Kisah mudik Lebaran, kehabisan bensin sampai pisah dari istri
Merdeka.com - Mudik atau pulang ke kampung halaman sudah jadi tradisi masyarakat Indonesia. Terutama bagi mereka yang merantau ke kota besar. Lebaran atau Idul Fitri jadi momentum untuk berkumpul bersama keluarga. Segala cara dilakukan untuk bisa mudik. Mereka rela menempuh perjalanan puluhan bahkan ratusan kilometer demi merayakan Idul Fitri bersama keluarga tercinta.
Persiapan dan kesibukan sudah terlihat jauh hari sebelum Lebaran. Ada yang berburu tiket kereta, bus, kapal feri, dan pesawat. Ada pula yang mempersiapkan kendaraan pribadi yang akan digunakan untuk perjalanan jauh menuju kampung halaman.
Selalu ada cerita di balik persiapan dan perjalanan mudik ke kampung halaman. Kisah yang dialami langsung oleh pemudik, petugas kepolisian, pemerintah daerah, dan mereka yang terlibat dalam arus mudik. Merdeka.com merangkumnya. Berikut paparannya.
Penumpang fanatik
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPenumpang fanatik, itulah sebutan untuk pemudik jarak tempuh jauh yang rela menunggu bahkan menginap di terminal untuk menunggu kedatangan bus yang Ia suka.
Adanya Penumpang fanatik dibenarkan keberadaannya oleh Kepala Terminal Kampung Rambutan Emiral August. Emiral mengatakan, banyak contoh para penumpang fanatik di Terminal Kampung Rambutan.
"Banyak fanatik kaya PO Budiman, Gapuraning Rahayu, Sinarjaya, itu ada yang fanatik," Ujar Emiral kepada merdeka.com, Senin (4/7).
Emiral menjelaskan, adanya pemudik fanatik itu disebabkan oleh faktor pelayanan penyedia bus itu sendiri, baik dari segi fasilitas sampai tarif.Â
"Faktor pelayanan-pelayanan atau tarif itu dari PO nya (Perusahaan Otobus), itu yang bikin fanatik. Makanya kepercayaan itu mahal," Kata Amiral.
Fenomena Pemudik Fanatik ini bukanlah hal yang baru, menurut Amiral fenomena ini sudah sejak lama ada. "Untuk pemudik fanatik itu udah dari lama, dari dulu sudah ada," pungkasnya.
Kehabisan bensin
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMacet parah terjadi di pintu keluar tol Brebes Timur menuju Pemalang, Pekalongan sejak 2 Juli lalu. Tidak sedikit akibat lalu lintas lumpuh ini, banyak kendaraan yang mogok di tengah jalan karena pasokan bensin yang tidak memadai.
Polres Tegal Jawa Tengah menggandeng stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) membagikan bahan bakar minyak (BBM) secara gratis untuk kendaraan pemudik yang mogok guna mengantisipasi kemacetan lalu lintas.
"Kita koordinasi dengan pom bensin untuk menyediakan 50 jerigen isi lima liter," kata Kapolres Tegal Ajun Komisaris Besar Polisi Adi Vivid melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (4/7).
Di hari ketiga menjelang lebaran, kemacetan parah sebelum dan setelah pintu tol Brebes Timur hingga Tegal. Menunggu berjam-jam dengan mesin kendaraan menyala membuat beberapa pemudik kehabisan bahan bakar.
Aksi simpatik itu dilakukan Kapolres Tegal AKBP Adi Vivid di jalur pantura Tegal, Minggu (3/7) siang. Seperti dikutip dari Tribratanews, tampak kapolres menenteng jeriken berisi bensin 5 liter.
Dia kemudian mendekati sebuah mobil Daihatsu Xenia berwarna hitam yang berhenti di pinggir jalan karena kehabisan bahan bakar. Adi kemudian menuangkan sendiri bensin ke tangki mobil.
Adi menyatakan, pemberian bantuan BBM ini supaya kendaraan yang mogok tidak menambah kemacetan di jalur pantura. "Agar tidak terjadi ketersendatan arus dan mobil dapat berjalan hingga ke lokasi rest area atau menuju ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum," ujarnya.
Pemilik mobil, Yanti (40) mengucapkan terima kasih atas bantuan BBM yang diberikan kapolres. Yanti dan keluarganya hendak menuju Sragen dalam rangka mudik lebaran. Usai diisi kembali Ibu Yanti kembali melanjutkan perjalanannya bersama rombongan.
Pisah dari istri
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comJoko (39) dan Sri Lestari (35) istrinya baru bisa bernapas lega. Berbaur degan ratusan pemudik lainnya di Stasiun Senen, Jakarta Pusat, pasangan ini menunggu jadwal keberangkatan kereta pukul 12.00 WIB nanti untuk mudik ke kampung mereka di Klaten, Jawa Tengah.Â
Joko mengisahkan betapa sulitnya mendapat tiket sejak dua bulan lalu. Rasa jemu menunggu antrean yang panjang akhirnya berbuah manis seperti hari ini. Dia bersama keluarga bisa mudik dengan harga tiket yang lumayan murah.Â
"Saya beli di Indomart dua bulan lalu. Susah dapatnya karena banyak yang sudah mencari tiket," kata Joko kepada merdeka.com di Stasiun Senen, Senin (3/7).Â
Namun demikian, Joko dan sang istri tidak bisa berangkat bersama-sama. Dalam tiket yang dipegangnya, dia baru berangkat pukul 24:00 WIB nanti. "Istriku berangkat duluan. Saya jam 12 malam nanti," jelas dia.
Turis Prancis ingin tahu budaya mudik
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSelepas melakukan inspeksi mendadak ke Terminal Pulogebang, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama langsung bertolak ke terminal Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (4/7). Sebelum pulang, Ahok sapaan Basuki sempat berbincang dengan dua turis asing asal Prancis yang hendak naik bus menuju Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Ahok bertanya pada pasangan turis asing itu alasan mereka rela naik bus dan berdesak-desakan di musim mudik seperti saat ini. Sebab, saat musim mudik, tentu jalur menuju Yogyakarta menjadi sangat macet, penumpang yang membludak dan waktu tempuh yang pastinya sangat lama.
Kepada Ahok, salah seorang turis mengaku ingin mengetahui lebih dalam tentang budaya Indonesia, termasuk soal budaya mudik saat libur lebaran dan cuti bersama. Usai terlibat perbincangan singkat, Ahok pun bercerita soal pengakuan sang turis kepada awak media.
"Ingin mengenal budaya Indonesia. Mau merasakan lebaran di Yogyakarta. Mudah-mudahan tidak macet," kata Ahok menirukan jawaban dua turis itu.
Dia mengatakan dua pelancong itu ingin menikmati menjadi penduduk indonesia dengan kebiasaan mudiknya saat lebaran.
"Dia mau nikmatin, ngerasain, jadi penduduk Indonesia yang biasa gimana. Ya, saya bilang, mudah-mudahan tidak stres karena macet," ujar mantan Bupati Belitung Timur sambil tersenyum.
Hotel Pertamina
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comJarum jam menunjukkan pukul 01.30 WIB. Udara terasa cukup dingin menusuk kulit. Di teras musala salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina di daerah Gombong Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Najwa (3) tampak terlelap di pangkuan ibunya Yasmi Herni (29) yang berusaha melawan rasa kantuk setelah berjam-jam menempuh perjalanan menuju kampung halamannya. Sang ayah, Irwan (30) juga terlelap di atas lantai musala.
Pasangan muda ini harus berjibaku menempuh perjalanan mudik dari rumah mereka di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat menuju kampung halamannya di Boyolali, Jawa Tengah. Area SPBU di sepanjang jalur mudik Pulau Jawa biasa menjadi pilihan pemudik untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang. Jangan heran jika hampir di setiap SPBU terlihat penumpukan kendaraan baik sepeda motor maupun mobil pribadi. Pemudik menyebut SPBU sebagai "Hotel Pertamina". Disebut hotal karena tersedia berbagai fasilitas, mulai dari toilet, kamar mandi, musala dan mini market, meski tidak menyediakan kamar.
Pengelola musala tidak mengizinkan siapa pun tidur di dalamnya. Kecuali untuk beribadah. Karena itu, pemudik yang tidak kuat menahan kantuk dan lelah terpaksa tidur di teras luar musala. Sebagian anak-anak tertidur dalam balutan udara dingin.
Meski pemerintah sudah mengupayakan menekan angka pemudik sepeda motor, tapi tetap saja masih banyak masyarakat yang membawa anak dan istri menempuh perjalanan jauh dengan menggunakan sepeda motor. Masih terlihat anak-anak duduk di bagian depan ayahnya yang mengemudikan sepeda motor. Banyak pula pemudik sepeda motor yang membawa penumpang atau barang berlebihan. Padahal ini sangat membahayakan.
"Kalau boleh memilih, siapa sih yang tega bawa anak berpanas-panas dan kehujanan naik sepeda motor? Jaraknya jauh pula," kata salah satu pemudik yang menggunakan sepeda motor seperti dilansir Antara.
Dia menuturkan, sepeda motor dipilih karena biaya murah dan bisa dipakai saat silaturahmi ke keluarga di kampung halaman. "Saya tidak punya pilihan lain selain sepeda motor karena memang hanya itu yang saya punya," katanya.
Pemudik sepeda motor lainnya, Musri Wijaya juga memberikan jawaban hampir sama ketika ditanya alasannya menggunakan sepeda motor.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya