Polemik terkait mobil Esemka yang pernah dipopulerkan Joko Widodo (Jokowi) saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo, kini kembali bergulir.
Seorang warga Solo bahkan menggugat wanprestasi Presiden RI ke-7 itu karena dianggap gagal berproduksi. Terlebih pabrik mobil produksi anak bangsa di Boyolali itu sekarang sudah tidak beroperasi.
Banyak tudingan mengarah ke mantan Gubernur DKI Jakarta atas gagalnya produksi mobil Esemka. Terlebih pabrik mobil tersebut diresmikan Jokowi beberapa tahun lalu saat menjabat sebagai Presiden RI. Jokowi pun ogah menerima tudingan itu.
"Ya itu pabriknya siapa, itu kan swasta kan. Sebetulnya kita sebagai wali kota itu hanya mendorong hasil karya anak anak SMK dengan teknisi teknisi yang di bidang otomotif. Kita mendorong, kita mengajak untuk uji emisi. Itu yang harus dilakukan oleh pemerintah," ujar Jokowi di Solo, Jumat (11/4).
Namun setelah itu, lanjut dia, masih harus menunggu masuknya investor.
"Setelah itu apakah ada yang ingin berinvestasi di situ atau tidak, itu sudah persoalan yang lain. Kita pun juga mendorong agar ada investor yang mau berinvest di situ. Tapi investor di bidang otomotif kan saingannya enggak mudah," tukasnya.
Lanjut Jokowi, dengan principal principal yang sudah lama, harga yang kompetitif, serta layanan purna yang juga di semua layanan bengkel ada.
"Kompleks sekali, bukan hanya membuat, tapi harus juga bisa memasarkan. Dan itu adalah urusan swasta. Urusan pemerintah mendorong apapun produk yang dihasilkan oleh rakyat. Kita harus didorong untuk bisa ada investornya. Ada yang mau berinvest di situ," tandasnya.
Disinggung perkembangan Esemka saat ini, Jokowi mengaku tidak banyak tahu.
"Ya itu sudah di wilayah sektor swasta. Masak kita ngikuti setiap perkembangan ya. Masalah produksi, masalah marketing, masalah laku dan tidak laku kan memang harus menjadi urusan perusahaan itu," terangnya.
Saat disinggung banyaknya masyarakat yang menunggu produksi Esemka, Jokowi mengaku akan lebih senang jika pabrik di Simo Boyolali itu bisa berproduksi lebih banyak.
"Ya kalau bisa produksi lebih banyak kan lebih baik. Menyerap tenaga kerja, memberikan kesempatan kerja, itu sparepart dan lainnya menyangkut produk produk lokal kan bagus. Tapi sekali lagi bersaing di dunia bisnis tidak mudah. Bersaing di dunia otomotif juga tidsk gmpang. Banyak yang sudah membuktikan. Merek merek dari Eropa aja di kita banyak yang tutup. Dan juga Negara Negara lain yang tidak bisa saya sebut," pungkasnya.
Advertisement