Laporan dari Arab Saudi

Ihsan Faisal: Kami Senang Ketika Jemaah Bisa Tertidur dengan Lelap

Senin, 8 Agustus 2022 08:23 Reporter : Lia Harahap
Ihsan Faisal: Kami Senang Ketika Jemaah Bisa Tertidur dengan Lelap kepala seksi akomodasi Daerah Kerja Madinah Ihsan Faisal. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Kursi kerjanya jarang terisi. Bukan berarti tidak ada kerjaan menanti. Kesibukan di lapangan justru tak pernah berhenti. Mengharuskan kehadirannya sejak pagi hingga dini hari.

Tugas dibebankan padanya memang tak sederhana. Menyediakan tempat layak untuk para tamu Allah melepas penat. Meskipun sadar jauh dari sempurna. Tetapi pantang untuk patah semangat.

Sebisa mungkin dia pastikan jemaah terlelap dengan nyaman. Berfokus pada beribadah. Tak perlu risau karena hunian. Biar menjadi tugasnya sebagai amanah.

Sudah sejak 2015, Ihsan Faisal turun tangan mengurus hunian jemaah haji selama di Tanah Suci. Setiap tahunnya, selalu ada tantangan tersendiri. Dia jadikan itu sebagai motivasi. Terpenting baginya, seluruh jemaah bisa tidur nyenyak hingga bermimpi.

"Artinya kita bersyukur apa yang kita ikhtiarkan direspons jemaah dengan baik. Alhamdulillah jika mereka juga bisa tidur nyenyak," kata kepala seksi akomodasi Daerah Kerja Madinah itu saat berbincang dengan tim Media Center Haji (MCH) 2022.

Ihsan berbagi cerita. Sekelumit persiapan dan kerumitan mempersiapkan penginapan jemaah selama di Madinah.

Meski Madinah dan Makkah sama-sama berada di Tanah Suci. Dan menjadi tujuan jemaah haji. Banyak aturan diterapkan berbeda. Tentu hal ini perlu diatasi dengan strategi. Agar tak mengganggu jalannya aktivitas jemaah haji.

Berikut ini wawancara lengkap dengan Ihsan Faisal tentang strategi jitu atur penempatan jemaah dan segala kerumitannya selama di sembilan hari di Madinah:

Bagaimana kerja tim akomodasi Madinah mempersiapkan penginapan jemaah tahun ini?

Untuk akomodasi di Madinah, kita terbagi pada dua gelombang. Gelombang satu dan gelombang dua. Gelombang satu sering diistilahkan gelombang kedatangan prahaji atau pra-Armina (Arafah, Muzdalifah dan Mina). Di mana ketika jemaah dari Tanah Air landing di Madinah, lalu menginap di Madinah selama lebih kurang delapan-sembilan hari untuk melaksanakan Salat Arbain 40 waktu salat.

Yang kedua, ada gelombang kedua pasca-Armina. Ketika para jemaah yang diberangkatkan dari Kota Makkah setelah hajian kemudian berangkat ke Madinah. Lalu menetap di Madinah sampai jelang kepulangan, delapan sampai sembilan hari atau laksanakan Salat Arbain.

Mekanisme penempatannya, kita menetapkan sistem full musim dan blocking time. Full musim itu kita menyewa hotel di Madinah secara full, maksudnya gelombang satu dari awal kedatangan dalam hitungan tanggalnya itu 1 Dzulqa'dah sampai akhir gelombang satu ada tanggal 28 Dzulqa'dah.

Kemudian gelombang kedua, tanggal 22 Dzulhijjah sampai hari terakhir keberangkatan jemaah ke Tanah Air, tanggal 16 Muharram. Itu sistem full musim yang kita pakai. Selama itu, akomodasi atau hotel itu ditempati oleh jemaah Indonesia semua.

Kedua sistem blocking time. Artinya, untuk beberapa hari kita booking hotel tersebut. Pada saat kita tinggal di hotel tersebut mungkin tidak hanya jemaah Indonesia saja yang menetap di hotel, mungkin ada jemaah-jemaah lain. Itu bedanya.

Kenapa harus ada sistem penginapan blocking time?

