Kronologi KPK Tangkap Tangan Hakim PN Balikpapan

Sabtu, 4 Mei 2019 18:11 Reporter : Merdeka
Kronologi KPK Tangkap Tangan Hakim PN Balikpapan Gedung baru KPK. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Hakim Pengadilan Negeri Balikpapan, Kayat, lantaran diduga menerima suap pemulusan perkara pemalsuan surat atau penipuan. Selain Hakim Kayat (KYT), KPK juga menangkap empat orang lainnya.

Yakni Sudarman (SDM), selaku pihak yang berperkara dalam kasus pemalsuan surat, advokat Jhonson Siburian (JHS), staf Jhonson (RIS), dan panitera muda Fahrul Azami (FAZ).

Penangkapan terhadap kelimanya bermula dari informasi masyarakat akan terjadinya penyerahan uang dari Jhonson kepada Hakim Kayat. Diduga, penyerahan uang untuk membebaskan terdakwa Sudarman dari perkara pidana dengan dakwaan penipuan yang disidang di PN Balikpapan.

"Sekitar pukul 17.00 WITA, Jumat, 3 Mei 2019 di halaman parkir depan PN Balikpapan, RIS terlihat berjalan ke arah mobil KYT yang diparkir di depan PN Balikpapan membawa sebuah kantong kresek plastik hitam (dua lapis) berisikan uang Rp 100 juta," ujar Wakil Ketua KPK, Laode Syarif, di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (4/5).

Syarif mengatakan, saat RIS sampai di mobil berwarna silver yang diduga merupakan mobil Kayat dan ingin meletakkan uang tersebut mobil dalam keadaan terkunci. Kemudian RIS menghubungi Kayat agar membuka kunci mobilnya.

Hakim Kayat kemudian membuka kunci mobil dari kejauhan menggunakan remote control. Setelah mobil terbuka, Jhonson mendatangi RIS dan meletakkan uang dalam plastik kresek tersebut di kursi mobil silver, dan kemudian satu lapis kresek hitam lainnya digunakan untuk membawa botol minuman bekas sambil berjalan menjauhi mobil tersebut.

"Diduga hal ini dilakukan agar seolah-olah tetap terlihat membawa kantong kresek hitam meskipun uang telah ditinggalkan di mobil KYT," kata Syarif.

Tidak lama berselang, setelah RIS dan Jhonson pergi, Hakim Kayat datang ke mobil silver tersebut kemudian tim segera mengamankan Hakim Kayat dan barang bukti uang Rp 100 juta di dalam tas kresek hitam yang ada di mobil tersebut serta uang Rp 28,5 juta yang ada di tas Hakim Kayat.

"Kemudian tim lain juga mengamankan JHS dan RIS yang masih berada di lingkungan PN Balikpapan," kata Syarif.

Tiga orang tersebut kemudian dibawa ke Kantor Kepolisian Daerah Kalimantan Timur. Kemudian tim membawa Jhonson ke kantornya dan mengamankan uang Rp 99 juta dalam bentuk Rp 100 ribuan di sana.

"Diduga uang ini merupakan bagian uang yang diberikan SDM untuk mengurus perkara pidana di PN Balikpapan," kata Syarif.

Setelah itu tim menuju rumah Sudarman di daerah Jalan Soekarno Hatta, Balikpapan. Di sana, pada pukul 19.00 WITA tim mengamankan Sudarman dan pukul 21.00 WITA, tim mengamankan Fahrul di rumahnya.

"Setelah itu kelimanya dibawa ke kantor KPK," kata Syarif.

Atas OTT tersebut, KPK menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Yakni Hakim Pengadilan Negeri Balikpapan, Kayat Advokat Jhonson Siburian, dan pihak swasta Sudarman.

Hakim Kayat dijanjikan menerima suap sekitar Rp 500 juta dari Sudarman yang tengah berperkara di Pengadilan Negeri Balikpapan. Sudarman terjerat kasus pemalsuan surat bersama dua terdakwa lainnya.

Sebagai pihak yang diduga penerima, Kayat disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau huruf c atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sebagai pihak yang diduga pemberi, Sudarman dan Jhonson disangkakan melanggar pasal 6 ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 .

Dalam kasusnya, Sudarman dituntut 5 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum. Lantaran sudah dijanjikan uang Rp 500 juta, Sudarman divonis bebas oleh Hakim Kayat.

Sudarman berjanji akan memberikan Rp 500 juta jika tanahnya di Balikpapan laku terjual. Namun hingga divonis bebas, janji tersebut belum terealisasi. Sudarman sempat memberikan sertifikat tanahnya kepada Hakim Kayat, namun Hakim Kayat meminta agar janji tersebut dibayar tunai.

Menurut Syarif, saat Sudarman mendapat uang muka Rp 250 juta atas tanahnya tersebut, Sudarman pun memberikan uang Rp 200 juta kepada Jhonson agar diberikan kepada Hakim Kayat.

"Selanjutnya JHS menyerahkan uang sebesar Rp 100 juta kepada KYT di Pengadilan Negeri Balikpapan. Sedangkan Rp 100 juta lainnya ditemukan di kantor JHS," kata Syarif.

Reporter: Fachrur Rozie
Sumber: Liputan6.com [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini