Kasus Warga Jember Ambil Paksa Jenazah Korban Covid-19, Ini Penjelasan Rumah Sakit

Jumat, 11 Juni 2021 20:14 Reporter : Muhammad Permana
Kasus Warga Jember Ambil Paksa Jenazah Korban Covid-19, Ini Penjelasan Rumah Sakit Warga jemput paksa jenazah di RSD Kalisat Jember. ©2021 Merdeka.com/Muhammad Permana

Merdeka.com - Kasus ramai perselisihan warga dengan pihak medis di Jember terus menggelinding. Pihak medis sampai sekarang tetap memvonis Kepala Dusun Suren Lombung, Desa Suren, Kecamatan Ledokombo terjangkit virus Covid-19. Meski yang bersangkutan melalui keterangan keluarganya telah divaksinasi.

Dirut RSU Kalisat dr. Kunin menegaskan, terkait vaksinasi Covid-19 yang gencar dilakukan pemerintah, merupakan upaya untuk pencegahan tertularnya virus Covid-19.

"Menurut keterangan keluarga pasien sudah dua kali vaksin, tapi vaksin itu tidak kemudian mencegah masuknya virus covid-19. Apalagi saat ini muncul varian baru, sehingga tidak bisa kemudian menjamin setelah vaksin, tidak tertular," kata Kunin saat dikonfirmasi di RSD Kalisat, Jumat (11/6).

Kunin menjelaskan, setelah dilakukan vaksinasi Covid-19, risiko tertular memang kecil. Namun risiko untuk menderita sakit akibat virus Covid-19 juga masih bisa terjadi. Sehingga yang bersangkutan tidak menutup kemungkinan tetap terjangkit karena daya tahan tubuhnya lemah.

Menurutnya, adanya keterangan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dari hasil swab tes antigen sebelum dirujuk ke RS dr. Soebandi. Pemidahan tersebut untuk penanganan lebih intensif.

"Awal itu pasien datang ke rumah sakit karena jatuh, kemudian dilakukan berbagai pemeriksaan, keluarnya hasil pemeriksaan penyakit jantung, kemudian butuh rujukan ke RS Soebandi," katanya.

Dia melanjutkan, terkait prosedur rujukan di RS Soebandi harus dilampiri dengan hasil swab tes antigen. Sehingga cepat ditangani, dan tidak perlu lagi diperiksa swab ulang. Pada saat itu hasilnya tes yang bersangkutan keluar positif, dan harus mendapat penanganan yang sesuai prosedur Covid-19.

"Sehingga dengan keluar hasil positif, dipastikan pasien terkonfirmasi virus Covid-19 itu," katanya.

Namun ketika yang bersangkutan akan dibawa ke RS Soebandi, pasien telah meninggal. Sehingga karena terkonfirmasi positif ini, dilakukan pemulangan jenazah dengan protokol Covid-19. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan supaya tidak menular ke warga.

"Pasien masuk rumah sakit jam 2 dini hari, dan meninggalnya jam 8 pagi," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, aksi penolakan terhadap hasil tes kesehatan Covid-19 masih berlanjut di Jember. Diduga karena tidak percaya kerabat atau tetangganya meninggal karena Covid-19, ratusan warga asal Dusun Suren Lombung, Desa Suren, Kecamatan Ledokombo, beramai-ramai mendatangi Rumah Sakit Daerah (RSD) Kalisat, Jember.

Mereka nekat hendak menjemput paksa jenazah kepala dusun (kasun) yang meninggal dan dikonfirmasi positif Covid-19 oleh pihak rumah sakit. Warga menolak hasil medis pihak rumah sakit yang menyatakan kerabatnya itu meninggal karena virus Corona.

"Itu di Covid-kan. Pak Kasun, kata saudaranya, meninggal karena kecelakaann biasa. Dia terjatuh dari kamar mandi, karena tidak sadar dibawa ke rumah sakit Kalisat ini biar diobati," kata Pardi, salah seorang warga setempat, Jumat (11/6) siang.

Pardi mengatakan, warga protes kepada rumah sakit, karena dari hasil pemeriksaan medis menunjukkan hasil swab tes positif Covid-19. Pihak keluarga tidak terima dan bermaksud membawa paksa jenazah untuk dikebumikan dengan cara layak.

"Keluarga tidak terima dikatakan Covid, awal masuk karena habis jatuh dari kamar mandi, kenapa dibilang meninggal karena Covid. Jadi kita datang ke sini, untuk bawa paksa pulang dan dimakamkan dengan layak," ujar dia. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini