Jokowi evaluasi Bank Wakaf Mikro, dari ribuan pesantren baru ada di 33 titik
Merdeka.com - Presiden RI, Joko Widodo berjanji akan mengevaluasi program kerjanya untuk pesantren selama menjabat dalam lima tahun terakhir. Salah satunya adalah Bank Wakaf Mikro (BWM) dan Balai Latihan Kerja (BLK) Pesantren.
Hal itu ia sampaikan di hadapan ribuan santri yang memadati Lapangan Gasibu, Kota Bandung saat acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN).
Dia mengatakan, bahwa program BWM adalah program baru yang sudah berjalan di 33 titik pondok pesantren. "Memang baru 33, sementara ada ribuan pesantren yang ada di Indonesia," katanya.
Sedangkan untuk Balai Latihan Kerja tahun depan dijanjikan akan ditambah di seribu titik pesantren. Fokus keterampilan yang akan diberikan diserahkan sepenuhnya kepada pengurus pesantren.
"Apakah diisi dengan yang berkaitan desain atau garmen. Tahun depan, akan ditingkatkan jadi seribu lebih. Sehingga pembangunan SDM di pesantren akan meningkat," terangnya.
"Kita akan selalu evaluasi, apakah Bank Wakaf Mikro berguna, balai pelatihan berguna. Kalau berguna akan diperluas sebanyak banyaknya," lanjutnya.
Menurutnya, peningkatan kemampuan SDM sangat penting dilakukan mengingat kompetisi antar negara saat ini sangat ketat. Santri dalam hal ini pun harus ikut berkompetisi agar bisa terus melanjutkan kontribusi para pendahulunya.
Pasalnya, sejarah mencatat bahwa perjuangan bangsa Indonesia bisa merdeka pun tidak terlepas dark peran santri dan semua unsur dalam pesantren.
"Kita ini membutuhkan sdm yang berakhlakul karimah dan memiliki skill yang baik. Harus berjalan beriringan. Sehingga kompetisi bisa dilakukan,"imbuhnya.
"Selamat hari santri," tutupnya.
Sementara itu, Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin, menyatakan santri harus menjadi pioner perdamaian. Pasalnya, di masa pesta demokrasi, banyak potensi yang bisa membuat perpecahan antar bangsa.
"Santri ini sebagai pioner perdamaian yang berorientasi pada spirit moderasi beragama di Indonesia," katanya di lokasi yang sama.
Lukman mengatakan, potensi perpecahan bisa disebabkan banyak hal, salah satunya berita bohong (hoaks). Oknum penyebar berita bohong ini akan mengolah perbedaan pandangan agar saling membenci.
Selain itu, seluruh santri harus berhati-hati dengan propaganda kekerasan. Peran santri harus bisa menjadi penengah dan pemersatu demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Lukman, dalam upaya menghilangkan benih-benih perpecahan tersebut, santri harus menjadi garda terdepan dalam menebarkan nafas perdamaian.
"Karenanya para santri semestinya makin kuat bersuara dan aktif memberi teladan perdamaian di era yang gampang gerak ini. Mari tebarkan kedamaian di mana pun kapanpun dan pada siapapun," kata dia.
Ia menjelaskan, HSN telah ditetapkan tiga tahun lalu melalui Keputusan Presiden nomor 22 tahun 2016. HSN ini bukan hanya sebatas penetapan atau pengakuan semata, namun langkah agar pondok pesantren menjadi basis kemajuan pengetahuan agama maupun kualitas sumber daya manusia.
"Hari santri menjadi prasastri bagi kita semua untuk menegaskan bahwa bernegara sama pentingnya dengan beragama," kata dia.
Menag yang berafiliasi dengan Kemenko PMK ini-pun mengajak kepada seluruh santri untuk tidak melupakan jasa ulama saat masa penjajahan dulu. Peran ulama maupun kyai telah banyak memberikan kontribusi terutama mengawinkan agama dan bernegara dalam satu koridor yang sama.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan yakni dengan memupus segala bentuk perpecahan akibat perbedaan pandangan politik, meminimalisir informasi bohong, serta membantu saudara se tanah air yang dilanda bencana.
"Kecintaan pada agama dan kecintaan pada negara marilah dibuktikan dengan menyatukan kembali saudara saudari kita yang terbelah karena berbeda pilihan," kata dia.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya