Hilangkan Kebodohan, Keraton Surakarta Sesaji Kepala Kerbau

Selasa, 8 Januari 2019 00:35 Reporter : Arie Sunaryo
Hilangkan Kebodohan, Keraton Surakarta Sesaji Kepala Kerbau Keraton Surakarta Sesaji Kepala Kerbau. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar upacara sesaji Mahesa Lawung di hutan Krendowahono, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Senin (7/1) siang. Puncak upacara yang diikuti ratusan abdi dalem tersebut, ditandai dengan sesaji dan penguburan kepala kerbau, beserta keempat kaki, buntut darah dan kotoran.

Sebelum puncak acara, prosesi diawali dengan doa bersama di pendapa Pagelaran Keraton Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh ulama Keraton. Namun upacara yang berlangsung secara turun temurun itu tidak dihadiri Raja Paku Buwono ke 13,Hangabehi.

Sejumlah kerabat yang hadir adalah GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, KPH Satriyo Hadinagoro, KP Eddy Wirabhumi dan lainnya.

Setelah didoakan, kepala kerbau dan sesaji seperti makanan atau hasil bumi dibawa para abdi dalam dan sentana dalem ke Hutan Krendowahono yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Keraton Surakarta ke arah utara.

"Upacara adat Mahesa Lawung ini rutin digelar setiap tahun oleh Keraton Surakarta pada Senin atau Kamis Rabiul Akhir atau hari ke 10 di bulan Sura dalam kalender Jawa," salah satu kerabat Keraton Surakarta KPH Satriyo Hadinagoro.

Menurut dia, upacara adat nan sakral itu dimaksudkan untuk membuang kebodohan atau sifat-sifat buruk yang ada pada diri manusia yang disimbulkan dalam diri hewan kerbau. Sehingga upacara adat Mahesa Lawung dilakukan dengan cara mengubur kepala kerbau di Hutan Krendowahono.

Satriyo menjelaskan, kerbau digambarkan sebagai hewan yang bodoh. Kebodohan tersebut tergambarkan pada kepalanya, sehingga kepala kerbau harus dikubur, agar hilang kebodohan," katanya.

Satriyo menambahkan, upacara tersebut juga sebagai wujud Keraton Surakarta dalam melestarikan warisan peninggalan para leluhur atau pendahulu. Menurut Satriyo, jika upacara itu tidak digelar maka akan menyalahi hukum adat keraton.

"Keraton itu harus menganut paugeran (aturan) dan tata cara itu harus dilakukan. Karena kita sudah tidak lagi merupakan suatu negari yang punya teritorial," katanya.

Dipilihnya Hutan Krendowahono sebagai tempat menanam kepala kerbau, menurut Satriyo, karena Keraton Surakarta berada di tengah empat unsur (pancer). Di mana sebelah utara keraton Hutan Krendowahono, sebelah timur Gunung Lawu, sebelah selatan Laut Selatan dan sebelah barat Gunung Merapi. [lia]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini