Tim Pengabdian Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta baru-baru ini menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemandirian usaha. Mereka menyerahkan bantuan alat produksi kepada kelompok penjahit perempuan disabilitas Avta Kebaya di Kabupaten Sleman. Inisiatif ini merupakan bagian penting dari upaya pemberdayaan ekonomi komunitas.
Penyerahan alat produksi ini meliputi mesin jahit kaos dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya. Langkah strategis ini dilakukan setelah kelompok Avta Kebaya menerima program pendampingan intensif dari ISI Yogyakarta. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas dan variasi produk yang dihasilkan.
Kepala Pusat Inovasi dan Penerbitan LPPM ISI Yogyakarta, Riza Septriani Dewi, menjelaskan bahwa dukungan ini krusial. Peralatan tersebut memungkinkan Avta Kebaya memperluas jangkauan produk mereka. Program ini juga memastikan keberlanjutan usaha melalui penguatan sarana kerja.
Advertisement
Advertisement
Memperkuat Kapasitas Produksi dan Inovasi
Penyerahan alat produksi ini menjadi tahap krusial setelah serangkaian pendampingan. Bantuan berupa mesin jahit kaos dan perlengkapan produksi lainnya diberikan kepada Avta Kebaya. Peralatan ini diharapkan dapat memperluas variasi produk yang ditawarkan.
Riza Septriani Dewi menegaskan bahwa dukungan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025. Program tersebut tidak hanya berfokus pada pelatihan semata. Namun, juga memastikan keberlanjutan usaha melalui penguatan sarana kerja yang memadai.
Dengan identitas usaha yang mulai dirumuskan, keterampilan promosi digital yang dibangun, serta fasilitas produksi yang tersedia, Avta Kebaya diharapkan tumbuh. Kelompok ini diproyeksikan menjadi merek fesyen berbasis komunitas perempuan disabilitas yang mandiri. Mereka juga diharapkan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Perguruan Tinggi untuk Pemberdayaan Komunitas
Program pengabdian ini menegaskan peran penting perguruan tinggi seni dalam masyarakat. Kontribusi ISI Yogyakarta tidak hanya terbatas pada ranah akademik. Namun, juga pada keberpihakan nyata kepada kelompok yang membutuhkan.
Kelompok disabilitas seringkali memerlukan akses lebih besar ke pengetahuan, kreativitas, dan teknologi. ISI Yogyakarta berupaya menyediakan modal tersebut untuk pengembangan usaha. Ini mencerminkan komitmen institusi terhadap pemberdayaan sosial.
Ketua tim pelaksana, Amar Leina Chindany, menyatakan bahwa bantuan ini lebih dari sekadar dukungan teknis. Ini adalah penegasan bahwa Avta Kebaya memiliki kapasitas untuk mengelola usahanya secara mandiri. Program ini dirancang agar tidak hanya berakhir pada pelatihan.
Advertisement
Amar Leina Chindany menambahkan, "Sejak awal kami tidak ingin program hanya berakhir pada pelatihan. Penyerahan alat itu merupakan langkah penting agar pengetahuan yang telah diterima dapat dipraktikkan dan dikembangkan." Ini menunjukkan visi jangka panjang dari program tersebut.
Advertisement
Antusiasme dan Harapan untuk Masa Depan
Anggota tim Pengabdian ISI Yogyakarta, Amanda Amalia Faustine Gittawati, memastikan pendampingan akan terus berlanjut. Meskipun alat produksi telah diserahkan, dukungan tidak akan berhenti. Tujuannya adalah mendorong keberanian bereksperimen dan mengembangkan desain baru.
Amanda Amalia Faustine Gittawati menjelaskan, "Yang kami dorong bukan hanya penggunaan alat, tetapi keberanian untuk bereksperimen dan mengembangkan desain baru. Alat ini hanya sarana, sedangkan tujuan akhirnya adalah kemandirian." Ini menekankan pentingnya inovasi.
Ketua Avta Kebaya, Sumrah, menyambut antusias fasilitas baru yang mereka miliki. Dengan alat tersebut, kelompok kini bisa mencoba teknik yang sebelumnya tidak bisa dilakukan. Ini adalah langkah penting untuk meningkatkan kualitas dan jenis produk mereka.
Advertisement
Mahasiswa pendamping, Ayunda, terkesan dengan respons peserta terhadap penyerahan alat produksi. Ia merasakan adanya rasa percaya diri yang tumbuh nyata di kalangan anggota Avta Kebaya. "Yang paling terasa bukan suasana seremonialnya, tetapi reaksi mereka ketika menyadari bahwa alat ini benar-benar akan mereka kelola sendiri. Ada rasa percaya yang tumbuh dengan sangat nyata," ungkap Ayunda.
Sumber: AntaraNews