Penempatan jemaah di Madinah sebetulnya sangat-sangat berdasarkan jadwal penerbangan jemaah. Ketika kita memakai sistem full musim, misal hari pertama kedatangan jemaah sampai hari ketujuh atau delapan, kapasitas hotel yang kita miliki secara fungsi sudah penuh. Kemudian akan datang jemaah hari sembilan, sepuluh dan seterusnya.

Ketika hotel full musim itu sudah penuh, padahal kita masih butuh kapasitas, maka itulah kita menggunakan mekanisme blocking time.

Secara pemilihan, apakah ada perbedaan antara hotel full musim dan blocking time?

Secara prinsip kita mendasari penggunaan hotel di Madinah ini berdasarkan pada mekanisme penyediaan. Kalau dari sisi penyediaan, kita memiliki syarat atau pedoman. Di antaranya aspek jarak, wilayah, kemudian aspek fasilitas, aspek harga dan aspek akses dari distribusi katering.

Pada saat blocking time, bisa jadi penempatan jemaah bisa jadi pada hotel-hotel bintang lima, karena sistem penempatannya pada masa blocking time. Maka kita atau pihak Majmuah (asosiasi pengelola hotel) sebagai pihak bekerja sama dengan kita, bisa menempatkan jemaah-jemaah kita seperti pada gelombang satu kemarin ada di hotel bintang lima seperti Pullman Zamzam walaupun tidak banyak sekitar 4 kloter. Itu perbedaanya.

Hotel dipakai ini pernah disewa tahun sebelumnya? Atau memang sudah paketan ditawarkan oleh Majmuah?

Dalam penyediaan hotel jemaah, kita laksanakan sistem penyewaan dengan pihak Majmuah yakni asosiasi penyedia hotel yang merupakan badan resmi di Madinah terkait perhotelan. Pihak Majmuah ini ada kalanya pihak investor ada juga pemilik. Tapi tidak banyak.

Para majmuah biasanya ini telah sewa hotel di wilayah Markaziyah ini dalam rentang waktu lama, bisa puluhan tahun. Sehingga semua manajemen di bawah manajemen mereka.

Lalu kita melaksanakan penyediaan itu sesuai aspek-aspek tadi. Tidak asal-asalan, kita tentu sangat patuh aturan dan ketentuan berlaku.

Misalkan jarak dan wilayah hotel dalam otorita di wilayah markaziyah, tidak di luarnya. Jarak 500 - 550 meter. Sehinga jemaah bisa berjalan kaki.

Ada juga aspek fasilitas sangat menjadi syarat buat kita. Fasilitas yang ada tidak asal-asalan juga. Aspek harga pun sama. Kalau full musim pakai hotel bintang lima, kecil kemungkinan karena pagunya terlalu besar. Dan aspek distribusi katering, karena katering ini kita dari distribusi Syarikah atau dari kita semua, maka si pihak hotel harus memberikan akses tersebut.

Secara penganggaran lebih enak urus full musim atau blocking date?

Full musim secara anggaran lebih besar, selain itu kerepotannya dalam penempatan, pelayanan dan sebagainya.

Bagaimana dengan anggaran untuk hotel blocking time?

Blocking time sebenarnya tidak akan besar kalau pada saat tanggalnya tidak peak seasson. Kalau misal jadwal kedatangan jemaah di sini saat peak seasson atau masa-masa padat kedatangan jemaah dari luar, itu harganya bisa naik jelang haji

Jadi sebenarnya, majmuah ini memiliki beberapa hotel dan kita memilih? Bisa dijelaskan mekanismenya?

Mekanismenya, mereka menyampaikan tawaran-tawaran hotel yang mereka miliki. Kita punya pedoman-pedemon. Misalkan ada satu majmuah punya hotel banyak, tapi kebanyakan di wilayah Zanubiah. Jadi di Markaziyah itu ada tiga wilayah, yakni Syimalliyah, Ghorbiyaj, dan Zanubiah.

Nah kemudian kita prioritaskan wilayah Syimalliah, karena lokasinya yang paling strategis di Markaziyah dekat dengan Masjid Nabawi. Sehingga jemaah cukup nyaman untuk pergi pulang salat.

Tahun ini persiapan haji sangat mepet. Tim akomodasi kira-kira menghabiskan berapa lama sampai kontrak?

Tahun ini untuk persiapan akomodasi sekitar dua bulan.

Jadi harus bolak-balik berapa kali ke Tanah Suci waktu persiapan kemarin?

Prinsipnya kita mobile antara Makkah-Madinah. Jika efektif, misal di Madinah bisa dalam waktu satu bulan.

Total hotel dipakai di Madinah baik gelombang satu dan dua berapa?

Total hotel 48, full musim 29 hotel, blocking time 19 hotel

Kalau di Makkah penempatan sistem zonasi, kalau di mana di Madinah kenapa tidak bisa lakukan itu?

Kalau penempatan di Madinah untuk sistem zonasi seperti Makkah, sangat tidak mudah, berat. Karena sekali lagi, penempatan di sini sangat tergantung pada jadwal penerbangan atau kedatangan.

Ketika embarkasi apapun yang datang hari ini dan ketersediaan hotel yang kebetulan available di hotel A, maka otomatis dia masuk di situ. Makanya tidak bisa menetapkan sistem zonasi, itu sangat berat.

Kedua, sistem penempatan di Madinah sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan Arbain tadi. Jadi check-in atau check-out nya itu sangat dinamis, kalau di Madinah. Kalau di Makkahkan relatif stagnan, kalau jemaah masuk, check-in ya sampai akhir, tidak ada check out sampai pelaksanaan haji beres, hanya sekali.

Rate harga hotel yang kita pakai di Madinah berapa?

Kalau dalam penyediaan kita, untuk sistem sewa atau kontrak di Madinah, tentu kita sangat ditentukan pagu anggaran.

Tapi dari yang kita laksanakan saat ini kira-kira 1.150 SAR per pax,

Satu hotel ada ketentuan berapa kamar atau bisa menampung berapa?

Misalkan 29 hotel full musim, kita bisa memakai di gelombang satu itu sampai dua kali penempatan. Di gelombang kedua juga begitu. Itu penempatan2 full musim

Apa tantangan untuk persiapan hotel di Madinah?

Penempatan di Madinah sangat unik. Misal dalam penempatan kapasitas. Kalau di Makkah, kita bisa tempatkan jemaah itu ada yang namanya istilah Taqmim dan Taqsir, jadi kita bisa ukur luasan kamar berapa, kenyamanan jemaah di kamar tersebut bisa kita tentukan saat penyediaan.

Misal hotel di Makkah ada 2.000 bed, dengan Taqmim Taqsir itu bisa jadi kita menyewa dengan kapasitas 1.700 atau 1.800 karena untuk kenyamanan.

Ketika di Madinah, sistem taqmim dan taqsir itu sulit diterapkan. Karena penempatan hotel di madinah berdasarkan tasreh. Tasreh itu izin operasional hotel dari lembaga Lazana Iskan di bawah kementerian dalam negeri Madinah.

Misalkan dalam tasrih tersebut ada 2.000 bed, kita menyewa dengan kapasitas 2.000 kali berapa harganya per pax atau per person. Saat penempatan kita bisa menempatkan sebanyak itu. Kalau mau dikurangi, kata majmuah silakan, tapi bayarannya harus tetap.

Itulah bedanya penempatan jemaah di Madinah sesuai tasrih yang ada di hotel. Lagi pula, kapasitas Markaziyah itu sangat terbatas untuk Madinah ini. Beda dengan Makkah, hotel Makkah banyak sekalli, tiap tahun bermunculan. Kalau di Madinah itu segitu-gitunya

Hotel yang dipakai sekarang sudah pernah dipakai sebelumnya?

Mayoritas pernah kita pakai sebelumnya, walaupun majmuahnya tahun ini berbeda, bangunanya sama, hanya berbeda majmuah berbeda nama

Penempatan jemaah harus sesuai jumlah tasreh akhirnya membuat jemaah satu kloter terpisah hotel?

Betul, penempatan sampai di dua hotel, bahkan 3 hotel. Itu tidak bisa dihindari. Kenapa, karena rata-rata hotel di Madinah tidak linier dengan jumlah kloter

Berapa ukuran ideal kamar atau bed satu kamar?

Kalau di Madinah, aturan di mana pun, satu kamar paling banyak 6 bed, itupun tentu disesuaikan dengan kapasitas tasreh hotel di madinah. Satu hotel berapa orang isinya, punya berapa lantai, tiap lantai berapa kamar, lalu jatuhnya itu jumlah rata satu kamar. Ada empat, lima, tiga, variatif sekali sebenarnya

Jemaah gelombang kedua ada komparasi hotel di Makkah dengan di Madinah yang terlalu sempit. Evaluasinya bagaimana?

Memang salah satu upaya kita di PPIH Daker Madinah ada semacam kondisi psikis dari jemaah gelombang kedua yang sudah nyaman dengan hotel-hotel di Makkah yang hotelnya besar. Saat datang ke Madinah hotelnya tidak sama dengan Makkah. Kita informasi ke pihak Dakker Makkah untuk diteruskan ke sektor dan kloter.

Kita sampaikan apa adanya, kita edukasi pada jemaah penempatan di Madinah walaupun tidak sama dengan Makkah, tapi kita harus punya kelebihan semua ada di wilayah markaziyah. Sehingga bisa melaksanakan arbain dengan nyaman karena wilayahnya dekat dengan Nabawi.

Kita juga tingkatkan pelayanan yang ada di Madinah dalam bentuk apapun. Ketika mereka ada keluhan, kita respons dengan segera.

Evaluasi sebagai kasi untuk keseluruhan PPIH?

Evaluasi kita, tentu dalam hal penempatan jemaah kalau memang ingin kita mencapai taraf kenyamanan seperti di Makkah, kalau menurut kami dari seksi akomodasi, penempatan dengan sistem Taqmim Taqsir bisa dipakai dan itu efeknya ke masalah anggaran juga.

Tapi masukan jemaah yang muncul kita terima dan terbuka untuk perbaikan

Suka duka mengurusi tempat tinggal jemaah?

Saya dari tahun 2015. Tiap tahun di akomodasi kadang di Makkah, kadang di Madinah tapi lebih banyak di Madinah. Karena lebih kompleksnya di sini.

Suka dukanya ya kita rasakan. Tapi karena dalam rangka melayani jemaah, anggaplah duka pun menjadi suka. Kalau ada tantangan dan keluhan dari jemaah buat kita terpacu juga. Ketika jemaah ngeluh space padat, bukan berarti membiarkan, kita berusaha semaksimal mungkin. Misal persoalan lift yang standar hotel di sini begitu. Kita berikan edukasi turun sebelum waktu salat, gitu juga saat pulang jeda waktu dulu di masjid Nabawi, agar lebih lowong. Keluhan dari jemaah jadi tantangan buat kita. Yang penting setiap masalah kita hadir, masalah apapun Insya Allah kita hadapi.

Selain kamar dan lift apa lagi yang jadi keluhan jemaah?

Tempat untuk cuci, di sini tidak disediakan, tidak jadi syarat ada mesin cuci. Karena keterbatasan hotel di Madinah, musala juga tidak jadi syarat karena dianggap dekat dengan Masjid Nabawi.

Rasanya melayani jemaah haji, apalagi tugas Anda menyediakan penginapan untuk mereka?

Akomodasi memang vital dalam bab pelayanan jemaah karena sifatnya masif, banyak sekali. Saya pribadi berusaha maksimal untuk laksananakn amanah tersebut. Hasil yang muncul dari apa yang kita usahakan satu kabar baik buat kita. Misal dalam penyelenggaraan haji, ada indeks kepuasan jemaah yang dilaksanakan BPS. Alhamdulillah untuk akomodasi dari tahun ke tahun meningkat. Artinya kita bersyukur apa yang kita ikhtiarkan direspons jemaah dengan baik

Artinya sangat bersyukur bisa membuat jemaah tertidur lelap?

Ya, Alhamdulillah

[cob]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Be Smart
  3. Haji 2022
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini