Kumpulkan Donasi untuk Seniman, Didik Nini Thowok Mengamen di Malang

Jumat, 6 Desember 2019 23:00 Reporter : Darmadi Sasongko
Kumpulkan Donasi untuk Seniman, Didik Nini Thowok Mengamen di Malang Seniman Didik Nini Thowok. merdeka.com

Merdeka.com - Legenda hidup tari Jawa, Didik Nini Thowok ngamen di Mal Malang Town Square (Matos). Hasil ngamen yang dikemas dalam Peduli Seniman Sepuh itu didonasikan kepada seniman senior Malang Raya yang saat ini butuh dana perawatan karena sakit.

Didik dengan dandanan penari Jawa sesaat menyapa para penonton yang berdiri melingkar di lantai dasar mal. Lengak-lengok tubuh dan kibasan selendang pun dimulai, dengan iringan rekaman musik gamelan yang dinamis.

Penari transgender itu dengan gaya tariannya yang khas berhasil membuat pengunjung terbawa dalam sorak sorai. Tepuk tangan meramaikan ruangan setiap kali aksinya tampak terlihat unik dan lucu.

Saat gelungan di kepalanya dilepas, berikut berganti topeng dengan mimik seorang perempuan tua. Gerakan Didik pun spontan berubah, dari seorang penari yang gemulai menjadi seorang nenek-nenek yang berjalan merunduk dan seolah sulit melihat jalan.

Didik juga berganti topeng berwajah perempuan lucu ala badut yang pandai memutar-mutarkan tangan dan tubuhnya. Gaya tariannya yang atraktif dan komunikatif membuat beberapa kali tawa penonton pecah.

Selama menari, Didik sempat mendekati penonton dan minta difoto. Ia juga terlihat meminta penonton menarik jarinya yang seolah terkilir. Selama sekitar 20 menit, penampilan Didik berhasil memukau penonton.

"Secara pribadi saya sudah sering melakukan ini, di Yogyakarta, Semarang, saya sering ngamen, kemudian hasilnya saya donasikan," kata Didik Nini Thowok di Matos, Jumat (6/12).

Didik menceritakan, ngamen penggalangan dana di Malang bermula dari komunikasi dengan para seniman yang mengabarkan kalau seniman pedalangan senior, Mbah Matali sedang sakit. Kebetulan Didik sedang diundang Universitas Brawijaya (UB) Malang untuk penandatanganan sebuah kerja sama.

"Kemudian pas mau berangkat, Pak Youngki Irawan bilang ke saya, cerita kalau Mbah Matali sedang sakit. Beliau ini adalah guru pedalangan. Karena saya sering ngamen untuk penggalangan dana, saya sampaikan, kalau memang kerso (mau), setelah acara UB saya tak satu hari lagi di Malang ngamen. Kemudian disambut dan jadilah acara ini," kisahnya.

Namun ternyata banyak seniman yang membutuhkan pendanaan karena kondisi serupa. Setidaknya tiga orang seniman membutuhkan perhatian pendanaan. Sehingga aksi ini memang digelar untuk para seniman sepuh di Malang Raya.

"Ya kepedulian saja, yang membutuhkan bantuan, kebetulan saya bukan miliuner, saya enggak bisa nyumbang yang em-em-an (miliaran), saya nyumbang tenaga," ucapnya sambil tertawa lepas.

Kata Didik, tidak gampang memonitor kondisi seniman satu per satu, karena jumlah seniman cukup banyak. Sehingga Pemerintah Daerah (Pemda) kesulitan juga untuk memberikan perhatian.

"Kita kadang tidak tahu kalau tidak ada informasi, kalau lewat jalur pemerintah, pemerintah itu juga tidak gampang, apalagi dengan adanya KPK dan seterusnya. Ke depan mungkin ada program kepedulian untuk seniman-seniman yang butuh perhatian, ada tim yang memantau, karena senimannya sak abrek (banyak)," urainya.

Didik mengaku tidak melakukan persiapan khusus untuk acara ngamennya itu. Ia membawa topeng yang setiap kali akan membantunya membentuk karakter di panggung.

"Saya menari spontan saja. Saya bawa topeng, saya mainkan. Apapun jadi lah. Yang penting bisa menghibur," ungkapnya.

Didik pun kembali berbaur dengan penonton setelah seorang seniman ngidung (menyanyi Jawa) dengan iringan tepuk tangan para penonton. Ia bergabung ikut berjalan memutar sambil mengiringi kidungan dengan tepukan tangan.

Bersamaan Didik menarik satu per satu penonton agar ikut menari bersama-sama dan berjalan memutar.

Turut dalam acara ngamen itu, para seniman senior di Malang Raya. Sebagian unjuk kebolehan dengan kemampuan berkesenian masing-masing. Seniman-seniman muda juga turut ambil bagian di antaranya lewat tarian remong, kuda lumping dan flashmob.

Sementara dari hasil pertunjukkan, panitia berhasil mengumpulkan dana Rp20 Juta. Dana tersebut diserahkan kepada perwakilan keluarga. [cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Seniman Indonesia
  3. Malang
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini