Kronologi Bocah 8 Tahun di TTS Meninggal Usai Digigit Anjing Rabies
Merdeka.com - Satu korban gigitan anjing rabies di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), dinyatakan meninggal dunia, Jumat (23/6) kemarin.
Bocah berusia delapan tahun berinisial FM asal Desa Fae, Kecamatan Amanatun Selatan itu sempat dirawat satu pekan di Puskesmas Oinlasi. Ternyata korban digigit pada Bulan Februari lalu dan tidak divaksin antirabies (VAR).
Kronologi yang diterima merdeka.com dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, Ria Tahun menyebutkan, korban FM digigit bersama delapan orang lainnya oleh satu ekor anjing pada 10 Februari 2023 lalu.
"Seekor anjing tiba-tiba menggigit sembilan orang termasuk pemilik anjing bernama Martha Misa dan setelahnya meninggal dunia, namun menurut keluarga meninggal dunia akibat kanker," kata Ria Tahun, Senin (26/6).
Menurutnya, sembilan korban gigitan anjing masing-masing berinisial LS (64) yang digigit di bagian perut bagian kanan, namun tidak langsung dicuci lukanya, AM (6) digigit pada tangan kanan dan digaruk tepat di dahi. Saat itu luka bekas gigitan dicuci menggunakan air panas dan ditempel bubuk kopi.
Korban lain FM (13) digigit pada bagian bokong bagian kanan, namun lukanya tidak langsung dicuci. DA (12) digigit pada tangan dengan kondisi tergores dan berdarah namun tidak langsung dicuci. Korban SM (12) juga mendapatkan gigitan pada tangan namun tidak dicuci.
Sedangkan korban WMK (13) digigit anjing pada tangan kanan dan bokong bagian kanan, namun tidak langsung dicuci menggunakan air mengalir. Korban SJM (3) juga digigit pada tangan kiri serta pelipis kanan, dan langsung dicuci menggunakan air panas lalu ditaburi bubuk kopi.
"Kalau pemilik anjing bernama Martha Misa dinyatakan meninggal dunia setelah digigit. Sementara korban FM sempat dirawat di Puskesmas Oinlasi sebelum meninggal dunia," kata Ria Tahun.
Ia menjelaskan, anjing diduga hewan pembawa rabies (HPR) yang menggigit sembilan korban itu langsung dieliminasi dan dikubur warga setempat. Kondisi anjing pun berbadan gemuk, namun sangat liar perilakunya usai menggigit.
"Pemilik anjing Martha Misa meninggal dunia pada 27 Februari, tapi menurut keluarga karena kanker payudara yang diderita sejak tahun 2021. Tetapi kajian lanjutan belum dapat keterangan dan tidak ada informasi, atau pun yang terkena gigitan berobat ke puskesmas," ungkap Ria Tahun.
Semua korban baru diketahui terkena gigitan anjing rabies setelah korban FM diantar oleh ibu bersama tantenya ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan, dengan keluhan demam tinggi dan gelisah.
"Saat itu pasien (FM) diantar oleh ibu dan tantenya dengan keluhan demam dan lari sembarang (gelisah) sejak tiga hari lalu. Pasien demam sejak 13 Juni 2023 dan pasien juga tidak bisa tidur sejak 14 Juni 2023. Minum mulai gemetaran sejak tanggal 15 Juni 2023," ujar Ria Tahun.
Ironisnya, keluarga FM tidak pernah melapor setelah korban digigit anjing sehingga tidak pernah mendapatkan VAR. Pasien juga tidak memiliki riwayat trauma sebelumnya, namun hasil pemeriksaan saat tiba di Puskesmas yakni, kesadaran Halusinasi +, S: 39.3 derajat celcius, serta matanya cekung.
Ria Tahun menceritakan, saat diberikan air FM gemetaran namun masih bisa minum sedikit. Saat dikipaskan angin FM pasien ketakutan, pasien kemudian dikonsulkan curiga rabies dan disarankan supportif paliatif.
"Tujuh orang korban gigitan anjing yang belum muncul gejala sudah mendapatkan VAR," tutupnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya