Kisah Asep Arsyad, Mantan Kombatan yang Kembangkan Koperasi Mantan Teroris

Jumat, 17 Mei 2019 04:06 Reporter : Mochammad Iqbal
Kisah Asep Arsyad, Mantan Kombatan yang Kembangkan Koperasi Mantan Teroris Asep Arsyad al Sadaad eks napi teroris. ©2019 Merdeka.com/Mochammad Iqbal

Merdeka.com - Asep H Arsyad al Sadaad (50) sudah meninggalkan masa lalunya yang hitam. Dia dulu pernah terlibat dalam aksi terorisme dan kekerasan. Tapi itu dulu, kini dia tengah mengembangkan berbagai usaha bersama para mantan gerakan radikal lainnya.

Sejak beberapa tahun lalu, Asep Arsyad memutuskan tidak lagi terlibat aksi terorisme. Saat ini, dia bersama 200 orang mantan teroris dan gerakan radikal mendirikan badan usaha berupa Koperasi Komunitas Mantan Narapidana Teroris dan Gerakan Aktivis Radikal yang disingkat Kontantragis.

"Koperasi ini didirikan tahun 2017 lalu, tepatnya pada tanggal 28 Oktober. Yang kita kembangkan adalah usaha bidang produksi kopi, sabun cuci muka, sabun pembersih lantai, dan cokelat bubuk," kata dia di Nusa Indah, Kelurahan Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Kamis (16/5).

Menurutnya, setiap koperasi memiliki ciri khas tersendiri, namun yang menyatukan adalah kepentingan dan kemajuan bersama. Koperasi Kontantragis terbentuk usai dirinya bertemu dengan Budi, korban pengeboman Hotel JW Marriot, Jakarta.

"Kepada para mantan narapidana, kami mengajak untuk bergabung dan mengubah paradigma tidak dengan kekerasan atau pedang. Mari kita mengubah paradigma dengan usaha yang baik, memberikan contoh layaknya seorang muslim," ucapnya.

Koperasi yang didirikan sudah berjalan di beberapa kota. Mulai dari Garut, Tasikmalaya, dan Purwokerto. Untuk produk yang dihasilkan koperasinya selama ini dipasarkan ke sejumlah pesantren yang berada di beberapa daerah.

Dia mengakui, tidak jarang antara produksinya tak seimbang dengan permintaan pasar karena beberapa persoalan. "Permintaan pasar selalu tinggi, tapi modal yang dimiliki terbatas sehingga butuh dukungan lebih," ucapnya.

Dia mencontohkan, untuk bisa memproduksi 5.000 bungkus kopi setidaknya dibutuhkan modal hingga Rp60 juta. "Alhamdulillah kalau di sisi pemasaran kami tidak menemukan masalah, dan saat ini angka permintaan masih banyak. Tapi masalah kami di kemampuan produksi yang disesuaikan dengan ketersediaan modal saja," ungkapnya. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini