Ketum PBNU: Menulis kalimat toyyibah di bendera hukumnya makruh

Rabu, 24 Oktober 2018 23:25 Reporter : Hari Ariyanti
Ketum PBNU: Menulis kalimat toyyibah di bendera hukumnya makruh Ketua PBNU Said Aqil Siradj. ©2018 Merdeka.com/Ahda Bayhaqi

Merdeka.com - Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj menyampaikan penulisan kalimat tauhid di bendera maupun medium lainnya seperti tembok dan pakaian hukumnya makruh bagi mayoritas ulama dengan empat mazhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali. Bahkan, ada juga ulama yang berpendapat itu haram.

"Mayoritas ulama dengan empat mazhab itu berpendapat menulis Alquran, kalimat toyyibah di bendera, di tembok, di pakaian, di atap rumah itu makruh. Bahkan ada yang mengatakan itu haram," Hal ini disampaikan Said Aqil saat menggelar konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (24/10).

Said bercerita Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah menampar seseorang karena menulis kalimat Alquran di atas sebuah tembok. Padahal, sosok Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai pemimpin yang santun.

Said Aqil melanjutkan, ada juga ulama yang mengharamkan membuat lukisan dengan tulisan Alquran atau Asmaul Husna. Dikhawatirkan nantinya tulisan dalam lukisan itu bisa menjadi sampah atau dibuang percuma jika tak lagi terpakai. Hal itu justru bisa merendahkan kesucian kalimat Tuhan.

"Khawatir tak bisa menghormati," ujarnya.

Hal ini disampaikan Aqil menyusul ramainya berita pembakaran bendera yang diduga merupakan bendera HTI oleh Banser di Garut, Jawa Barat pada hari Senin (22/10) kemarin. Banyak pihak kemudian bereaksi atas pembakaran bendera tersebut.

"Tidak ada ulama yang menganggap baik menulis kalimat Tauhid, Alquran di bendera. Siapapun. Bukan hanya HTI. Semuanya. Tidak ada ulama yang anggap baik menulis kalimat Tauhid di bendera karena takut kita tidak mampu menghormatinya," pungkasnya.

Sekjen PBNU, Helmi Faishal Zaini menyampaikan di Yaman terjadi konflik politik dengan Saudi Arabia. Masyarakat Yaman pun membakar bendera Arab Saudi yang bertuliskan kalimat Tauhid. Namun di Yaman, tak ada masyarakat yang beranggapan pembakaran bendera itu merupakan bentuk penistaan kalimat Tauhid.

"Di Yaman misalnya terjadi konflik politik dengan Saudi Arabia dan kemudian mereka melakukan pembakaran bendera Saudi Arabia. Saya kira tidak ada yang mengatakan mereka masyarakat Yaman melakukan pembakaran kalimat Tauhid atau menistakan kalimat Tauhid. Karena itu kami menolak segala bentuk mengatasnamakan agama ini untuk kepentingan politik yang akhirnya justru menistakan makna agama itu sendiri," tandas mantan Menteri PDT ini. [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini