Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono pernah punya cita-cita mulia saat akan kuliah. Ia ingin menjadi seorang dokter. Saat itu Ani Yudhoyono sempat mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Tapi hasilnya tidak memuaskan. Ani Yudhoyono akhirnya mendaftar ke Fakultas Kedokteran UKI. Setelah diterima di kampus tersebut, Ani harus pindah ke luar negeri. Sejak saat itu keinginan Ani Yudhoyono menjadi dokter pupus.
Bagaimana akhirnya Ani Yudhoyono berganti program pendidikan dan memilih jurusan ilmu politik, berikut cerita selengkapnya:
Advertisement
Menjadi dokter adalah cita-cita Ani semasa muda. Dalam buku "Ani Yudhoyono, Kepak Sayap Putri Prajurit", karya Alberthiene Endah terbitan R&W, usai lulus SMA, Ani memilih Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sebagai tujuan utama. Ia mengikuti tes di sana, bersama dengan peserta dari luar daerah.
"Hari-hari menjelang tes masuk adalah masa paling hening buatku. Aku dengar yang mendaftar ke fakultas itu bukan main banyaknya. Pelajar dari luar daerah juga mengidolakan FKUI. Sejak awal aku tahu bahwa ini bukanlah sebuah persaingan mudah," cerita Ani.
Usai menjalani tes masuk, saatnya pengumuman. Namun nama Ani tak masuk dalam daftar nama yang berhasil masuk FKUI.
"Namaku tidak tercantum dalam daftar mahasiswa yang diterima Universitas Indonesia. Kecewa sempat muncul," kenang Ani.
Namun Ani tak berlama-lama kecewa, ia langsung mencari universitas swasta yang bagus. "Tak membuang waktu aku segera mencari universitas swasta yang dikenal memiliki reputasi baik, khususnya fakultas kedokteranya. Nama Universitas Kristen Indonesia (UKI) langsung berkelebat di kepala," kata Ani.
Orangtua Ani setuju dengan pilihan Ani. Ia mengikuti tes masuk di UKI dan diterima.
Advertisement
Ani mulai merelakan cita-citanya sebagai dokter saat ia harus ikut ke Seoul, Korea Selatan. Saat itu Ani ikut sang ayah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan. Ayahnya mengajak sekeluarga untuk ke Seoul. "Ayo anak-anak ikut pindah ke sana. Nanti kamu bisa melanjutkan kuliahnya di sana," kata Ani.
Begitu pindah ke Korsel, Ani kaget karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Korea, dan itu menyulitkan Ani. "Bisa saja saya melanjutkan, tapi berbahasa Korea. Wah saya nggak sanggup deh. Karena belajar begitu, untuk bisa memasuki kuliah paling engga dua tahun," terang Ani.
Pupus sudah keinginan Ani untuk menjadi dokter. Kemudian Ani kembali ke Indonesia. Tiba di Indonesia, Ani menikah dengan SBY tahun 1976. Menikah dengan seorang militer, berarti Ani harus siap tinggal berpindah-pindah tempat.
Ani mulai bingung, apakah harus melanjutkan kuliah kedokteran atau tidak. "Kemudian saya melanjutkan, ga mungkin melanjutkan kuliah kedokteran. Karena kalau kuliah kedokteran itu kan ga bisa berpindah-pindah seperti itu. Sedangkan saya sudah menjadi seorang istri harus mengikuti kemanapun suami pergi," kata Ani.
Ani mulai berpikir ingin tetap kuliah dan mendapat ilmu, sekaligus menjadi seorang istri yang baik dan bisa mengurus keluarga. Akhirnya ia memilih Universitas Terbuka. Di sana Ani memilih Fakultas Ilmu Politik.
"Waktu itu ada Universitas Terbuka, nah inilah pilihan saya. Karena saya bisa mendampingi suami, kemudian juga mengasuh anak-anak saya. Tetapi juga mengikuti pendidikan jarak jauh." kata Ani.
Advertisement
Ani akhirnya memilih Fakultas Ilmu Politik di Universitas Terbuka. Mengapa Ani memilih Ilmu Politik? Alasannya saat itu jurusan program pendidikan belum banyak.
"Waktu itu memang jurusannya belum banyak. Dan akhirnya yang penting pokoknya saya menambah ilmu saya. Karena di situ juga ada ilmu perpajakan, ada ilmu perkantoran, ilmu politik, dan lain-lainnya. Ilmu sosial itu juga ada. Oleh karena itu, mengapa saya tidak mengambil yang ini (ilmu politik)," kata Ani.
Bagi Ani, ilmu politik juga berpengaruh di kehidupannya, seperti memimpin organisasi. "Siapa tahu saya bisa, saya gunakan juga untuk memimpin organisasi," kata Ani.
Dan ternyata ilmu politik tersebut berguna untuk organisasi. Organisasi istri prajurit. "Tapi belakangan malah saya ketahui, ternyata justru ilmu inilah yang paling banyak mendukung Pak SBY, ketika Pak SBY juga akhirnya terjun ke bidang politik," kata Ani.