Kisah silat para penjaga hutan di Nusakambangan

Senin, 1 Januari 2018 22:00 Reporter : Abdul Aziz
Kisah silat para penjaga hutan di Nusakambangan MMP Nusakambangan Barat. ©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz

Merdeka.com - Pada penghujung tahun 2017 matahari bersinar terik di Pantai Karanglenang Nusakambangan. Sepuluh laki-laki berbaju loreng, berkulit cokelat gelap menyandarkan perahu ke bibir pantai. Pasir begitu putih, suara ombak mengalun dan kesepuluh lelaki itu bersiap menuju kawasan Bantarpanjang pesisir Pantai Kalijati yang berjarak 3 kilometer.

Setiap minggu, kesepuluh lelaki itu memang berpatroli menjaga kawasan hutan di ujung barat pulau Nusakambangan yang tersohor dengan sebutan pulau bui. Mereka adalah perpanjangan tangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah RKW Cilacap. Kesepuluh lelaki itu berasal dari Desa Ujung Gagak Kecamatan Kampung Laut Kabupaten Cilacap yang berbatas sungai dengan Nusakambangan.

Dipilih oleh desa menjadi Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MMP), kesepuluh lelaki itu dianggap punya kelebihan. Mereka menguasai ilmu silat yang diklaim turun temurun bernama ilmu Konto. Seni beladiri itu dianggap pula punya ketangkasan yang mematikan dengan mengandalkan ilmu kosong dan pertama kali diajarkan oleh Mbah Ranu di tahun 60-an.

Koordinator MMP Nusakambangan Barat, Rohim Effendi (45) bercerita ilmu silat Konto hanya diajarkan pada keturunan Kampung Laut. Bertujuan utama membela diri, tahapan pelajaran ilmu konto paling dasar yakni 6 jurus tak bernama. Sedang tingkatan kedua berupa kembangan yang terdiri dari 16 bagian di antaranya Protok Watu, Tiga Lobang, Harimau dan Ketek Ngilo. Ilmu silat dikembangkan karena warga Kampung Laut sejak dahulu sampai kini terbiasa berlayar dan memasuki hutan seorang diri sehingga mesti bisa menjaga keselamatan.

"Kami semua dari perguruan yang sama. Hanya dengan bekal ilmu silat ini kami menjaga hutan dari ancaman pembalakan dan penebangan liar," kata Rohim pada Merdeka.com saat berbincang di muara pantai Kalijati, Minggu (31/12).

Sejak dibentuk tahun 2012, mereka telah beberapa kali menggagalkan penebangan liar. Mereka sadar, upaya penjagaan hutan yang mereka lakukan juga beresiko menghilangkan nyawa. Tapi mereka melihat masa depan, jika Nusakambangan dibiarkan alamnya hancur maka bakal jadi petaka pula bagi kampung mereka. Pasalnya Nusakambangan adalah benteng perlindungan dari ancaman tsunami dan gelombang besar samudera hindia.

Rohim bercerita selama ini, kekuatan mereka adalah kekompakan. Sejauh pengalaman selama 5 tahun, ia mengaku MMP Nusakambangan Barat sendiri belum pernah mengalami perseteruan hebat dengan penebang liar. Rata-rata para penebang takluk saat tertangkap tangan oleh mereka.

"Kalau kejadian lucu ada juga. Pernah sore begini kami bersepuluh berlatih di pantai. Kami dianggap teroris dan didatangi angkatan laut. Tapi taka da bentrok," ujarnya.

Di antara kesepuluh lelaki tersebut, anggota paling tua yakni Ngadiman (60). Dia paling dihormati dan merupakan murid langsung dari Mbah Ranu, guru besar ilmu Kanto. Ngadiman disapa oleh anggota yang lain dengan sebutan pendekar.

Ngadiman sendiri tak banyak bicara. Ia hanya bercerita mulai belajar ilmu Kanto sejak tahun 1983. Setelah mbah Ranu meninggal, ia dipercaya untuk mengajarkan ilmu silat Kanto pada siapapun warga Kampung Laut yang tertarik.

"Capaian paling puncak Kanto itu rusia. Gerakan-gerakan khusus yang mematikan. Karena mematikan ini, ilmu ini dahulu pernah dilarang untuk diajarkan," kata Ngadiman.

Ngadiman sendiri di MMP juga ditemani oleh anaknya, Yacob (32) yang juga merupakan anggota termuda. Seperti sang bapak, Yacob juga banyak bersikap diam. Tampangnya ala militer, berambut cepak, berkulit legam dan lengannya dipenuhi tato.

"Masyarakat Kampung Laut memang dikenal urakan. Tapi kami punya kesadaran pada pelestarian alam. Justru yang membuat sedih, Nusakambangan dirusak oleh orang luar kebanyakan dari Jawa Barat. Padahal sejak dahulu kami menjaga Nusakambangan dan hewan-hewan juga tumbuhan di dalamnya adalah sahabat kami," ungkapnya.

Satu pendekar dan sembilan muridnya ini, adalah sisi lain kehidupan di Pulau Nusakambangan yang terpencil. Kesepuluh lelaki itu, di kehidupan biasa adalah para pelayar tangguh yang terbiasa dengan debur ombak samudera hindia yang berbatasan langsung dengan Nusakambangan. Di tengah segala keterbatasan mereka punya kepedulian menjaga kelestarian alam.

Memang diakui oleh Rohim, kerja pengawasan hutan yang mereka lakukan belum optimal. Tanpa alat komunikasi dan alat transportasi perahu fiber seadanya, gerakan mereka kalah cepat dengan para penebang liar.

"Kami sudah dipercaya oleh warga. Jadi setiap ada informasi tentang ancaman hutan kami selalu bergerak. Memang ada anggaran dari BKSDA, yakni biaya operasional Rp 1,5 juta untuk satu tim. Kadang kami harus mengeluarkan biaya dari uang sendiri," ujarnya. [rzk]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini