Laode M Syarif Abadikan Nama Randi-Yusuf Jadi Nama Auditorium Gedung KPK
Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif meresmikan ruang Auditorium Randi-Yusuf di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, Jakarta Selatan.
Dua nama tersebut diambil dari mahasiswa korban tewas saat demonstrasi RUU KPK. Salah satunya adalah Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo yang tertembak saat ricuh unjuk rasa di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra).
Selain Auditorium, ada lima ruangan di lantai 2 yang masing-masing diberi nama korban tewas lainnya saat demonstrasi RUU KPK. Mereka adalah Randi, Yusuf Kardawi, Bagus Putra Mahendra, Akbar Alamsyah dan Maulana Suryadi.
Laode menyampaikan, ruangan tersebut menjadi pengingat betapa beratnya perjuangan melawan korupsi. "Untuk mengenal KPK maka kita harus mengenal ruangan ini," tutur Laode di lokasi, Kamis (19/12).
Selain dari ruangan, KPK juga mengenang para mahasiswa yang tewas lewat sebuah puisi yang langsung dibuat oleh Laode sendiri. Dia mengaku sangat terenyuh usai berkomunikasi dengan ibunda Randi.
"Terus terang saya bikin itu tengah malam jam 02.00 WIB, pagi malah, bukan malam lagi, karena tidak bisa tidur. Itu setelah saya telepon ibunya Randi. Ibunya Randi bilang kasianaku e (kasihan anakku)," kata Laode dengan mata berkaca-kaca.
Dia pun membacakan puisi tersebut.
Anak laut matahari negeri, anak laut itu tumbuh di tanah cadas bebatuan Pantai Lakarinta, Pulau Muna. Tumbuh dari singkong dan jagung yang nembus cadas dan air laut yg menggarami hidupnya. Tanpa keluh, tanpa kesah menjalani hidup yang memang keras dari awalnya. Di mata Lasali dan Wan Nasrifah, dia adalah matahari di antara dua bulan belahan hati.
La Sali tekun mengajari mataharinya arah angin dan teriak gelombang agar mampu membaca laut. Wan Nasrifah tekun mendidiknya mengenal aksara semampu yang dia pahami. La Sali sadar, membaca laut dengan hanya bermodal dayung dan kail tidak akan memuliakan mataharinya. Satu-satunya asah, hanya pada ketekunan dan kekerasan hati mataharinya.
Sang anak laut tumbuh sesuai kehendak alam menembus cadas menyelami karang. Sang anak laut tidak bermimpi menjadi matahari, tetapi di lubuk hatinya dia bertekad meninggikan tiang perahu ayahnya, melebarkan dapur ibunya, dan meluaskan pikiran kakak dan adik-adik perempuannya.
Lewat bidik misi dia awali perantauannya, mengejar matahari menyelami cara memuliakan ikan, bahkan disambi dengan menjadi kuli bangunan, demi doa dan harapan orang tuanya.
Hari Kamis 26 September 2019, Pantai Lakarinta tenang, air semilir memanjakan ikan yang melompat riang di balik matahari sore. La sali sedang melaut dengan jaring dan kail satu-satunya, demi matahari dan dua bulan yang merantau.
Burung laut bersuara lirih menghampiri perahunya, tetapi tak dihiraukan karena angannya dipenuhi matahari dan dua bulan di tanah rantau.
Dia tambatkan perahunya lalu menuju rumah dengan menghitung langkahnya. Tapi kali ini berbeda, karena kerbat menjemputnya dalam diam. Ohaini.. ohainiii... artinya ada apa ini.. ada apa ini, tak ada suara, tak ada jawaban. Lah nusantara tiba-tiba dingin, ikan terdiam nyiruh merunduk.
Anak laut itu melejit jadi matahari, membumbung, menyebar sinarnya, melelehkan bedil yang merenggut raganya dan jiwanya tetap hidup bergemuruh di dalam dada anak negeri yang menolak bersekutu dengan kebohongan dan kepalsuan.
Duka anak laut, mengenang Randi
(mdk/ray)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya