Pemprov DKI Jakarta akan merobohkan bangunan Blok G Pasar Tanah Abang dalam waktu dekat. Perobohan terpaksa dilakukan karena kondisi bangunan buatan tahun 1987 ini sudah tak layak lagi.
Setelah dirobohkan, di lokasi yang sama akan dibangun gedung baru Blok G. Pada pembangunan nantinya, sekaligus disediakan skybridge atau jembatan penghubung sebagai bagian dari konsep Transit Oriented Development (TOD).
Selama proses perobohan, pedagang akan direlokasi ke sebuah lahan penampungan sementara. Rencananya, lahan yang akan dipilih milik pimpinan DPRD DKI Jakarta, Abraham Lunggana alias Haji Lulung.
"Salah satu opsi memang milik Pak Haji Lulung, tapi nanti lihat opsi lain yang terbaik yang mana atau malah dua-duanya," kata Sandi di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (2/1).
Nantinya, lahan itu akan disewa Pemprov DKI Jakarta. Namun seperti apa konsepnya nanti, Sandi belum bisa bicara banyak.
"Saya pikir sih sewa yah, karena kita sudah punya tanah-tanah tersebut yang lain yang nanti akan kita jadinya TOD di dalam," katanya.
merdeka.com coba menelusuri keberadaan lahan yang jadi tempat penampungan sementara untuk pedagang Pasar Tanah Abang. Sebuah lahan ukuran cukup besar terlihat di kawasan Pasar Tanah Abang.
Lahan tersebut ada di belakang posko Pemuda Panca Marga Tanah Abang yang di hijau. Lokasi tepatnya di Jalan Jatibaru, Pasar Tanah Abang.
Dari Blok G, lahan ini berjarak kurang lebih 1 kilo bila ditempuh dengan berjalan kaki. Cukup luas, meskipun tampaknya tak cukup menampung ratusan kios pedagang.
Saat ini, lahan tersebut digunakan untuk parkir kendaraan pengunjung dan pedagang. Di salah satu sudut lahan, terlihat ada beberapa pedagang yang sudah mendirikan kios dagang. Mayoritas mereka menjual pakaian, meski untuk keberadaan pembeli bisa dipastikan sangat sepi.
Seorang pedagang menceritakan membenarkan tanah yang dia tempati milik Haji Lulung. Selama berdagang di sana, dia mengaku membayar sewa namun tak menjelaskan secara rinci besarannya dan pada siapa dia membayarkan.
Mereka juga tak merinci berasal dari blok mana. "Iya benar (lahan Haji Lulung)," kata pedagang yang tak mau disebutkan namanya itu.
Pedagang tersebut tak banyak bicara. Dia hanya mengungkapkan tugasnya hanya berdagang dan menyetor ke salah seorang yang tak mau dia sebutkan. Namun dirinya membenarkan bahwa biaya sewa itu mengalir ke pemilik lahan.
"Kan ada yang narikin, kita di sini cuma nyetor bos. Perbulan, dicicil tiap hari," singkatnya.
Secara fisik, kondisi tanah cukup baik meski belum diaspal. Para petugas Satpol PP dan Dishub juga mengawasi lahan ini.
Advertisement