Laporan Transparansi Internasional soal indeks korupsi di dunia

Rabu, 4 Oktober 2017 07:09 Reporter : Tim Merdeka
Laporan Transparansi Internasional soal indeks korupsi di dunia Demo Setya Novanto. ©2017 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Lembaga Transparency International merilis indeks korupsi tahun 2016. Denmark, New Zealand, Finlandia, Swedia dan Swiss menjadi negara yang paling sedikit tingkat korupsinya.

Sementara situs berita Huffington Post menulis artikel khusus soal korupsi di negara mayoritas muslim yang tersebar di Asia, Afrika, hingga Timur Tengah. Meski umat Islam mempunyai ajaran luhur seperti salat, puasa, pergi haji, membaca Alquran dan menjalankan sunnah Nabi, namun di sisi lain juga masih banyak praktik korupsi oleh para pejabat di negara itu.

Praktik korupsi yang terjadi di negara-negara muslim meliputi penyuapan, pencucian uang, meraih keuntungan lewat nepotisme, mencuri uang rakyat, dan sebagainya. Praktik-praktik itu sangat sering terjadi dilakukan oleh pejabat negara, pengusaha, tokoh masyarakat dan partai politik. (Lihat artikel asli di sini).

Dikutip dari laman Huffington Post pekan lalu, dari 176 negara yang disurvei soal korupsi, sepuluh negara dengan praktik korupsi terburuk terjadi di negara mayoritas muslim seperti Irak, Somalia, Afganistan, Libya, Suriah, dan Yaman. Orang boleh saja mengatakan negara-negara itu parah korupsinya karena tengah mengalami konflik atau perang. Tentu saja kondisi perang memang bisa membuat orang mengalami kematian, kelaparan, sakit, dan depresi. Apa pun dilakukan untuk bertahan hidup, termasuk korupsi.

Namun pada kenyataannya korupsi juga terjadi di negara muslim yang tidak sedang mengalami konflik atau perang. Indonesia, Pakistan, Bangladesh, yang penduduk muslimnya secara total mencakup 30 persen dari umat Islam sedunia, termasuk parah korupsinya.

Indonesia berada di peringkat 90, Pakistan 116, dan Bangladesh 145. Mesir yang dikenal sebagai negara rujukan hukum Islam dengan Al-Azharnya masih lebih korup ketimbang Indonesia, yaitu di peringkat 108. Nigeria, negara muslim di Afrika berada di urutan 136 bersama Libanon dan Kyrgyzstan yang juga mayoritas muslim.

Iran yang menjadikan Islam sebagai bagian dari revolusi sosial dan ekonomi berada di peringkat 131, sementara rival utamanya, Israel ada di urutan 28.

Saat ini, selain Denmark dan Swedia, negara yang indeks korupsinya rendah alias bersih dari korupsi mayoritas berada di Negara Barat. Inggris, Belanda, France, masing-masing berada di urutan 10, 8, dan 23. Australia dan Selandia Baru, jauh dari Eropa, masuk di peringkat 20 besar negara yang minim korupsinya.

Sebagian warga muslim meyakini yang namanya korupsi adalah warisan dari penjajahan negara Barat terhadap mereka. Namun kini negara muslim harusnya bisa menjawab pertanyaan sederhana: mengapa negara kolonial macam Inggris, Belanda, Prancis sudah bisa mengikis korupsi sementara di negara muslim yang sudah merdeka dari penjajahan praktik rasuah masih merajalela?

Namun yang ditulis dalam artikel tersebut juga tak seluruhnya tepat. Faktanya, korupsi sama sekali tidak terkait dengan agama atau ideologi. Korea Utara yang komunis menjadi salah satu negara dengan tingkat korupsi paling tinggi. Korut menduduki peringkat 174 dari 176 negara yang disurvei.

Lalu di negara-negara Amerika Selatan dan Amerika Tengah yang mayoritas beragama Katolik dan Kristen pun korupsi marak terjadi. Di Venezuela, Guatemala, Paraguay, Ekuador, Bolivia hingga Republik Dominika, korupsi marak terjadi.

Lihat di sini: Indeks Korupsi 2016 Transparansi Internasional

Di Asia Tenggara, Kamboja dan Thailand yang mayoritas Budha atau Filipina dan Timor Leste yang mayoritas katolik pun punya indeks korupsi yang lebih buruk dari Indonesia atau Brunei Darussalam.

Tak ada kaitan antara korupsi dengan mayoritas agama di suatu negara. [ian]

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Korupsi
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini