Kedekatan Kartini dengan Istri Pejabat Belanda Dipamerkan Museum Nasional
Merdeka.com - Raden Ajeng Kartini bertemu pertama kali dengan istri Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia-Belanda (Indonesia) Rosa Manuela Abendanon-Mandri, pada tahun 1900. Pertemuan tersebut melahirkan hubungan pertemanan baik keduanya.
Terbukti karya buku berisi kumpulan surat-surat Kartini yang dibuat oleh Rosa Manuela. Surat beserta sejumlah karya dari para tokoh nasional tersebut dipamerkan di Museum Nasional Jakarta bertema 'Surat Pendiri Bangsa' yang diselenggarakan Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbud, Monumen Nasional, dan Historia, Rabu (14/11).
Kemendikbud menggelar pameran koleksi karya-karya tokoh nasional untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November lalu.
Rosa melihat Kartini adalah seorang yang memiliki rasa ingin tahu yang besar dan selalu bersemangat mencari hal baru.
Kartini dikenal rajin menulis baik dalam bentuk surat pribadi maupun artikel, salah satuartikelnya yang berjudul 'Handschrift Jepara' dimuat untuk pedoman batik dalam buku DeBatik-kunst in Nederlandsch indie en hare Geschiedenis.
Kumpulan-kumpulan surat Kartini dalam buku Door Duisternis tot Litch (Habis gelap terbitlah terang) berisikan surat-surat Kartini untuk teman-temannya di negeri Belanda. Buku itu dibuat oleh karib-nya Ny. Abendanon yang diterbitkan tahun 1911.
Beberapa surat kepada Ny. Abendanon pada tahun 1903 terdapat di pameran surat pendiri bangsa itu. Salah satunya, tulisan Kartini soal rencana pernikahannya dengan Djojoadhiningrat yang ketika itu merupakan Bupati Rembang.
Lewat guratan tangannya, Kartini begitu memuji sosok tunangannya sebagai pribadi cerdas dan menyenangkan.
"Dia seseorang yang begitu, begitu baik dengan hati emas dan otak yang sangat encer. Saya sangat beruntung bahwa saya bisa kerja sama dengan dia untuk mewujudkan cita-cita saya," tulis Kartini.
Ada pula curhatan Kartini kepada karibnya, Ny Abendanon satu tahun setelah pernikahannya yakni tahun 1904. Kartini menyebut anaknya begitu gembira atas hadiah yang dikirim Abendanon.
"Tulisanmu yang manis dan kiriman darimu, seharus cepat mendapat balasab dariku. Tetapi sekarang, dengan melihat hidup baruku, aku berharap bahwa kmu memaafkanku karena baru menuliskannya sekarang," tulisnya.
"Mereka begitu senang dengan hadiahmu yang begitu indah dan berguna," lanjut tulisnya.
Tak lama surat itu dibuat, empat bulan kemudian Kartini meninggal pada 17 September 1904. Perannya sebagai seorang istri tak lama dijalani, dia meninggal tak lama setelah melahirkan anak pertamanya.
Setelah Karitni meninggal, perjuangan untuk menyediakan pendidikan bagi perempuan dilanjutkan teman-temannya di Belanda. Mereka membentuk Komite Sementara pada tahun 1911, dan dua tahun kemudian mendirikan cabang di semarang dengan nama perkumpulan Kartini.
(mdk/rhm)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya