Khofifah sebut cikal bakal Hari Santri dari Kampung Maspati Surabaya

Senin, 22 Oktober 2018 23:41 Reporter : Moch. Andriansyah
Khofifah sebut cikal bakal Hari Santri dari Kampung Maspati Surabaya Gubernur Jatim terpilih Khofifah di Kampung Maspati Surabaya. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Gubernur Jawa Timur terpilih, Khofifah Indar Parawansa menyebut Kampung Maspati di Surabaya memiliki peran besar lahirnya resolusi jihad yang diserukan KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945.

"22 Oktober itu kan sentralnya di Surabaya. Titik yang memberikan penguatan dan sejarah besar bagi Indonesia, terutama Kampung Maspati yang sekarang disebut Kampung Lawas ini punya peran besar," kata Khofifah saat mengunjungi kampung lawas untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2018, Senin (22/10).

Menurut mantan Menteri Sosial ini, penetapan HSN oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang di tahun ini merupakan tahun keempat, terkait erat dengan resolusi jihad yang melatarbelakangi pertempuran 10 November di Surabaya.

"Jadi betapa resolusi jihad itu menseyogyakan seluruh santri berjihad untuk mempertahankan kemerdakaan RI, dan titik-titiknya cukup banyak yang sentralnya ada di Kampung Lawas ini," terangnya.

Karena itulah, Khofifah mengaku menyambut positif keinginan Ketua RW VI, Sabar Suwastono untuk mewujudkan Kampung Lawas menjadi Kampung Santri. "Karena HSN memang harus memberikan ruh dari proses resolusi jihad yang dikumandangkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari," katanya tegas.

Tetapi, lanjut perempuan yang juga Ketum PP Muslimat NU ini, terlepas dari keinginan ketua RW tersebut, dia berharap kampung ini menjadi model pelastarian sejarah perjalanan bangsa.

"Itu bisa disaksikan, bisa dilihat tak hanya oleh bangsa Indonesia, tapi dari luar negeri-pun bisa tahu jejak-jejak sejarah Indonesia," ucap alumnus Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.

Terlebih, Khofifah menandaskan, bahwa pelajaran sejarah seringkali tak cukup dilakukan secara interaktif dengan metodologi yang memungkinkan anak-anak mengenal sejarah dengan baik.

"Kalau anak-anak pas pelajaran sejarah lalu diajak ke kampung sini, maka mereka mengenal bagaimana peristiwa turunnya kembali tentaran sekutu, Jenderal Malaby berproses di sini, dan bagaimana para santri mempetahankan NKRI," paparnya.

Kemudian, katanya lagi, dengan mengajak anak-anak sekolah berkeliling di Kampung Lawas sekitar 1 atau 1,5 jam, hal itu relatif mengenalkan anak-anak tentang sejarah mempertahankan proklamasi Kemerdekaan RI dan lahirnya resolusi jihad pada 22 Oktober.

"Kampung ini harus dijaga. Jangan terpengaruh hal-hal negatif seperti narkoba dan lain-lainnya. Anak-anak muda juga harus meramaikan masjid atau musala," harapnya.

Sekadar tahu, di peringatan HSN 2018 ini, Khofifah sengaja memilih mengunjungi Kampung Maspati untuk melihat suasana kampung yang di kanan kiri jalannya terlihat model bangunan lama dan masih terjaga keasliannya. Salah satunya Omah Tua (The House of History 1907) yang dilengkapi kafe dan perpustakaan.

Tak sebatas melestarikan budaya, pemberdayaan UMKM untuk warga juga berjalan dengan baik. Salah satunya memanfaatkan rumah kosong untuk lahan mini kebun cincau, serta menyulap barang bekas tetap bernilai ekonomis.

Sementara kehadiran Khofifah di Kampung Maspati ini disambut antusias warga, yang salah satu bentuk penyambutannya perwakilan warga menyematkan iket (blangkon khas Suroboyoan) ke kepala Khofifah serta sarung untuk selendang khas kaum santri di Surabaya. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini