Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Habibie minta kreator dan insan perfilman bikin film yang baik

Habibie minta kreator dan insan perfilman bikin film yang baik Habibie di Museum Nasional. ©2017 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie alias BJ Habibie mengatakan, tidak tertarik dengan dunia perfilman. Habibie mengaku yang membuatnya tertarik hanya teknologi.

"Saya tidak pernah tertarik dengan dunia perfilman, yang menarik saya hanya teknologi," kata Habibie dalam acara diskusi 'Film dan Sastra Indonesia: Ragam Film, Ragam Buku, dan Ragam Indonesia' di, Museum Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (25/3).

Namun, lebih lanjut Habibie mengatakan, bahwa ia kemudian sadar bahwa teknologi sebaik apa pun manusia adalah yang terpenting.

"Namun, Anda (manusia) itu lebih penting bagi Indonesia dari pada pesawat terbang saya. Manusia yang buat pesawat, manusia yang mengerti apa itu ilmu pengetahuan dan teknologi," ungkapnya.

Menurut Habibie, kunci perkembangan manusia ada di budaya. Karena itu, dalam proses pewarisan budaya kepada generasi berikut harus diberi informasi diberi informasi yang baik.

"Budaya penting. Kita harus mewariskan sesuatu kepada generasi berikut. Kita harus berikan kepada mereka infornasi yang baik," jelasnya.

Dia menambahkan, sebagai sebuah produk kebudayaan dan sebagai salah satu jalan untuk mentransfer informasi, film punya peran penting. Film harus betul menjalankan perannya dengan baik, agar informasi yang diberikan bisa membentuk masyarakat Indonesia yang berbudaya. Atas kesadaran itulah ia kemudian tertarik pada film.

Menurutnya untuk menjadi manusia yang unggul mesti ada sinergi positif antara agama, budaya, dan teknologi

"Kenapa saya tiba tertarik? Untuk menjadi unggul, harus ada sinergi positif, budaya agama, dan iptek," katanya.

Lebih jauh Habibie menjelaskan manusia yang berkembang adalah manusia yang merdeka, bebas, dan berbudaya. Sebab, jika hanya bebas dan merdeka tapi tidak berbudaya ia tidak bermanfaat bagi orang lain.

"Manusia dapat berkembang kalau merdeka dan bebas. Tapi kalau merdeka, bebas, tapi ngawur, tidak berbudaya, itu kontraproduktif," ungkapnya.

Untuk para kreator dan insan perfilman, Habibie kemudian berpesan untuk menciptakan film yang baik, orang harus tahu kualitas filmnya, biaya yang keluar untuk capai kualitas, dan produk (film) yang diciptakan harus datang pada waktunya.

"Kita harus tahu, kualitas, biayanya untuk capai kualitas, produk harus datang pada waktunya dan juga terlambat," tutupnya.

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, Ditjen kebudayaan Kementerian pendidikan dan Kebudayaan sedang berusaha untuk membawa sastra kembali ke kelas. Menurut Hilmar, tidak bisa dibayangkan proses pendidikan yang terjadi di sekolah tanpa kehadiran sastra.

"Kita tidak bisa bayangkan pendidikan tanpa sastra," ungkapnya.

Kerena itulah Ditjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah membentuk panel untuk mengumpulkan karya-karya sastra yang patut dikenal oleh anak-anak indonesia. "Kita (Ditjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) bikin panel, untuk kumpul karya yang patut dikenal oleh anak indonesia," ujar dia.

Sebab, menurutnya, dalam perkembangan dunia globalisasi seperti sekarang, ketika peredaran informasi dan budaya baru berkembang dengan sangat cepat, bangsa Indonesia tidak bisa hanya fokus untuk buat filter yang menyaring hal-hal luar yang tidak sesuai dengan karakter bangsa, tapi harus mulai kuatkan bangsa ini dari dalam.

"Kita tidak hanya tangkal apa yang datang dari luar, kita harus mukai kuatkan bangsa ini dari dalam," tutupnya.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP