi.

Sementara itu, koordinator aksi, Bayu dari Universitas Brawijaya Malang menyampaikan analisanya terhadap kepemimpinan Jokowi selama ini. Di bidang ekonomi, katanya, saat ini rupiah terhadap dolar melemah. Harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilepas ke mekanisme pasar yang melanggar amanat konstitusi dalam Pasal 33 UUD 1945.

"Di bidang hukum, saat ini terjadi konflik antar lembaga hukum. Dan masih banyak lagi, kebijakan-kebijakan Jokowi yang sama sekali tidak pro rakyat, kita berikan rapor merah buat Jokowi," kata Bayu.

Pantauan di lapangan, selain berorasi secara bergantian, para demonstran juga terlihat membawa beberapa poster tuntutan, Bendera Merah Putih, bendera kampus masing-masing, hingga membawa map merah sebagai simbol rapor merah untuk Jokowi.

"Di sana (Gedung Grahadi) juga ada pemimpin, yaitu Pakde Karwo (Soekarwo) sebagai gubernur Jawa Timur. Karena yang bisa ketemu Jokowi hanya Pakde Karwo, maka kita meminta pada Pakde Karwo untuk menyampaikan tuntutan kita," teriak orator yang lain.

"Kita tidak mungkin semua bisa ketemu Jokowi, maka kita minta Pakde Karwo keluar, untuk menemui kita," lanjutnya yang disambut teriakan massa: Pakde Karwo keluar (dari Gedung Grahadi). "Sekali lagi, Pakde Karwo, keluar! Pakde Karwo, BBM mahal. Pakde Karwo keluar demi perubahan."

rapor merah untuk Jokowi versi para demonstran; di bidang hukum, nilai Jokowi C+, nilai D di bidang ekonomi, pangan (E), energi (C+), pertahanan dan keamanan negara (B), dan nilai 1,80 untuk IP Semester, IP Lulus dan IP Beban.

Sementara itu, untuk menjaga kondusifitas dan keamanan Gedung Grahadi, ratusan personel polisi dari Polrestabes Surabaya membentuk pagar betis, dan sebagian mengatur arus lalu lintas yang padat karena imbas aksi para mahasiswa.


5 dari 5 halaman

Kecewa dengan kinerja pemerintah, mahasiswa bakar foto Jokowi

Mahasiswa Solo demo Jokowi. ©2015 merdeka.com/arie sunaryo

Puluhan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Solo menggelar aksi demonstrasi di Bundaran Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (27/3).

Sejumlah spanduk dan poster terpampang jelas, menuntut Presiden Joko Widodo agar merealisasikan janjinya saat kampanye dulu.

Mereka bahkan akan membawa Jokowi pulang ke Solo untuk lengser dati jabatannya sebagai presiden, jika gagal memenuhi tuntutan mereka.

Sebuah poster berwarna putih bertuliskan 'Kakehan blusukan lali gawean' juga terlihat dibawa oleh seorang mahasiswi. Tulisan dalam bahasa Jawa tersebut diakui mahasiswa sebagai sindiran kepada presiden Jokowi.

Kalimat tersebut mempunyai arti 'kebanyakan atau terlalu sering blusukan lupa pekerjaan'.
"Jokowi harus merealisasikan janjinya saat berkampanye dulu. Saat ini banyak program dan kebijakan Jokowi yang tidak pro rakyat dan cenderung menyengsarakan rakyat. Kami siap membawa pulang Jokowi ke Solo jika gagal," teriak salah satu mahasiswa saat berorasi.

Mahasiswa ini juga menuntut pemerintahan Jokowi-JK segera menurunkan harga-harga kebutuhan pokok yang kini semakin mencekik rakyat. Apalagi dalam waktu dekat Jokowi akan kembali menaikkan harga BBM.

Mereka juga menuntut Jokowi juga mencabut kebijakan harga BBM berdasarkan mekanisme pasar dan mengembalikan subsidi BBM kepada rakyat, serta mendesak segera merealisasikan program Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indoensia Pintar.

 

"Jika Jokowi gagal memenuhi tuntutan kami, maka kami mahasiswa IAIN siap membawa Jokowi kembali pulang ke Solo dan meminta Jokowi lengser dari jabatannya sebagai presiden," tegas peserta aksi lainnya.

Aksi yang dilakukan di pertigaan Jalan Solo, Semarang dan Yogyakarta tersebut mendapat kawalan aparat Polres Sukoharjo. Massa mahasiswa bahkan sempat memacetkan jalan utama Solo-Semarang dan Solo-Yogyakarta.

  [ary]

Baca juga:
Seskab: Kenaikan tunjangan uang muka mobil hanya untuk 100 pejabat
Kerja keras Jokowi bangun Blok G, dihancurkan di masa Ahok
Kritik dan sindiran soal kenaikan BBM bikin kuping Jokowi panas
Mahasiswa diminta jadi alat kontrol, tak tergoda rayuan penguasa
Jelaskan BG batal dilantik, Jokowi dipastikan penuhi undangan DPR
Nikmatnya jadi pejabat negara di era Jokowi-JK

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini