Kisah Penjual Kopi di Tasik, Tak Ada Uang Bayar Denda Razia Terpaksa Bermalam di Bui

Senin, 19 Juli 2021 11:39 Reporter : Mochammad Iqbal
Kisah Penjual Kopi di Tasik, Tak Ada Uang Bayar Denda Razia Terpaksa Bermalam di Bui Ilustrasi penjara. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Asep Lutfi (23), pemilik kedai kopi di Kota Tasikmalaya akhirnya dibebaskan dari Lapas kelas IIB Tasikmalaya pada Minggu (18/7). Sebelumnya, dia menjalani kurungan selama 3 hari, sesuai vonis hakim dalam sidang tindak pidana ringan (tipiring) pada Selasa (13/7) karena terbukti melanggar pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat.

Asep menceritakan pengalamannya tiga hari di dalam lapas. Menurutnya, dia mendapat perlakukan cukup baik. Sempat ditempatkan bersama narapidana lainnya, namun kemudian dipindahkan ke ruangan lain.

"Pindah ke hunian no 1 pada bagian depan sebelah kiri di pojok sendirian," kata warga Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya ini, Senin (19/7).

Pemindahan dilakukan pihak Lapas karena kondisinya yang sudah melebihi kapasitas. Oleh karena itu, demi menjaga protokol kesehatan ia dipindahkan ke sel khusus.

Meski mendapat perlakuan baik, katanya, rasanya tidak ada manusia yang ingin tinggal di balik jeruju besi. Tetapi untuk kesalahan yang dia perbuat, Asep menjalaninya sampai selesai sebagai bentuk konsekuensi yang dilakukannya.

Sebetulnya, kata Asep, kalau memiliki uang berlebih akan memilih membayar denda Rp5 juta dibanding harus merasakan dinginnya sel penjara.

"Tapi uang Rp5 juta itu terlalu besar, jadinya saya memilih di penjara," ungkapnya

Setelah keluar dari penjara, ia mengaku akan kembali membuka usaha kopinya, namun dengan tetap mengikuti aturan dengan baik. Asep tidak mau mengulang kesalahannya sebab dia yakin aturan itu juga demi kepentingan masyarakat banyak, terutama dalam menekan penyebaran Covid-19.

Ia berharap agar masyarakat senantiasa menaati aturan PPKM darurat dan tidak melanggarnya.

"Jangan seperti saya. Soalnya, aturan darurat ini memang untuk kepentingan banyak orang guna menekan penyebaran virus korona," tutup Asep.

Sebelumnya, seorang pemilik kafe di Kota Tasikmalaya, Asep Lutvi Suparman (23) pada Selasa (13/7) menjalani sidang tindak pidana ringan (tipiring). Sidang tersebut dia hadiri karena sebelumnya terjaring operasi yustisi pelanggar aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang dilaksanakan Satgas Penanganan Covid-19 Kota Tasikmalaya.

Dalam sidang itu, Asep dinyatakan bersalah oleh hakim yang memimpin persidangan. Dia diharuskan membayar denda sebesar Rp5 juta subsider kurungan penjara 3 hari. Sempat kaget mendengar putusan itu, Asep akhirnya memilih untuk dikurung dibanding membayar denda.

Asep mengakui dirinya bersalah melanggar aturan PPKM Darurat. Saat itu, kafe Look up miliknya didatangi Satgas Covid-19 Kota Tasikmalaya pada Rabu (7/7) malam.

"Saya memang salah karena menyalahi aturan melayani pembeli yang makan di tempat. Kebetulan yang beli juga teman-teman saya. Saya sempat hanya melayani take away selama 3 hari, tapi pembeli sepi," kata Asep saat ditemui wartawan.

Asep mulai menjalani hukuman kurungan penjara pada Kamis (15/7). Dia akan menjalani hukuman 3 hari kurungan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tasikmalaya.

Asep mengaku cukup kaget saat tahu akan dipenjara di dalam Lapas. Awalnya dia mengira akan menjalani hukuman tersebut di kantor polisi, baik di Polsek, atau Polres.

"Tahunya ternyata di Lapas. Tapi ya jalani saja," ucap Asep saat diwawancarai saat hendak dibawa masuk ke Lapas Tasikmalaya.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas IIB Tasikmalaya Davy Bartian memastikan bahwa pelanggar Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat akan diperlakukan dengan baik. Mereka akan dipisahkan dari warga binaan lain.

Pernyataan Davy ini terkait hukuman kurungan 3 hari yang harus dijalani Asep Lutfi (23) karena melanggar aturan PPKM Darurat. Dia diserahkan ke Lapas Kelas IIB Tasikmalaya setelah diputus bersalah dalam sidang tindak pidana ringan (tipiring).

"Tentu kami terima semata-mata untuk menjalankan tugas dan putusan pengadilan," kata Davy, Sabtu (17/7). [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini