Kenangan pemikiran filsafat dan humor Damardjati Supadjar

Rabu, 19 Februari 2014 10:12 Reporter : Laurencius Simanjuntak
Kenangan pemikiran filsafat dan humor Damardjati Supadjar damardjati supadjar. ©ugm.ac.id

Merdeka.com - Almarhum Prof Damardjati Supadjar adalah sosok fenomenal bagi kalangan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan masyarakat Yogyakarta. Pak Damar, demikian ia disapa, dekat di hati mahasiswa dan masyarakat karena pemikiran filsafatnya membumi, disampaikan dengan menggunakan contoh kehidupan sehari-hari.

Bahkan, sering metafora filsafatnya itu justru jenaka, dan membuat orang lain yang mendengarnya pasti tertawa. Namun, humor Pak Damar ini tetap memiliki kandungan filosofis yang selanjutnya membuat mereka merenung.

Seperti diceritakan Tarli Nugroho, peneliti Mubyarto Institute UGM. Almarhum pernah mengatakan kepadanya: "Hidup ini seperti matematika, dan kita harus belajar dari angka nol."

"Kalau diperhatikan, selama manusia hidupnya hanya menjumlah atau menambah, misalnya nambah harta, nambah anak, atau nambah jabatan, niscaya hidupnya tidak akan cepat menuju kesempurnaan, menuju infinitum," kata Pak Damar seperti dituturkan Tarli, Rabu (19/2).

Menurut Pak Damar, demikian juga jika hidup hanya diwarnai dengan perkalian. "Misalnya, kawin hingga empat kali," ujar Pak Damar yang membuat Tarli tak bisa menahan tawa mendengar metafor itu.

Seperti halnya operasi matematik, lanjut Pak Damar, infinitum (ketidakterbatasan) diperoleh jika manusia melakukan pembagian dengan angka nol.

"Dan angka nol itu, dalam bahasa agama, sama dengan ikhlas. Artinya, hidup itu harus ikhlas, niscaya kita bisa segera mencapai infinitum," ujarnya.

Kepada dosen Fakultas Filsafat UGM Heri Santoso medio 2005, Pak Damar pernah berkomentar tentang produktivitas Prof Mubyarto dalam menelurkan karya-karya imliah.

Awalnya, kepada Pak Damar, Heri menyampaikan kekaguman atas produktivitas Prof Muby, sapaan Mubyarto, yang pada tahun 2004-2005 bisa menulis belasan buku.

"Namun ketika kekaguman itu saya sampaikan kepada Pak Damardjati, beliau justru agak terdiam," kata Heri seperti diceritakan kepada Tarli.

Tak dinyana, Pak Damar malah berujar, "Saya, malah justru agak khawatir dengan Pak Muby." Kontan Heri penasaran dan bertanya , "Ada apa Pak?"

Dalam ajaran orang Jawa, kata Pak Damar, ada pelajaran bahwa bila lampu senthir (lampu minyak) hampir mati, biasanya byar-byar-byar (terang sekali), setelah itu pet (mati).

"Jadi, saya malah mengkhawatirkan kondisi Pak Muby," terang Pak Damar serius.

Satu minggu kemudian, warga Bulaksumur dikejutkan oleh berita duka berpulangnya Prof Mubyarto, sang begawan penggagas Ekonomi Pancasila itu. "Penglihatan Pak Damar memang tajam," kata Heri. [mtf]

Topik berita Terkait:
  1. Berita Duka
  2. UGM
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini