Kivlan Zen Ajak Elemen Bangsa Hilangkan Dendam Demi Rekonsiliasi Nasional
Merdeka.com - Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen mengajak seluruh elemen bangsa untuk duduk bersama guna menyelesaikan masalah yang mengiringi perjalanan sejarah Indonesia pada masa lalu. Dia juga meminta para jenderal mau buka-bukaan terkait tragedi hilangnya aktivis di akhir masa orde baru.
Ajakan disampaikan mantan Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) ABRI itu, saat menjadi pembicara pada acara diskusi 'Pelurusan Sejarah 1998' di Solo, Kamis (28/3) petang. Hal tersebut penting sebagai upaya untuk menghentikan segala dendam dan demi rekonsiliasi nasional.
"Masyarakat dibingungkan dengan pengakuan yang berbeda-beda dari para pelaku sejarah. Sebut saja Wiranto, Prabowo, hingga Agum Gumelar yang baru-baru ini memberikan pernyataan," katanya.
Pada kesempatan tersebut, Kivlan yang menjadi pelaku sejarah memberi pengakuan bahwa Prabowo Subianto tidak pernah melakukan penculikan atau pembunuhan aktivis. Tidak seperti yang dikatakan oleh Wiranto dan Agum Gumelar, bahwa Prabowo lah yang bertanggung jawab atas kasus itu.
"Makanya kita rekonsiliasi nasional, kita buka di meja, siapa saja ngaku dosa, kemudian mari kita melangkah ke depan. Banyaknya dendam membuat Indonesia tidak maju-maju," katanya.
Kivlan menyatakan, penyelesaian masalah dapat dilakukan melalui Komnas HAM ataupun badan kerukunan nasional. Sehingga Indonesia tidak lagi menjadi negara yang terus menyimpan dendam.
"Saya sarankan, kita selesaikan lewat badan kerukunan. Dendam sejarah ini sampai kiamat enggak pernah selesai, seperti di Spanyol, Chili, kan dendam terus," katanya.
Menurut Kivlan, rekonsiliasi nasional bukan hanya terkait tragedi 1998 atau seputar jatuhnya orde baru, namun juga berlaku untuk kasus lain, seperti PKI hingga DI/TII. Menurutnya, tanpa rekonsiliasi, bangsa Indonesia tidak akan bisa maju.
"Dendam sama PKI, dendam sama DI/TII, dendam sama Permesta. Bangsa ini enggak akan pernah maju. Negara lain maju, kita tetap ribut dengan masalah-masalah itu," jelasnya.
Kivlan juga mencontohkan hingga saat ini kasus hilangnya Widji Thukul belum pernah terungkap. Demikian juga dengan kasus pembunuhan Munir yang masih menyimpan banyak misteri.
Saya sendiri juga tidak tahu kasus itu," katanya.
Kasus-kasus yang diliputi misteri itu, lanjut Kivlan, selalu berpotensi untuk menjadi isu liar dan menyisakan dendam yang tidak pernah selesai.
"Yang dosa harus mengaku dosa, kemudian kita harus mulai melangkah ke depan," pungkas dia.
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya